"Kami terus mendorong nelayan tradisional ini menggunakan alat tangkap yang modern, teknologi dan melaut lebih jauh dalam meningkatkan hasil tangkapan ikan,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sarjulianto menyatakan 60 persen dari 35 ribu jumlah total nelayan masih menggunakan alat tangkap ikan tradisional, sehingga mereka sulit meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"Kami terus mendorong nelayan tradisional ini menggunakan alat tangkap yang modern, teknologi dan melaut lebih jauh dalam meningkatkan hasil tangkapan ikan," kata Sarjulianto di Pangkalpinang, Senin.
Menurut dia untuk menjadikan nelayan tradisional menjadi nelayan modern yang menguasai teknologi ini cukup sulit, karena alat tangkap ikan pancing, jaring dan bubu yang mereka gunakan sudah tradisi dan dilakukan secara turun temurun.
"Hasil tangkapan ikan nelayan tradisional ini masih kurang memadai dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari hingga dua hari saja," ujarnya.
Sementara itu, kata dia, sekitar 40 persen nelayan sudah menggunakan alat tangkap ikan yang lebih modern, menggunakan teknologi seperti GPS pendeteksi keberadaan ikan, alat komunikasi radio SSB dan melaut lebih jauh atau 10 hingga 15 hari sekali melaut, sehingga hasil tangkapan ikan yang diperoleh lebih banyak dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
"Kami menginginkan seluruh nelayan menggunakan teknologi dalam meningkat usaha penangkapan ikan. Jangan sampai terjadi kesenjangan sosial dan kesejahteraan di masyarakat pesisir ini," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, pihaknya terus melakukan pelatihan, pembinaan dan bantuan alat tangkap ikan yang lebih modern kepada nelayan tradisional, agar mereka dapat bersaing dalam meningkatkan hasil tangkapan ikan.
"Pembinaan sumber daya manusia dan bantuan alat tangkap ikan tahun ini difokuskan kepada nelayan tradisional, sehingga mereka lebih maju dan bersaing, apalagi akan memasuki Ekonomi Masyarakat ASEAN (MEA).
Jangan sampai nelayan hanya sebagai penonton dan pekerja di kapal-kapal asing karena tidak mampu bersaing," ujarnya.
Pewarta: AprionisEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.