Pangkalpinang (ANTARA) - Bangka Belitung adalah rumah bagi timah. Hampir setiap orang mengenal provinsi ini karena timahnya, bukan karena sektor lain.
Sejak masa kolonial Belanda, timah telah menjadi primadona yang diburu, diperdagangkan, dan dijadikan sumber kekayaan. Hingga kini, timah masih menempati posisi penting dalam perekonomian daerah.
Namun, di balik cerita kejayaan timah, ada pula sisi lain yang penuh paradoks: kerusakan lingkungan, ketidakpastian hukum, dan masa depan yang suram.
Timah sebagai identitas dan sumber kehidupan
Timah bukan sekadar barang tambang di Bangka Belitung. Ia sudah menjadi identitas budaya dan sejarah.
Banyak warga menggantungkan hidupnya dari menambang timah, baik sebagai penambang rakyat maupun pekerja di perusahaan besar. Di desa-desa, aktivitas mendulang timah bukan hal asing. Hasil timah telah membiayai pendidikan anak-anak, membangun rumah, bahkan menghidupi banyak keluarga.
Dari sisi negara, timah adalah komoditas strategis. Permintaan global yang terus meningkat membuat harga timah relatif stabil, bahkan sering melonjak. Timah digunakan untuk berbagai kebutuhan modern, mulai dari komponen elektronik hingga energi terbarukan. Hal ini membuat Bangka Belitung punya posisi penting dalam rantai pasok dunia.
Luka lingkungan yang tak kunjung pulih
Di sisi lain, aktivitas pertimahan menyisakan dampak lingkungan yang serius. Lubang-lubang bekas tambang di daratan Bangka Belitung kini jumlahnya ribuan, banyak di antaranya ditinggalkan begitu saja tanpa reklamasi. Lahan yang dulu hijau berubah menjadi danau keruh, berbahaya bagi masyarakat.
Penambangan timah di laut juga membawa dampak langsung bagi ekosistem pesisir. Nelayan kehilangan sumber penghidupan karena laut yang keruh, terumbu karang hancur, dan ikan semakin sulit didapat. Ironisnya, banyak nelayan akhirnya terpaksa ikut menambang di laut, meski tahu aktivitas itu justru mempercepat kerusakan.
Persoalan legalitas dan keadilan
Salah satu ironi terbesar dalam pertimahan Bangka Belitung adalah soal legalitas. Banyak tambang rakyat dianggap ilegal, padahal merekalah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Sementara itu, perusahaan besar dengan izin resmi justru kerap dituding abai terhadap kewajiban reklamasi.
Kondisi ini menimbulkan ketimpangan. Masyarakat kecil sering jadi korban aturan, sementara pemilik modal besar bisa melenggang dengan mudah. Ketimpangan ini menimbulkan rasa tidak adil di tengah masyarakat. Tambang rakyat yang seharusnya bisa diatur dengan pola koperasi atau izin khusus sering kali diburu aparat, padahal mereka hanya mencari nafkah.
Ketergantungan yang berbahaya
Menurut penulis, terlalu bergantung pada timah adalah kesalahan strategis. Timah memang memberi pemasukan cepat, tapi tidak abadi. Cadangan timah akan habis suatu hari nanti, sementara dampak lingkungan sudah dirasakan sekarang. Jika tidak ada alternatif ekonomi, Bangka Belitung akan menghadapi krisis besar ketika timah tak lagi bisa diandalkan.
Sayangnya, hingga kini pemerintah daerah dan pusat terlihat gamang. Sektor pariwisata, perikanan, dan perkebunan memang dibicarakan, tetapi belum mampu menyaingi dominasi timah. Akibatnya, masyarakat tetap kembali ke tambang sebagai pilihan utama.
Jalan keluar yang harus ditempuh
Menurut saya, solusi tidak bisa lagi ditunda. Pertama, pengelolaan timah harus lebih transparan dan adil. Pemerintah harus berani menertibkan perusahaan yang abai, sekaligus memberi ruang legal bagi tambang rakyat agar mereka bisa menambang dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
Kedua, reklamasi tidak boleh hanya menjadi jargon. Setiap lubang bekas tambang harus dipulihkan, minimal agar tidak berbahaya. Pemerintah bisa bekerja sama dengan universitas atau lembaga penelitian untuk mencari model reklamasi yang sesuai dengan kondisi Bangka Belitung.
Ketiga, diversifikasi ekonomi harus dipercepat. Potensi wisata bahari yang dimiliki Bangka Belitung bisa menjadi penopang masa depan. Begitu pula sektor perikanan dan pertanian. Masyarakat perlu diberi pilihan nyata agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada timah.
Penutup
Timah telah menjadi berkah sekaligus tantangan besar bagi Bangka Belitung. Ia memberi identitas dan kesejahteraan, namun juga meninggalkan jejak kerusakan. Keberanian untuk melakukan transformasi ekonomi menjadi kunci agar provinsi ini tidak hanya dikenang karena kejayaan timah di masa lalu, melainkan juga karena keberhasilannya membangun masa depan yang berkelanjutan.
*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
