Muntok, (ANTARA Babel) - Komisi II DPRD Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, memberi rekomendasi kepada jajaran direksi BUMD Bangka Barat Sejahtera (BBS) untuk penambahan modal Rp2 miliar tahun anggaran 2013.

"Kami memberi rekomendasi untuk mendapatkan tambahan modal usaha, namun dengan beberapa catatan agar perusahaan tersebut lebih mandiri dan direksi wajib melaporkan keuangan perusahaan secara berkala," ujar anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bangka Barat Ivan Wahyudi di Muntok, Rabu.

Ia menjelaskan penambahan modal Rp2 miliar pada 2013 tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk penambahan peralatan kerja seperti peralatan toolkit dan pengadaaan suku cadang kendaraan di bengkel miliki perusahaan daerah itu.

Berdasarkan hasil rapat antara Komisi II dengan jajaran direksi BUMD BBS beberapa waktu lalu, anggaran itu selain untuk menambah kelengkapan bengkel juga akan dimanfaatkan untuk membuka apotik yang berlokasi di RSUD Sejiran Setason Muntok.

"Mereka juga akan memanfaatkannya untuk menambah permodalan usaha percetakan yang selama ini masih berjalan dan menjadi tumpuan usaha perusahaan itu," katanya.

Ivan mangatakan, untuk usaha perbengkelan yang sudah berjalan setahun lalu namun berhenti ditengan jalan, Komisi II menekankan agar BUMD menyediakan tenaga teknis spesialis yang mampu diandalkan sehingga pelanggan tidak kecewa.

Catatan khusus untuk usaha baru yaitu pembangunan apotik di RSUD, pihaknya berpesan agar apotik tersebut tidak melulu mengejar keuntungan semata, namun juga harus mampu membantu pasien dengan menjual obat-obatan dengan harga wajar.

"Kami merekomendasikan anggaran itu dengan catatan harus ada rencana kerja anggaran terlebih dahulu sebelum persetujuan, kalau tidak ada RKA kami juga tidak mau jangan sampai modal yang diambil dari APBD Kabupaten itu tidak tepat peruntukkannya," kata dia.

Dalam kesempatan rapat bersama tersebut, katanya, jajaran direksi BUMD juga menyanggupi adanya realisasi untuk memberikan laporan keuangan berkala setiap tiga bulan sekali dalam upaya kontrol keungan perusahaan oleh Komisi II.

"Kami sebagai mitra kerja BUMD BBS berhak mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan, dan kami minta laporan tersebut disusun berdasarkan riil di lapangan," kata dia.

Ia mengharapkan, dengan adanya tambahan modal usaha tersebut BUMD BBS bisa menjalankan perusahaan dengan baik dan mampu menutup kerugian tahun lalu dan ke depan jadi lebih mandiri.

"Butuh kerja keras untuk menutup kerugian selama sethun ini, jangan sampai modal yang dikucurkan juga tidak menghasilkan keuntungan atau bahkan menambah kerugian perusahaan, karena bagaimanapun anggaran itu merupakan uang rakyat," kata dia.

Pada 2012 BUMD BBS memiliki modal awal sebesar Rp1 miliar, setelah dilakukan rapat kerja baru diketahui perusahaan milik daerah itu selama setahun mengalami kerugian sebesar Rp108 juta, dengan sisa anggaran pada kas perusahaan sebesar Rp359.121.916.

Berdasarkan rapat, pihak BUMD BBS menyebutkan modal awal sebesar Rp1 miliar tersebut digunakan sebagai modal perbaikan gedung yang dimanfaatkan untuk usaha perbengkelan di gedung bengkel milik PT Timah.

Selain itu, modal usaha juga dimanfaatkan untuk perbaikan kantor, pembayaran gaji pegawai honorarium sebanyak tujuh orang dan jajaran direksi tiga orang, serta untuk menambah kelengkapan usaha pujasera di lokasi bengkel, modal pengepulan karet mentah, modal usaha percetakan, usaha bengkel dan cuci mobil.

"Target kami tidak muluk-muluk, asalkan BUMD tersebut tidak merugi dan bisamengembalikan kerugian pada 2012 sudah cukup berhasil, untuk itu kami minta direksi untuk lebih serius dan kerja keras dalam menjalankan usaha tersebut dengan menciptakan peluang baru, jika memungkinkan gandeng investor," kata dia.


: Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026