Pangkalpinang (Antara Babel) - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Provinsi Bangka Belitung (Babel), mengajak umat kembali ke ajaran Islam untuk mewujudkan kehidupan dan perubahan Indonesia yang lebih baik.
"Saat ini, telah terjadi krisis kehidupan multidimensional yang ditandai meningkatnya kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan kemorosotan moral karena umat tidak lagi berpegang teguh kepada ajaran dan syariat Islam," kata Ketua DPD I HTI Babel, Sofiyan Rudianto, di Pangkalpinang, Rabu.
Dalam rangka peringatan isra dan mi'raj yang 1435 Hijriah, DPD I HTI Babel menyelengarakan konfrensi islam dan peradaban yang bertema Indonesia milik Allah diikuti oleh mahasiswa, ulama, tokoh masyarakat dan kader-kader HTI Bangka Belitung lainnya.
Sofiyan Rudianto mengatakan, saat ini, tingkat kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kejahatan, KKN, maksiat, aliran sesat dan lainnya semakin tinggi dan harus secepatnya ditangani dengan upaya yang baik, misalnya, melalui program bantuan langsung tunai (BLT), wajib belajar, padat karya, siskamling, pemberantasan korupsi, rehabilitas, razia dan pembinaan kepada masyarakat.
"Selama ini, yang kita rasakan merupakan akibat dari sebuah sebab yaitu kerusakan sistemik dari sistem kapitalis sekuler dan solusinya yaitu mengganti sistem tersebut dengan Islam," ujarnya.
Menurut dia, perubahan tanpa arah yang benar tidak akan memberikan kebaikan bagi umat, seperti yang selama ini terjadi, termasuk di negeri ini.
"Kami menginginkan menunjukkan arah perubahan yang semestinya yaitu menuju tegaknya Khilafah Islamiyah. Umat harus turut serta dan menjadi motor penggerak utama perubahan politik di manapun dia berada dengan berpegang teguh terhadap ajaran Islam," ujarnya.
Ia mengatakan, syariah dan khilafah bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang memiliki hubungan erat yaiitu agama sebagai pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Maka, apa saja yang tidak ada pondasinya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang.
"Menyadari arti pentingnya khilafah dan betapa vitalnya bagi harga diri Islam dan muslim, maka umat tidak akan pernah diam. Sejak keruntuhannya (Utsmani, awal abad ke-20), umat Islam terus berjuang keras untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah hingga sekarang," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, seluruh umat Islam untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan syariah dan berjuang bagi tegaknya syariah di negeri ini.
"Kami berharap umat menjadikan perjuangan penegakkan syariah ini sebagai agenda utamanya karena mengamalkan syariah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara merupakan kewajiban setiap muslim dan realisasi dari ibadah kepada Allah," ujarnya.
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2014
"Saat ini, telah terjadi krisis kehidupan multidimensional yang ditandai meningkatnya kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan kemorosotan moral karena umat tidak lagi berpegang teguh kepada ajaran dan syariat Islam," kata Ketua DPD I HTI Babel, Sofiyan Rudianto, di Pangkalpinang, Rabu.
Dalam rangka peringatan isra dan mi'raj yang 1435 Hijriah, DPD I HTI Babel menyelengarakan konfrensi islam dan peradaban yang bertema Indonesia milik Allah diikuti oleh mahasiswa, ulama, tokoh masyarakat dan kader-kader HTI Bangka Belitung lainnya.
Sofiyan Rudianto mengatakan, saat ini, tingkat kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kejahatan, KKN, maksiat, aliran sesat dan lainnya semakin tinggi dan harus secepatnya ditangani dengan upaya yang baik, misalnya, melalui program bantuan langsung tunai (BLT), wajib belajar, padat karya, siskamling, pemberantasan korupsi, rehabilitas, razia dan pembinaan kepada masyarakat.
"Selama ini, yang kita rasakan merupakan akibat dari sebuah sebab yaitu kerusakan sistemik dari sistem kapitalis sekuler dan solusinya yaitu mengganti sistem tersebut dengan Islam," ujarnya.
Menurut dia, perubahan tanpa arah yang benar tidak akan memberikan kebaikan bagi umat, seperti yang selama ini terjadi, termasuk di negeri ini.
"Kami menginginkan menunjukkan arah perubahan yang semestinya yaitu menuju tegaknya Khilafah Islamiyah. Umat harus turut serta dan menjadi motor penggerak utama perubahan politik di manapun dia berada dengan berpegang teguh terhadap ajaran Islam," ujarnya.
Ia mengatakan, syariah dan khilafah bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang memiliki hubungan erat yaiitu agama sebagai pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Maka, apa saja yang tidak ada pondasinya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang.
"Menyadari arti pentingnya khilafah dan betapa vitalnya bagi harga diri Islam dan muslim, maka umat tidak akan pernah diam. Sejak keruntuhannya (Utsmani, awal abad ke-20), umat Islam terus berjuang keras untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah hingga sekarang," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, seluruh umat Islam untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan syariah dan berjuang bagi tegaknya syariah di negeri ini.
"Kami berharap umat menjadikan perjuangan penegakkan syariah ini sebagai agenda utamanya karena mengamalkan syariah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara merupakan kewajiban setiap muslim dan realisasi dari ibadah kepada Allah," ujarnya.
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2014