"Kami harapkan para anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat dapat menindaklanjuti aspirasi warga nelayan di Kampung Menjelang, Tanjung dan sekitarnya yang merasa keberatan dengan keberadaan KIP karena mengganggu aktivitas nelayan,"
Muntok (Antara Babel) - Sejumlah nelayan Kampung Menjelang Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung mendatangi kantor DPRD setempat untuk menyampaikan penolakan mereka terhadap keberadaan kapal isap produksi (KIP) di wilayah perairan laut yang sudah beraktivitas seminggu terakhir.

"Kami harapkan para anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat dapat menindaklanjuti aspirasi warga nelayan di Kampung Menjelang, Tanjung dan sekitarnya yang merasa keberatan dengan keberadaan KIP karena mengganggu aktivitas nelayan," ujar koordinator nelayan Menjelang, Fadilah di ruang Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat di Muntok, Selasa.

Para nelayan yang hadir pada kesempatan itu meminta operasional KIP di wilayah perairan mereka segera dihentikan karena selama ini wilayah laut mulai dari Pantai Tanjung Kalian hingga Tanjung Ular merupakan kawasan penangkapan ikan bagi sebagian besar nelayan Kecamatan Muntok.

Ia menjelaskan, operasional KIP di lokasi itu diyakini akan berdampak luar biasa bagi ratusan orang nelayan yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan di perairan tersebut.

"Jelas operasional KIP di lokasi itu akan semakin merusak terumbu karang, karena sedimen sisa penambangan yang dihasilkan KIP cukup besar dan akan mengakibatkan jumlah tangkapan ikan berkurang," kata dia.

Ia menambahkan, di lokasi tersebut pemkab setempat juga telah menanam terumbu karang buatan yang nilainya mencapai ratusan juta dan diharapkan mampu meningkatkan produksi nelayan.

"Keberadaan terumbu karang buatan itu cukup membantu kami menangkap ikan. Kami khawatir aktivitas KIP di lokasi itu akan merusak populasi ikan yang sudah cukup banyak," kata dia.

Nelayan Tanah Merah, Yusup menambahkan, lokasi tempat KIP beroperasi merupakan wilayah tangkap nelayan, dimana lokasi itu memiliki populasi ikan terbanyak kedua di perairan Muntok setelah wilayah perairan Karang Haji.

"Ratusan nelayan setiap hari mencari ikan di lokasi tersebut, seperti nelayan dari Tembelok, Tanjung, bahkan ada beberapa nelayan dari Tanjung Ular," katanya.

Ia menambahkan, nelayan lokal hanya memiliki alat tangkap sederhana sehingga tidak mampu melaut lebih jauh ke tengah. Dengan adanya KIP di lokasi tersebut, para nelayan saat ini bingung mau cari ikan ke mana lagi.

Hal senada dikatakan Kepala Dusun Kasidem yang mengharapkan pemkab segera menghentikan operasional KIP di wilayah tersebut, karena keberadaannya menghancurkan terumbu karang dan sedimen sisa penambangan juga menutup terumbu karang sehingga ikan akan pergi.

"Kalau aktivitas ini tetap berlangsung, kami para nelayan mau makan apa. Kami minta ketegasan pemerintah untuk menghentikan aktivitas KIP di lokasi tersebut karena masih banyak lokasi lain yang mungkin lebih menjanjikan untuk ditambang. Jangan sampai masyarakat menjadi korban dampak penambangan bijih timah di perairan Menjelang," kata dia.

Aspirasi sekitar 20 orang perwakilan warga nelayan tersebut diterima Komisi III yang diwakili Nova Triwahyudi, Sayuti dan Iwansyah, serta Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Bangka Barat, Zakaria bersama staf.

Pewarta: Oleh Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026