Jakarta (ANTARA Babel) - Upaya Tina Brown untuk menyelamatkan majalah Newsweek agar tetap eksis akhirnya sampai pada epilog; Newsweek akan segera mengakhiri keberadaannya akhir tahun ini.

Brand Newsweek akan tetap hidup dengan pakaian baru Newsweek Global yang tak lagi berbentuk cetak, tetapi digital dengan mengadopsi model langganan berbayar.

Newsweek sudah lama masuk daftar "spesies terancam punah". Pada 2010, Washington Post Co. sudah tak kuat lagi menyangga salah satu lengan bisnisnya ini, lalu menjualnya kepada pengusaha Sidney Harman, hanya dengan 1 dolar AS.

Harman kemudian merekrut Brown yang editor berita selebriti itu, lalu mengawinkan majalah ini dengan website milik Barry Diller, The Daily Beast.

Barry Diller adalah Ketua dan CEO InterActiveCorp (perusahaan Internet di AS) yang juga Ketua Expedia, Inc. serta Ticketmaster Entertainment, Inc.

Namun roda keuangan memang sulit ditebak. Harman meninggal dunia pada 2011.  Keluarganya lalu memutuskan dukungan keuangan kepada Newsweek.

Juli lalu, Diller mengirimi kabar bahwa akhir dari Newsweek sudah dekat.

Brown memang luar biasa dalam menarik perhatian pembaca di mana pun dia berkarya.

Perempuan editor inilah yang membagusi dua majalah ternama Vanity Fair dan The New Yorker. Tapi dia tak cukup sukses membesarkan majalahnya sendiri, Talk.  Yang satu ini hilang dari peredaran pada 2001 setelah beredar singkat.

Dengan penuh wira Brown berjuang mempertahankan rubrik musik pada Newsweek. Dia menggantungkan peruntungannya di Newsweek dengan memasang sampul-sampul yang provokatif dan sensasional.

Ditinggalkan pembaca

Pekan demi pekan, sampul-sampul Newsweek baik itu yang menyajikan wajah menakutkan Michele Bachman atau kaum muslim yang digambarkan mengerikan, hanya mengundang kemarahan dan memicu kontroversi.

Para penjunjung etika jurnalistik memang membelanya, namun pembaca satu per satu meninggalkan majalah ini.

Dalam dunia Internet yang serba ada ini, buzz (berita provokatif) dan sensasional sangat gampang didapat.  Sehingga apa yang ditawarkan Newsweek itu tak aneh, dan akhirnya keuangan Newsweek pun makin berdarah-darah.

Sejatinya, era majalah sepertinya telah memasuki era sejarah.  Nasibnya ini bahkan telah diprediksi sejak berdekade-dekade lalu.

Sudah bertahun-tahun ini koran-koran bahkan memuatkan bagian-bagian analisis dalam halaman mereka, yang justru adalah kekuatan dari majalah.

Pada era Internet di mana lalu lintas reportase dan komentar publik demikian update, tantangan hidup untuk majalah pun semakin berat.

Pada 2008, suratkabar U.S. News & World Report menghentikan edisi mingguannya. Memang ada beberapa yang bertahan hidup, di antaranya Time yang menjadi pesaing lama Newsweek.

Bukan genre-nya

Newsweek tak diragukan lagi menghadapi nasib di ujung tanduk, dan pakar majalah Samir Husni menyalahkan Brown karena telah membawa Newsweek ke arah yang salah dan malah mempercepat keruntuhannya.

"Dia mengabaikan audiens (pembaca)," kata Husni. "Dia berhenti memberi Newsweek stimulasi intelektual yang justru menjadi genre bisnis majalah ini. Newsweek menjadi tak lagi punya hubungan dengan pembaca dan pasar. Majalah ini telah menjadi refleksi Tina Brown."

Profesor jurnalisme pada Universitas Mississippi yang dikenal sebagai "Mr. Magazine" ini menyebut konten-konten selebritis pada majalah ini telah merusak Newsweek.  "Konten-konten ini sungguh bukan DNA-nya Newsweek," katanya.

Dia menolak pemikiran bahwa saat ini tidak ada ruang dalam lanskap jurnalisme bagi mingguan-mingguan cerdas yang menekankan analisis mendalam (in-depth).

Husni mencontohkan Time dan kebangkitan BusinessWeek menjadi Bloomberg Businessweek yang bahkan disebutnya sebagai "yang harus dibaca" (a must-read).

Sementara itu, Brown dan CEO Newsweek Baba Shetty menekankan bahwa Newsweek tak akan kemana-mana.

"Keluar dari (edisi) cetak sungguh momen yang sulit bagi kami yang lama mencinta cetak dan persabahatan mingguan nan unik pada jam-jam sibuk sebelum ditutup setiap Jumat malam," kata mereka dalam pernyataan bersamanya.

"Namun dalam rangka memperingati hari jadi ke-80 Newsweek tahun depan, kami harus melestarikan jurnalisme yang memberi majalah ini tujuan dan merangkut masa depan digital."

disadur dari "The Buzz Stops Here" dalam American Journalism Review  



: Ida

COPYRIGHT © ANTARA 2026