Kegiatan utama dari ekspedisi adalah melihat proses terjadinya GMT dari atas kapal Pelni KM Kelud yang berhenti di Perairan Belitung.
Ekspedisi maritim diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya dengan melibatkan sejumlah lembaga negara lainnya.
Kegiatan ini diikuti lebih dari seribu peserta yang terdiri dari pelajar, jurnalis, peneliti dan tamu undangan.
Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari.
Walaupun bulan lebih kecil, bayangan bulan mampu menghalangi cahaya matahari menuju bumi sepenuhnya karena bulan yang berjarak rata-rata 384 ribu kilometer dari bumi. Pada saat yang sama, jarak bumi dan matahari rata-rata sekitar 150 juta kilometer. Artinya, jarak bumi ke bulan lebih dekat dibandingkan bumi ke matahari.
Sementara itu, gerhana matahari total (GMT) terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan bulan. Jika cahaya matahari tidak tertutup sepenuhnya maka fenomena itu disebut gerhana matahari sebagian (GMS).
Sejumlah daerah di Indonesia mengalami GMT sementara sebagiannya GMS.
Indonesia merupakan satu-satunya negara dengan daerah daratan yang dilewati gerhana fase total pada 9 Maret 2016. Terdapat kawasan di negara lain yang mengalami GMT, tetapi tidak pada daratannya terutama negara yang terletak di Samudera Pasifik.
Terdapat 11 provinsi yang dilintasi GMT yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Sementara itu, kota-kota besar yang diperkirakan dilalui GMT adalah Muko-muko (Bengkulu), Palembang, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu dan Ternate.
Pewarta: Anom PrihantoroEditor : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.