Peserta konvensi capres Partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo misalnya, menyatakan bersedia menjadi cawapres jika Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi benar-benar maju menjadi capres pada 2014. Anies Baswedan juga mendorong Gubernur DKI Jakarta itu untuk dicapreskan oleh PDIP, karena Indonesia harus dipimpin oleh orang yang kompeten.
Hayono Isman, memuji keberhasilan Gubernur DKI Jakarta Jokowi. "Tidak bisa dipungkiri kalau demokrasi di tingkat daerah telah memunculkan kemajuan. Kita lihat ada Jokowi di Jakarta, Ibu Risma di Surabaya, dan Ridwan Kamil di Bandung," katanya.
Menteri BUMN Dahlan Iskan waktu itu memprediksi Gubernur DKI Jakarta Jokowi akan menjadi capres PDIP. Dahlan mendukung pencapresan mantan Wali Kota Solo tersebut. Peserta konvensi lainnya, Gita Wirjawan juga mengagumi Jokowi. "Popularitasnya begitu tinggi," katanya.
Sementara Dino Patti Djalal menyebut nama Jokowi di dunia internasional baik sekali. "Dia tak hanya milik Jakarta, tetapi juga aset bangsa. Beliau bukan hanya menjadi fenomena di dalam negeri, tapi juga di luar negeri," ujarnya.
Tak kalah menarik adalah pujian yang disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon kepada Jokowi - utamanya saat Gerindra dan PDIP sama-sama mengusung Jokowi - Ahok pada Pilgub DKI 2012, jauh sebelum Prabowo dan mantan wali kota Solo itu bersaing dalam pilpres seperti sekarang.
Pada suatu kesempatan, Fadli Zon bahkan pernah memuji Jokowi seperti Umar bin Khattab yang mengunjungi rakyat di pasar dan rumah-rumah mereka secara langsung, tanpa membawa pengawal. Umar bin Khattab biasa dikelilingi orang miskin, Jokowi juga berdesakan dengan rakyat dalam transportasi yang penuh sesak.
Sebagai khalifah, kata Fadli, Umar bin Khattab disediakan gaji dari Baitul Maal, tapi tidak diambilnya. Hal serupa dilakukan Jokowi. Gubernur DKI Jakarta ini juga menantap makanan rakyat di waring Tegal.
Tetapi begitu Jokowi bersaing dengan Prabowo, sikap Fadli berubah 180 derajat, dari memuji menjadi mencela dan kini dikenal sebagai pengkritik Jokowi paling keras, bahkan lewat sebuah puisi berjudul "Ora Bisa Opo-opo".
Yang paling mengherankan adalah sikap juru bicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul yang mendeklarasikan dukungannya untuk Jokowi-JK. Dia mengaku, salah satu sebab dirinya mendukung Jokowi-JK adalah tagline kampanye dari pasangan ini, 'Indonesia Hebat'.
Padahal, masih segar dalam ingatan publik, pertengahan Juni Fraksi Partai Demokrat (FPD) di DPR menyatakan dukungannya kepada pasangan capres/cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Wajar kalau kemudian Ketua FPD Nurhayati Assegaf mengaku kaget dan tak percaya dengan apa yang diucapkan Ruhut.
Ruhut yang mantan politisi Partai Golkar ini dengan gamblang menyebutkan alasan mendukung Jokowi-JK. Dia kecewa atas sikap partai-partai koalisi yang tidak mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sepenuh hati. Terlebih, Prabowo menyebut ada kebocoran anggaran di pemerintahan, padahal saat pemaparan visi dan misi di depan pengurus Demokrat, Prabowo-Hatta berjanji meneruskan program SBY.
Alasan lainnya, Ruhut tertarik pada slogan yang diusung Jokowi-JK, yakni 'Indonesia Hebat'. Menurut dia, kalimat itu bentuk pujian tidak langsung kepada pemerintahan SBY. Ruhut pun membandingkannya dengan slogan yang diangkat pasangan Prabowo-Hatta yaitu 'Indonesia Bangkit'.
Langkah Ruhut ini aneh mengingat beberapa komentar miringnya terhadap Jokowi sebelumnya. Dalam suatu kesempatan, Ruhut pernah menyebut Jokowi sebagai 'raja pencitraan, sosok yang galau dan nggak ngaca, serta cuma anak kos di PDIP'.
Ruhut juga mencela aksi Jokowi saat pengundian nomor urut di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dia menilai, Jokowi mengalami demam panggung saat itu lantaran tak mendapatkan nomor urut 1 sebagai kandidat capres pada Pilpres 2014.
Mirip Soekarno
Bukan hanya doa, pujian pun disampaikan bapak reformasi Amien Rais ini kepada Prabowo Subianto. Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyebut program utama yang akan diusung oleh pasangan Prabowo-Hatta adalah menghalau tekanan dari asing baik dari segi perekonomian maupun bidang lainnya.
Dia juga melihat raut wajah Prabowo sekilas mirip dengan Presiden Indonesia pertama Soekarno. Jika mendapat restu, Amien yakin Prabowo bisa lebih menyejahterakan rakyat.
"Saya bukan tukang membaca wajah manusia, tapi Pak Prabowo dari samping, dari depan seperti Bung Karno. Pidato luar biasa seperti Bung Karno," katanya.
Menurut dia, tak ada keraguan sedikit pun dari partai pendukung untuk memasangkan duet Prabowo Subianto - Hatta Rajasa. "Mudah-mudahan Bung Bowo dan Bung Hatta bisa bawa bangsa ke arah yang lebih baik lagi. Pilihlah presiden yang ganteng dan kaya, agar tidak korupsi.
Sementara itu Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad Wibowo berpendapat, capres Prabowo menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin bangsa. "Pada tahap awal debat capres, keunggulan materi Prabowo sudah sangat jelas terlihat. Opening speech-nya dahsyat. Fantastik. Aura dan kapasitas Presidensialnya muncul dengan kuat," kata Drajat.
Pada sesi berikutnya, kata Dradjad, terutama tentang ekonomi kreatif dan UU Desa, Prabowo menunjukkan sisi humanisnya. "Selama ini kan Mas Bowo (Prabowo) sering difitnah dari sisi personalitasnya, dari sisi humanisnya. Pujian dia terhadap Jokowi soal ekonomi kreatif menunjukkan dia orang yang berbesar hati, seorang negarawan," katanya.
Prabowo menurut Dradjad, sudah menunjukkan perjuangannya tentang dana desa. Faktanya, pemerintah memang belum sanggup mengalokasikan Rp1 miliar, baru Rp800 juta. "Karena kurang dari Rp1 miliar, Prabowo naikkan menjadi minimal Rp1 miliar. "Seperti biasa, closing remark Prabowo juga dahsyat. Sangat manusiawi. Wong cilik iso gumuyu. Itu yang dia perjuangkan," ujarnya.
Akbar Tandjung menilai sangat objektif dalam debat capres. Prabowo telah menempatkan dirinya sebagai seorang negarawaran yang melihat hal-hal yang positif dalam pemerintahan SBY dan hal-hal yang ingin diperbaiki termasuk kebocoran-kebocoran.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan, Indonesia butuh sosok pemimpin seperti Prabowo, yang menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi.
"Jadi Prabowo tepat untuk memimpin Indonesia yang kompleks, majemuk, wilayah luas, penduduk banyak. Pemimpin yang tegas, cerdas, visioner, mengatakan tidak, bila mana ada orang yang ingin ganggu Indonesia," kata mantan Ketua DPR-RI itu.
Akbar juga punya tanggapan sendiri soal tudingan timses Jokowi bahwa visi-misi Prabowo tentang kebocoran anggaran justru menyerang Hatta. Pasalnya Hatta menjabat sebagai Menko Pekonomian era SBY. "Yang penting semangatnya, dia menyampaikan hal itu untuk perbaikan bukan untuk menjatuhkan, dan referensinya jelas, KPK, keabsahannya tinggi," katanya memberikan alasan.
Wasekjen PKS Fahri Hamzah tampak sangat loyal membela capres jagoannya Prabowo Subianto. Tak hanya memuji Prabowo, dia bahkan kerap mengkritik keras Jokowi sebagai lawan politiknya di Pilpres 2014.
Fahri juga menilai Prabowo jauh lebih baik ketimbang Jokowi. Dia yakin Prabowo sosok yang tegas dan tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun. Sementara Jokowi, syarat intervensi terutama dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Di antara pujian Fahri adalah Prabowo punya rekam jejak yang baik. "Prabowo telah membuktikan kariernya yang cepat. Militer, bisnis lalu politik yang semuanya sukses. Politik masa Prabowo akan membawa kita pada masa renaisans. Indonesia yang dinamis. Jual murah dan percaloan sumber daya alam akan dihentikan." katanya.
Sebagai mantan anggota pasukan khusus, kata Fahri, "Prabowo jarang tampil ramah, tapi tegas dan dan tak bisa cengar-cengir."
Orang lupa, bahwa dia alumni pasukan elit yang tugasnya bukan tertawa tetapi menyerang lawan. Prabowo juga pemimpin yang adil.
Dukungan dan puja-puji terhadap para capres sah-sah saja disampaikan untuk membentuk opini publik, hanya saja seyogyanya tidak terlalu berlebihan, agar jika nanti salah satu dari kedua calon terpilih menjadi presiden dan ternyata kemudian harapan di bawah kenyataan, rakyat tidak kecewa.
Pewarta: Oleh Illa KartilaEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.