Koba (Antara Babel) - Sebagian warga di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung mulai membudidayakan ikan air tawar jenis "betok" atau tepuyu yang banyak ditemukan hidup dan berkembang di sejumlah lubang bekas penambangan bijih timah.

Manaf, seorang warga Koba, Selasa, mengatakan saat ini sejumlah warga di lingkungan tempat tinggalnya mulai gemar membudidayakan ikan betok tersebut karena mudah mendapatkannya, permintaan mulai ada dan harga juga lumayan mahal.

"Betok ini jenis ikan air tawar yang hidup dan berkembang biak di rawa atau lubang bekas penambangan bijih timah yang sudah ditinggal penambang dalam waktu cukup lama, sehingga lubang tambang atau orang Bangka menyebutnya kolong menjadi habitat ikan air tawar jenis betok tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan, warga menangkap ikan betok ini dengan menggunakan pancing dan kemudian dipelihara di dalam kolam dekat rumah.

"Ukuran ikan ini tidak terlalu besar, tetapi bisa didapat dalam jumlah yang banyak dan ada pembeli yang suka mengonsumsi ikan air tawar ini," ujarnya.

Sementara Eman, warga yang lainnya mengatakan menangkap ikan betok ini cukup mudah tetapi pada waktu-waktu tertentu saja.

"Juga tergantung lokasi mancing. Kalau lokasi bagus, maka ikan tersebut banyak ditemukan dan mudah dipancing. Tetapi ada juga sulit menemukannya, maka harus jeli melihat lokasi dan waktu memancing ikan tersebut," katanya.

Ia mengatakan, kelebihan memelihara ikan lokal jenis betok ini adalah tidak mudah mati kendati dibudidayakan dalam kolam biasa atau ember.

"Stamina ikan ini sangat kuat, bahkan bisa bertahan beberapa jam di darat atau tanpa air serta makanannya mudah, cukup lumut dan daun muda saja," ujarnya.

Sekarang ini, kata dia, harga ikan betok bisa mencapai Rp50 ribu per kilo gram kendati hanya orang tertentu saja yang membeli.

"Pembelinya tentu orang yang gemar mengonsumsi ikan air tawar, daging ikan ini cukup enak dan lezat," ujarnya.

Pewarta: Ahmadi

Editor : Mulki


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2015