Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Jumat meminta warga Palestina untuk melanjutkan perjuangan mereka melawan Israel, seraya menyebut pemerintah Israel sebagai "tumor" yang harus dikonfrontasi sampai warga Palestina bebas.

Penentangan terhadap Israel adalah dasar keyakinan bagi Iran yang dipimpin Syiah, yang mendukung kelompok-kelompok militan Islam Palestina dan Lebanon yang menentang perdamaian dengan negara Yahudi itu. Teheran menolak untuk mengakui Israel.

"Perlawanan oleh Palestina harus terus berlanjut ... perjuangan untuk membebaskan Palestina adalah kewajiban dan jihad Islam ... Rezim Zionis (Israel) adalah tumor kanker di wilayah tersebut," kata Otoritas tinggi Iran Khamenei dalam pidato daring.

"Hari ini, dunia menghitung satu per satu setiap korban virus corona di seluruh dunia, tetapi tidak ada yang bertanya siapa yang bertanggung jawab atas ratusan ribu kesyahidan, pemenjaraan dan penghilangan di Palestina dan di negara-negara di mana Amerika Serikat dan Eropa telah melakukan perang?" dia berkata.

"Virus Zionis yang telah bertahan lama akan dihilangkan."

Khamenei dan pejabat senior Iran lainnya telah berulang kali menyerukan selama bertahun-tahun untuk mengakhiri negara Yahudi itu, termasuk melalui referendum di wilayah tersebut, tempat mayoritas warga Palestina berada.

Khamenei mengulangi seruan itu dalam pidatonya di Hari Quds, yang menggunakan nama Arab untuk Yerusalem, yang diadakan pada Jumat terakhir bulan puasa Ramadhan. Acara tahunan ini diresmikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, mendiang pendiri Revolusi Islam 1979 Iran.

Namun, ulama penguasa Iran harus membatalkan aksi unjuk rasa nasional tahunan untuk memperingati Hari Quds karena wabah virus corona. Iran adalah salah satu negara yang paling terdampak di wilayah ini dengan 7.249 kematian dan total 129.341 infeksi.

Pewarta: Gusti Nur Cahya Aryani

Editor : Adhitya SM


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2020