"Biasanya, kami memotong tiga ekor sapi per hari dibatasi menjadi satu ekor per hari,"
Pangkalpinang, 18/2 (Antara Babel) - Pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, membatasi pemotongan sapi karena permintaan daging masyarakat berkurang.

"Biasanya, kami memotong tiga ekor sapi per hari dibatasi menjadi satu ekor per hari, untuk mengantisipasi kerugian, harga sapi yang tinggi, sementara permintaan daging berkurang," ujar pedagang daging sapi, Sulaiman di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Senin.

Ia menjelaskan, saat ini, permintaan daging sapi masyarakat berkurang karena harga daging sapi masih berfluktuasi tinggi Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram dari harga normal Rp70 ribu per kilogram.

"Saat ini, untuk menjual 100 kilogram daging saja sulit, karena masyarakat beralih membeli daging ayam dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang lebih murah," ujarnya.

Ia mengatakan, harga daging masih berfluktuasi tinggi karena harga ternak di daerah asal masih tinggi, apalagi dalam dua bulan terakhir ini, pedagang tidak lagi mendapatkan pasokan ternak sapi dari Madura, Lombok, Palembang dan Lampung karena kondisi cuaca di perairan masih buruk.

"Pembatasan pemotongan sapi ini juga untuk mengantisipasi kelangkaan daging sapi di pasaran karena stok ternak sapi yang ada merupakan stok tahun lalu yang semakin berkurang," ujarnya.

Menurut dia, apabila kondisi perairan terus memburuk, dikhawatirkan harga daging akan semakin tinggi dan semakin sulit dijangkau masyarakat.

"Saat ini, stok sapi yang ada hanya sekitar 20 ekor, apabila pasokan sapi dari daerah lain belum datang karena kondisi perairan memburuk hingga bulan nanti, maka stok sapi habis dan akan terjadi kelangkaan daging di pasar," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, permintaan daging sapi didominasi pedagang makanan, seperti rumah makan, pedagang bakso dan pedagang makanan lainnya, sementara permintaan ibu rumah tangga mengalami penurunan yang cukup drastis.

Ia berharap, pasokan sapi kembali lancar dan harga ternak sapi turun, jika tidak akan merugikan para pedagang daging sapi.

"Daging sapi yang tidak terjual, terpaksa dibekukan dengan es balok dan harga daging yang dibekukan tersebut di bawah harga daging segar dan apabila daging tersebut tidak juga terjual selama seminggu, maka daging tersebut terpaksa dibuang," ujarnya.

Demikian juga, Sholeh, pedagang daging lainnya mengaku, kesulitan menjual daging sapi, karena tingkat konsumsi daging masyarakat berkurang karena harga tinggi.

"Kami terpaksa membatasi penjualan daging sapi, jika masih dipaksakan menjual daging dalam jumlah banyak maka kami akan rugi," ujarnya. 



Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026