Jakarta (Antara Babel) - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di
Jakarta pada Selasa pagi melemah, bergerak turun tujuh poin dari posisi
terakhir menjadi Rp14.273 per dolar AS.
"Ketidakpastian kenaikan suku bunga the Fed menjadi salah satu pendorong nilai tukar rupiah kembali mengalami depresiasi terhadap dolar AS," katanya.
Selain itu, dia mengatakan, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat juga menambah sentimen negatif terhadap rupiah. Melambatnya perekonomian Indonesia mendorong aliran dana asing keluar dari pasar keuangan di dalam negeri.
"Pemerintah yang berencana menerbitkan beberapa peraturan sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, secara umum efektivitasnya masih diragukan pasar selama serapan anggaran belum membaik," katanya.
Namun, menurut dia, Bank Indonesia masih menjaga nilai tukar rupiah.
"Tanpa intervensi, rupiah berpeluang kembali melemah lebih dalam, apalagi harga komoditas dunia turun," katanya.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menambahkan peluang rupiah kembali menguat masih terbuka namun sifatnya terbatas karena faktor teknikal karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih belum mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
"Ekonomi yang masih melambat masih menjadi salah satu faktor penahan bagi nilai tukar rupiah untuk menguat secara fundamental," katanya.
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2015
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan nilai tukar rupiah
kembali melemah mengikuti pelemahan mata uang lain terhadap dolar AS di
pasar global bersama ketidakpastian rencana kenakan suku bunga The
Federal Reserve Amerika Serikat.
"Ketidakpastian kenaikan suku bunga the Fed menjadi salah satu pendorong nilai tukar rupiah kembali mengalami depresiasi terhadap dolar AS," katanya.
Selain itu, dia mengatakan, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat juga menambah sentimen negatif terhadap rupiah. Melambatnya perekonomian Indonesia mendorong aliran dana asing keluar dari pasar keuangan di dalam negeri.
"Pemerintah yang berencana menerbitkan beberapa peraturan sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, secara umum efektivitasnya masih diragukan pasar selama serapan anggaran belum membaik," katanya.
Namun, menurut dia, Bank Indonesia masih menjaga nilai tukar rupiah.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menambahkan peluang rupiah kembali menguat masih terbuka namun sifatnya terbatas karena faktor teknikal karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih belum mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
"Ekonomi yang masih melambat masih menjadi salah satu faktor penahan bagi nilai tukar rupiah untuk menguat secara fundamental," katanya.
Editor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2015