Sudah tujuh seri balapan dilalui oleh Veda Ega Pratama, bocah 17 tahun asal Gunung Kidul Yogyakarta, di ajang Moto3 musim 2026. Tapi rasanya sudah campur aduk melihat naik turun, rekor, dan sejarah yang dicetak Veda untuk Indonesia dari perjalanan balap.
Di Sirkuit Chang International Circuit, Buriram, pada 1 Maret 2026, debutnya di Kejuaraan Dunia Moto3, pembalap Honda Team Asia itu berhasil mencatatkan finis kelima. Hasil yang jarang dicapai seorang debutan di GP. Sejak itu, perjalanan Veda dari Thailand hingga Mugello tujuh seri kemudian memperlihatkan lintasan karier yang tidak selalu mulus.
Veda lahir di Wonosari pada 23 November 2008. Dipengaruhi oleh sang ayah yang pernah turun di Supersport 600 tingkat nasional, ia sudah menunggangi mini GP sejak usia lima tahun. Dari fondasi itu, rekam jejaknya sebelum Moto3 terbilang solid. Veda mendominasi Asia Talent Cup 2023 musim keduanya, memenangi sembilan dari dua belas balapan dan meraih gelar juara satu putaran lebih cepat dari jadwal.
Tahun berikutnya, ia naik ke Red Bull Rookies Cup. Pada debutnya di seri tersebut, Veda mengamankan beberapa kali finis 10 besar dan satu kali podium ketiga di Red Bull Ring. Dia menutup musim di peringkat delapan klasemen akhir pada tahun pertamanya di RBRC.
Musim 2025 di Rookies Cup menjadi babak paling krusial sebelum ke Moto3. Veda mengukuhkan diri sebagai penantang gelar utama, meraih kemenangan perdana di Mugello, sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang menang di seri tersebut. Dia langsung menggandakannya dengan kemenangan kedua di sirkuit yang sama. Ia menutup musim dengan runner-up Rookies Cup, hanya terpaut 55 poin dari sang juara Brian Uriarte. Catatan itu yang membuka pintu Honda Team Asia.
Debut, podium, lalu DNF
Honda Team Asia membekali Veda dengan motor NSF250RW untuk musim 2026, bersama rekan setim Zen Mitani dari Jepang yang juga menjalani debut penuh di Grand Prix. Tim membangun lineup dengan dua rookie sekaligus.
Thailand memberi Veda start yang kompetitif. Start di posisi lima, dan finis di peringkat yang sama. Namun pada seri kedua di Brasil menjadi tonggak paling bersejarah. Veda finis ketiga sekaligus mencetak sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil naik podium di Grand Prix. Dengan 27 poin dari dua seri, Veda sudah bertengger di peringkat tiga klasemen sementara.
Di GP Amerika Serikat, Veda membawa keyakinan dengan kembali start di baris kedua, grid keempat. Namun laju balapan tidak semulus kualifikasi bagi Veda. Memulai dari posisi keempat, Veda terlempar ke urutan delapan di lap pertama, dan akhirnya tidak dapat menyelesaikan lomba atau DNF pertamanya musim ini karena mengalami highside di tikungan 11 pada lap kelima.
Akibatnya, posisi di klasemen melorot dari tiga ke tujuh. Bukan kecelakaan yang cukup parah. Veda baik-baik saja. Tapi justru itulah yang membuat DNF di Austin lebih terasa karena Veda kehilangan poin di race yang sebenarnya bisa dijangkau.
Di Jerez, GP Spanyol seri keempat, Veda memulai dari posisi 17. Kemunduran signifikan dari tiga seri pembuka yang selalu lima besar. Tapi saat race, Veda menyalip 11 pembalap dan finis di posisi enam. Tidak cukup hanya itu, Veda mencatatkan kecepatan puncak 222,2 km per jam menggunakan Honda NSF250RW. Angka ini menjadi rekor tercepat, melampaui catatan milik Daniel Holgado pada 2024 dan Adrian Fernandez pada 2025 yang keduanya mencatat 221,3 km per jam.
Di seri kelima, Le Mans hadir dengan kondisi trek basah. Menghadapi wet race pertamanya musim ini, sang rookie berhasil mengamankan finis keempat di Moto3 Prancis setelah start dari grid keenam. Tambahan 13 poin dari Le Mans membuat Veda mengumpulkan total 50 poin dan naik ke posisi kelima klasemen sementara.
Di Barcelona, Catalunya, Veda kalah cepat dari para pembalap tuan rumah Spanyol yang mendominasi peserta Moto3. Veda gagal menembus Q2 dan harus memulai balapan dari posisi 20. Posisi ini naik satu peringkat dari urutan asli 21, karena posisi 20 Casey O'Gorman mendapatkan penalti.
Dari start yang kembali sulit itu, Veda berhasil mencapai delapan besar. Dia melewati delapan pembalap di lap pertama untuk mengamankan posisi 12, dan melalui kombinasi ritme konsisten serta insiden jatuhnya Jesus Rios di lap-lap terakhir, ia berakhir di posisi kedelapan dengan tambahan 8 poin.
Veda datang ke Mugello dengan rasa percaya diri tinggi lantaran sirkuit Italia itu sebagai salah satu favoritnya. Saat masih berkompetisi di RBRC, Veda dua kali meraih gelar juara di lintasan ini.
Namun, Veda harus memulai dari posisi 13 dengan catatan waktu 1 menit 55,548 detik, meski telah mengamankan tiket langsung ke Q2 pada sesi latihan pertama.
Balapannya penuh dinamika. Veda segera naik ke posisi enam di lap pertama. Namun memasuki lap kedua ia terlempar ke sepuluh besar, dan di lap keempat dari 17 putaran total, posisinya sempat melorot ke 16. Di tiga lap terakhir, Veda sudah kembali bersaing di rombongan terdepan dan sempat merebut posisi empat di lap ke-14.
Drama berlanjut ketika Maximo Quiles kehilangan grip dan melebar, hampir menyeret Veda keluar dari persaingan. Veda selamat mengendalikan motor, tapi posisinya tergeser ke tujuh dan akhirnya finis kedelapan. Brian Uriarte memenangi balapan dengan catatan waktu 33 menit 7,801 detik, diikuti Alvaro Carpe dan Hakim Danish dari Malaysia di podium ketiga.
Dengan hasil itu, Veda tetap berada di peringkat kelima klasemen Moto3 2026 dengan total 66 poin. Posisi Veda di klasemen umum mencerminkan musim yang stabil namun belum meledak. Ia tertinggal 82 poin dari Maximo Quiles yang memuncaki klasemen dengan 140 poin. Quiles, yang menjuarai enam dari tujuh seri sejauh ini, sudah membangun keunggulan yang sulit dikejar.
Yang lebih relevan secara kompetitif adalah persaingan kategori rookie. Setelah Mugello, Veda kehilangan status rookie terbaik. Brian Uriarte, rival Veda di Rookies Cup 2025, kini memimpin klasemen rookie dengan 67 poin setelah kemenangan di Italia. Veda tertinggal satu poin di belakangnya dengan 66 angka. Hakim Danish dari Malaysia menyusul di posisi ketiga klasemen rookie dengan 43 poin setelah podium perdananya di Mugello.
Potensi Veda
Dari tujuh balapan yang sudah dijalani, Veda telah menunjukkan kecepatan, dan ia bisa menyalip banyak orang sekaligus. Dari posisi 17 di Jerez ia berakhir keenam. Dari posisi 20 di Catalunya ia berakhir kedelapan. Dua kali dalam tiga seri terakhir, Veda finis di 10 besar meski memulai dari grid belakang. Angka-angka ini mencerminkan kemampuan overtake dan kecepatan balapan yang di atas rata-rata untuk seorang debutan.
Namun ada sisi lain yang sama konsistennya dalam artian negatif, Veda kerap mudah kehilangan posisi. Di Mugello, ia naik ke posisi enam di lap pertama, lalu turun ke sepuluh di lap kedua, lalu melorot ke 16 di lap keempat. Pola serupa terlihat di Catalunya, naik cepat, turun lagi, baru bangkit di akhir. Di GP Amerika, ia start keempat, terlempar ke delapan di lap pertama, dan akhirnya tidak finis.
Veda masih 17 tahun, dan musim 2026 adalah debutnya di Moto3. Banyak hal yang harus dipelajari oleh Veda, khususnya kemampuan menjaga ritme di posisi rombongan depan. Namun, hal itu biasanya akan terasah melalui jam terbang panjang.
Selain itu dari sesi kualifikasi juga menjadi hambatan berulang. Kemampuan overtake yang impresif akan jauh lebih efektif jika tidak selalu dimulai dari baris keenam atau ketujuh grid. Veda sering terlambat menemukan performa terbaik di sesi kualifikasi, sehingga potensinya dalam balapan belum bisa dimaksimalkan sejak lap pertama.
Sekali lagi, semua itu wajar untuk remaja 17 tahun di musim debutnya yang sudah mencetak sejarah. Tapi wajar tidak berarti tidak perlu diperbaiki.
Musim 2026 masih menyisakan 15 seri dari total 22 balapan, termasuk seri kandang di Mandalika pada 11 Oktober 2026. Peluang untuk memperbaiki kualifikasi, mengelola posisi di depan, dan kembali merebut status rookie terbaik masih terbuka.
Setahun sebelum semua ini dimulai, pada 30 September 2025,Presiden Prabowo menerima juara dunia MotoGP Marc Marquez di Istana Kepresidenan Jakarta, yang didampingi oleh dua pembalap muda Indonesia: Mario Aji dan Veda Ega Pratama.
Posisi saat itu bukan Veda dan Mario yang mendampingi Marc bertemu Presiden. Tapi Marquez yang memperkenalkan dan meyakinkan Prabowo tentang potensi Veda Ega Pratama di masa datang.
Veda pada waktu itu masih 16 tahun, belum pernah menginjak aspal Grand Prix. Sekarang ia sudah punya satu podium, satu rekor top speed, dan 66 poin di klasemen dunia.
Editor : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2026