Muntok (Antara Babel) - Budidaya sapi di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung berjalan sesuai harapan dan akan terus ditingkatkan untuk mempercepat terwujudnya swasembada daging di daerah itu.
"Kalau dibandingkan dengan potensi yang dimiliki untuk pengembangan peternakan khususnya ternak sapi memang belum sebanding dengan populasi yang ada, namun karena usaha ini masih tergolong baru perkembangannya sudah cukup memuaskan," ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat, Sri Mulyono Basuki di Muntok, Minggu.
Ia menjelaskan, usaha peternakan sapi di daerah itu baru dimulai pada 2006 oleh tiga kelompok peternak, namun belum berkembang sesuai yang diharapkan dan baru pada 2008 kelompok ternak bersama pemkab setempat mulai serius menggarap sektor tersebut.
"Dari 2008 sampai saat ini sudah tumbuh 15 kelompok peternak di seluruh enam kecamatan, sementara tiga kelompok yang terbentuk pada 2006 sudah tidak aktif lagi," kata dia.
Diterangkannya, sebanyak 15 kelompok peternak yang masih bertahan dan mulai menampakkan hasilnya tersebut sudah diberikan bantuan bibit sapi sebanyak 388 ekor dan jumlah tersebut terus berkembang setiap tahunnya.
Untuk populasi sapi di Bangka Barat, pada akhir 2013 terdapat sebanyak 1.130 ekor dan sampai saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 1.400 ekor, baik sapi yang ada di kelompok maupun yang dikembangkan perorangan.
"Kami yakin jumlah tersebut pada akhir tahun 2014 akan mencapai lebih dari 1.500 ekor," kata dia.
Menurut dia, potensi usaha budidaya sapi di daerah itu masih cukup terbuka mengingat masih banyaknya lahan kosong yang ditumbuhi rumput sebagai makanan utama sapi yang mash terbengkalai begitu saja, selain lahan kebun sawit yang didalamnya banyak terdapat makanan ternak selain rumput.
"Untuk pengembangan sapi pola intergrasi sapi-sawit juga masih terbuka lebar, namun selama ini masih kurang maksimal seiring masih rendahnya kemauan pemilik kebun sawit dalam membantu masyarakat, terutama para kelompok ternak yang ada di sekitar perkebunan," kata dia.
Ia menjelaskan, dari sisi peluang usaha, ternak sapi cukup potensial untuk membantu menyejahterakan warga, baik dari sisi pengolahan kotoran ternak maupun penjualan daging.
"Dari kotoran ternak yang dihasilkan, saat ini harga jual kompos dari kotoran ternak sekitar Rp20.000 per kantong kecil, bahkan urine sapi juga laku dijual untuk pupuk daun, dari usaha itu saja sudah cukup menyejahterakan peternak," kaat dia.
Dia menambahkan, jika dari kebutuhan daging untuk konsumsi masyarakat di daerah itu rata-rata setiap hari membutuhkan tiga hingga empat ekor sapi dan selama ini bergantung sepenuhnya dari pasokan luar daerah.
"Sampai saat ini kami belm mengizinkan kelompok ternak menjual ternaknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, kami masih fokus pada pengembangan populasi, nanti kalau populasi sudah mencapai lebih dari 3.000 ekor baru bisa dipertimbangkan lagi untuk menjual sapi untuk konsumsi," kata dia.
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2014
"Kalau dibandingkan dengan potensi yang dimiliki untuk pengembangan peternakan khususnya ternak sapi memang belum sebanding dengan populasi yang ada, namun karena usaha ini masih tergolong baru perkembangannya sudah cukup memuaskan," ujar Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat, Sri Mulyono Basuki di Muntok, Minggu.
Ia menjelaskan, usaha peternakan sapi di daerah itu baru dimulai pada 2006 oleh tiga kelompok peternak, namun belum berkembang sesuai yang diharapkan dan baru pada 2008 kelompok ternak bersama pemkab setempat mulai serius menggarap sektor tersebut.
"Dari 2008 sampai saat ini sudah tumbuh 15 kelompok peternak di seluruh enam kecamatan, sementara tiga kelompok yang terbentuk pada 2006 sudah tidak aktif lagi," kata dia.
Diterangkannya, sebanyak 15 kelompok peternak yang masih bertahan dan mulai menampakkan hasilnya tersebut sudah diberikan bantuan bibit sapi sebanyak 388 ekor dan jumlah tersebut terus berkembang setiap tahunnya.
Untuk populasi sapi di Bangka Barat, pada akhir 2013 terdapat sebanyak 1.130 ekor dan sampai saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 1.400 ekor, baik sapi yang ada di kelompok maupun yang dikembangkan perorangan.
"Kami yakin jumlah tersebut pada akhir tahun 2014 akan mencapai lebih dari 1.500 ekor," kata dia.
Menurut dia, potensi usaha budidaya sapi di daerah itu masih cukup terbuka mengingat masih banyaknya lahan kosong yang ditumbuhi rumput sebagai makanan utama sapi yang mash terbengkalai begitu saja, selain lahan kebun sawit yang didalamnya banyak terdapat makanan ternak selain rumput.
"Untuk pengembangan sapi pola intergrasi sapi-sawit juga masih terbuka lebar, namun selama ini masih kurang maksimal seiring masih rendahnya kemauan pemilik kebun sawit dalam membantu masyarakat, terutama para kelompok ternak yang ada di sekitar perkebunan," kata dia.
Ia menjelaskan, dari sisi peluang usaha, ternak sapi cukup potensial untuk membantu menyejahterakan warga, baik dari sisi pengolahan kotoran ternak maupun penjualan daging.
"Dari kotoran ternak yang dihasilkan, saat ini harga jual kompos dari kotoran ternak sekitar Rp20.000 per kantong kecil, bahkan urine sapi juga laku dijual untuk pupuk daun, dari usaha itu saja sudah cukup menyejahterakan peternak," kaat dia.
Dia menambahkan, jika dari kebutuhan daging untuk konsumsi masyarakat di daerah itu rata-rata setiap hari membutuhkan tiga hingga empat ekor sapi dan selama ini bergantung sepenuhnya dari pasokan luar daerah.
"Sampai saat ini kami belm mengizinkan kelompok ternak menjual ternaknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, kami masih fokus pada pengembangan populasi, nanti kalau populasi sudah mencapai lebih dari 3.000 ekor baru bisa dipertimbangkan lagi untuk menjual sapi untuk konsumsi," kata dia.
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2014