Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Muti menyebut penting untuk Muhammadiyah mengubah pola pikir atau mindset cara berdakwah di masyarakat di era digital pada saat ini.

"Kita harus mengubah cara berdakwah dengan semakin banyak menerjemahkan isu-isu besar menjadi suguhan yang menarik lewat platform digital," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Mu'ti menilai manusia memiliki jaringan yang saling berkoneksi dan tidak terbatas, yang tentunya peningkatan ini juga berdampak terutama pada pemahaman keagamaan, peradaban, serta kebudayaan antar manusia dan bangsa.

Ia menyarankan untuk Muhammadiyah untuk juga mengubah kultur berdakwah dalam menghadapi masyarakat digital. Jika tidak melakukan perubahan itu, maka Muhammadiyah akan mengalami "tiga D", yaitu degradasi, delusi, dan disrupsi.

"Kita harus melakukan inovasi dan konsisten mempertahankan ajaran Muhammadiyah yang inklusif dengan seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Lembaga Survei Indikator Prof Dr Burhanuddin Muhtadi mengatakan media sosial memegang peranan penting dalam profil baru masyarakat, di mana anak muda saat ini menjadi pengguna sosial media paling aktif.

Menurut Burhanuddin, gerakan dakwah Muhammadiyah harus menjawab tantangan zaman dengan mengangkat isu yang lebih ramah terhadap anak muda.

"Muhammadiyah harus memiliki pola dakwah dari based on reality, menjadi kombinasi offline dan online, dengan menyasar seluruh ruang-ruang platform media harus diisi," ujarnya.

Hal itu, ucap Burhanuddin, diiringi dengan memiliki pengalaman ataupun isu yang serupa, mengikuti masalah yang paling perdulikan, situasi yang mempengaruhi, dan sangat dekat dengan mereka.

Pewarta: Sean Muhamad

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2024