"Pengunjung akan lebih mudah mengingat jika mereka melihat langsung kilas balik kejadian, misalnya dengan film, cerita bergambar atau jika memungkinkan ada replika Soekarno, Hatta dan pejuang lainnya yang bisa bergerak dan berbicara sehingga ada kesa
Muntok, (Antara Babel) - Bupati Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Zuhri M Syazali mengungkapkan Pesanggrahan Menumbing perlu dilengkapi studio visual untuk memudahkan pengunjung belajar sejarah pengasingan Proklamator dan para pejuang kemerdekaan RI di lokasi itu.

"Pengunjung akan lebih mudah mengingat jika mereka melihat langsung kilas balik kejadian, misalnya dengan film, cerita bergambar atau jika memungkinkan ada replika Soekarno, Hatta dan pejuang lainnya yang bisa bergerak dan berbicara sehingga ada kesan nyata saat pengunjung masuk ke studio mini tersebut," katanya di Muntok, Rabu.

Ia menjelaskan, teknologi semakin berkembang dan bukan tidak mungkin berbagai kebutuhan studio visual yang bisa mempermudah pembelajaran akan tercipta melalui para kreator muda di daerah itu.

Menurut dia, pembelajaran melalui audio visual lebih mengena dan mudah dipahami pengunjung dibandingkan dengan membaca teks pada buku panduan atau buku-buku sejarah. Selain itu penyampaian dengan cerita bergambar atau replika bergerak lebih bisa dirasakan semangat yang terkandung pada peristiwa pengasingan para pejuang di Kota Muntok pada 1948.

"Kami harapkan simulasi dalam studio itu nantinya bisa ikut menumbuhkembangkan semangat kebangsaan setiap pengunjung dan memotivasi mereka semakin mencintai NKRI," kata dia.

Menurut dia, jika hal itu bisa terealisasi nantinya dipastikan setiap pengunjung yang pulang dari Menumbing mampu membayangkan setiap hari rekam jejak para pejuang saat diasingkan di lokasi itu dan penderitaan mereka dalam perjuangan kemerdekaan.

Pesanggrahan Menumbing merupakan bangunan kastil di puncak Gunung Menumbing yang memiliki ketinggian 445 meter di atas pemukaan laut dan dibangun pada masa penjajahan Belanda pada 1927. Dahulu lokasi itu dijadikan tempat peristirahatan para petinggi perusahaan timah Banka Tinwinning Bedriff (BTW).

Pada masa kemerdekaan, tepatnya pada 22 Desember 1948 hingga 7 Juli 1949 lokasi tersebut dijadikan tempat pengasingan M Hatta, Mr Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, Mr M Assa'at, Mr Ali Sastroamidjojo dan Mr M Roem.

Zuhri mengatakan, potensi yang dimiliki masyarakat Bangka Barat khususnya Kota Muntok cukup besar untuk dijadikan lokasi pendidikan karakter generasi muda, karena di kota di ujung barat Pulau Bangka tersebut selain memiliki Pesanggrahan Menumbing juga memiliki Pesanggrahan Muntok yang tidak kalah pentingnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan RI.

Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam merupakan lokasi pengasingan dan pertemuan para tokoh kemerdekaan RI pada 6 Februari 1949 sampai 9 Juli 1949, dimana Soekarno dan Agus Salim diasingkan Belanda di lokasi bangunan yang dibangun BTW pada 1827 tersebut.

Pesanggrahan tersebut menjadi lokasi diserahterimakannya Surat Kuasa Kembali Pemerintahan RI ke Yogyakarta dari Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada Juni 1949 yang disaksikan M Hatta, Mr Roem dan Ali Satroamidjojo. Surat kuasa itu dikonsep M Hatta di Pesanggrahan Menumbing dan diketik Abdul Gafar Pringgodigdo.

Di lokasi itu juga pernah menjadi tempat bersejarah lainnya, yaitu sebagai lokasi perundingan antara UNCI, BFO dan KTN pada 22 Juni 1945.

"Dengan potensi yang dimiliki Kota Muntok, kami yakin semangat 'gantungkan cita-citamu setinggi langit' yang pernah dikumandangkan Soekarno di Lapangan Gelora akan mampu memotivasi generasi muda untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negaranya untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera," kata Zuhri

Pewarta: Oleh Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026