Pangkalpinang (Antara Babel) - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memiliki potensi sumber daya alam berlimpah untuk dikembangkan dan daerah kepulauan ini berpeluang menjadi daerah termaju di Indonesia.

Bangka Belitung yang merupakan sebuah provinsi yang terdiri atas dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta 470 pulau-pulau kecil terletak di jalur perdagangan internasional.

Tidak hanya itu, semenjak diberlakukannya otonomi daerah, tingkat keberhasilan daerah kepulauan ini meningkatkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat cukup tinggi.  
    
Ketua DPD RI Irman Gusman, saat kunjungan kerja ke Bangka Belitung menyatakan provinsi ini berpotensi menjadi daerah termaju dan terdepan di Indonesia, karena berada di jalur perdagangan internasional.

"Babel memiliki potensi besar karena berada di lokasi wilayah yang sangat strategis dan memiliki sumber daya alam sektor kelautan, pertanian, perkebunan, pertambangan yang berlimpah untuk dikembangkan," katanya.

Saat ini, kata dia, paradigma pembangunan telah berubah, dari daratan menjadi kepulauan dan kemaritiman.

"Dulu pengembangan pembangunan terfokus di wilayah daratan, sehingga perekonomian di wilayah kepulauan melambat dan mengalami keterbelakangan," ujarnya.

Namun sekarang, kata dia, wilayah kepulauan menjadi sektor unggulan dalam pengembangan perekonomian Indonesia.

Bahkan sudah lahir Undang-undang kelautan, akan menjadi payung hukum bagi daerah dalam mengembangkan potensi kelautan yang dimilikinya.

"Ini tergantung tekad dan kemauan pemerintah daerah untuk mengelola sumber daya kelautan yang ada. Ini sebuah modal besar daerah kepulauan untuk mengembangkan daerahnya," ujarnya.

Untuk itu, ia berharap, pemerintah provinsi kabupaten/kota untuk saling bersinergi membangun dan menggali potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mengembangkan daerahnya.

Peluang Bangka Belitung menjadi daerah termaju ini, kata Irman Gusman, sudah terlihat seiring  perkembangan perekonomian daerah kepulauan ini mengalami peningkatan yang signifikan selama pemberlakukan otonomi daerah.

"Babel berhasil dalam meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat selama otonomi daerah ini," katanya.

Ia menjelaskan, indikator keberhasilan Babel ini antara lain, peningkatan APBD yang mencapai Rp2,1 triliun per tahun, sementara jumlah penduduk 1,2 juta jiwa.

Jika dibandingkan APBD Sumatera Barat tahun ini hanya Rp3,4 triliun dengan jumlah penduduk 5,2 juta jiwa.

"Ini sebuah indikator, bahwa Babel daerah yang paling menikmati diberlakukannya otonomi daerah ini," ujarnya.

Irman Gusman menyebutkan, kampungnya, Sumatera Barat merupakan provinsi yang sangat tua, kalah oleh Babel sebagai yang belum lama terbentuk.

"Desentralisasi otonomi ini, salah satu indikator keuangan sebagai instrumen pembangunan daerah, menjadikan APBD Babel yang mencapai Rp2,1 triliun," ujarnya.

Sebelum otonomi daerah diberlakukan, kata dia, pembangunan dipusatkan di Jakarta.

"Jadi daerah yang semakin dekat dengan pemerintah pusat maka  semakin sejahtera, sebaliknya daerah yang jauh dari pusat maka semakin tidak sejahtera," ujarnya.

Tidak hanya itu, kata dia, indeks kebahagian Provinsi Bangka Belitung, pada 2014 yang mencapai 68,45 atau nomor dua tertinggi di wilayah Pulau Sumatera.

"Indeks kebahagian Babel peringkat kedua tertinggi setelah Kepulauan Riau dan ini merupakan prestasi yang tinggi serta modal utama untuk lebih meningkatkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat provinsi ini," ujarnya.

Saat ini, kata dia, negara-negara maju seperti Inggris telah merumuskan kebijakan indeks kebahagiaan untuk mengukur tingkat kesejahteraan warganya.

"Jika ingin daerah dinilai baik, maka pemerintah daerah harus mendorong kehidupan keluarga, karena semakin baik hubungan keluarga suami istri dan anak maka semakin baik indeks kebahagiaannya," ujarnya.

Indeks kebahagiaan ini, kata dia, berbanding lurus dengan produktivitas dan pembangunan daerah.

"Hubungan sosial antarmasyarakat penting. Jika dulu tidak menjadi ukuran, terpenting ekonominya kaya dan segala macam," ujarnya.

Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Rustam Effendi menyatakan masyarakat sudah bahagia dengan tingkat kesejahteraan yang cukup tinggi dibanding provinsi lainnya.

"Data BPS ini, membuktikan masyarakat sudah sejahtera dan itu tidak diragukan lagi," katanya.

Bangka Belitung merupakan wilayah kepulauan yang memiliki sumber daya mineral tambang timah, perikanan, perkebunan dan lainnya yang berlimpah untuk dikelola masyarakat.

Salah satu indikator kesejahteraan yang mengukur capaian berdasarkan standar yang tidak sama untuk masing-masing individu adalah indeks kebahagiaan. Pengukuran indeks kebahagiaan dikenal sebagai pengukuran yang bersifat `beyond GDP¿.

Kebahagiaan merupakan suatu hal yang dirasakan dan dipersepsikan secara berbeda oleh setiap orang," ujarnya.

Oleh karena itu, pengukuran kebahagiaan merupakan hal yang subyektif. Dalam hal ini, kebahagiaan menggambarkan indikator kesejahteraan subyektif yang digunakan untuk melengkapi indikator obyektif.

Berbagai penelitian tentang indeks kebahagiaan mengkaitkan kebahagiaan sebagai bagian dari kesejahteraan subyektif dengan komponen kepuasan hidup dan emosi positif.

"Dalam konteks pemanfaatan indeks kebahagiaan sebagai salah satu bahan pengambilan kebijakan publik, maka komponen kebahagiaan yang digunakan adalah kepuasan hidup," katanya.

Namun demikian, Rustam Effendi mengatakan, pemerintah akan terus berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pembangunan sumber daya manusia, optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan meningkatkan ketersediaan sumber energi.

"Saat ini, ketersediaan listrik untuk masyarakat dan kepentingan industrilisasi masih kurang memadai," katanya.

Ia mengatakan, daya listrik terpasang di masyarakat sebanyak 176 mega watt dengan beban puncak 286 mega watt, sehingga pihak PLN melakukan pemadaman listrik bergilir. Terkadang terjadi tiga kali pemadaman listrik di masyarakat.

"Saat ini, kami masih kekurangan 86 mega watt  untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, ketersediaan sumber energi listrik ini yang kurang juga menjadi kendala pengembangan investasi. Untuk mengembangkan investasi ini,dibutuhkan penambahan energi listrik 600 megawatt.

Pengembangan investasi sektor industri pengolahan perikanan, pertanian, pariwisata dan sektor lainnya membutuhkan sumber energi yang cukup.

Pihaknya terus berupaya meningkatkan investasi melalui mengoptimal kegiatan promosi potensi sumber daya alam kepada calon investor dalam negeri dan asing, untuk menjadikan daerah ini berekonomi termaju dan masyarakat sejahtera materi, lahir dan batin," demikian Rustam Effendi.

    
Investasi Rp2,6 triliun
Kepala Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Bangka Belitung Ceppy Nugraha menyatakan target investasi asing mencapai Rp2,6 triliun pada 2015 atau meningkat dibanding 2015 yang sebesar Rp1,6 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, kata dia, pihaknya mengoptimalkan promosi potensi daerah disektor perikanan, kelautan, pertambangan, pertanian, perkebunan dan peternakan.

"Ini cukup sulit, karena kondisi perekonomian masyarakat yang melemah akibat sektor pertambangan timah yang melesu," ujarnya.

Namun demikian, kata dia, pihaknya berupaya meningkatkan promosi potensi daerah ini melalui koordinasi dengan masing-masing SKPD di lingkungan pemerintah provinsi, kabupaten/kota.

"Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam upaya meningkatkan minat calon investor asing untuk menanamkan modalnya di daerah ini," ujarnya.

Selain meningkatkan koordinasi, kata dia, pihaknya mengoptimalkan pelayanan perizinan kepada calon investor asing dan nasional, serta melakukan pendataan ulang potensi investasi untuk memberikan jaminan kepada calon investor  menanamkan modalnya di daerah itu.

"Pendataan ulang potensi investasi ini penting, untuk menekan masalah antara pengusaha dengan masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, selama ini banyak masalah yang muncul, karena data dan potensi yang dipromosikan kepada calon investor tidak sesuai di lapangan.

"Saat ini,  tim survei telah turun ke lapangan untuk mendata ulang potensi investasi di sektor pertambangan, perkebunan, pertanian, kelautan, perikanan dan potensi investasi lainnya," ujarnya.

Dalam pendataan potensi ini, kata dia, pihaknya mendata ulang luas lahan, berapa potensi, status lahan dan lainnya.

"Jangan sampai potensi yang ditawarkan kepada calon investor sudah kelola masyarakat, karena ini akan menimbulkan masalah yang merugikan pemerintah daerah, investor dan masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, mendata ulang potensi sumber daya alam ini akan lebih menarik investor untuk berinvestasi di daerah ini, karena sudah ada jaminan potensi yang akan dikelola.

"Calon investor ini, khususnya investor asing membutuh data yang valid dan bebas masalah. Jika potensi yang ditawarkan bermasalah tentu akan memalukan pemerintah daerah," ujarnya.

Namun demikian, kata dia, berdasarkan data pendataan tahun sebelumnya, potensi investasi sektor kelautan, perikanan pertanian dan perkebunan serta pertambangan cukup besar.

Saat ini, masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan sebesar 23 persen, artinya upaya pengembangan pembangunan pertanian masih sangat dimungkinkan melalui perluasan areal tanam dengan penambahan bahan baku lahan dan optimalisasi pemanfaatan lahan yang ada.

Potensi investasi industri kerajinan yang dapat menunjang sektor pariwisata seperti kerajinan pewter, akar bahar, batu satam, renda, kopiah resam, dan rotan, industri tepung kaolin, batu granit, industri pengolahan karet, kelapa sawit, pengolahan kayu dan pendukung usaha perikanan yaitu pabrik es.

Selain itu, Babel merupakan wilayah kepulauan yang memiliki luas laut kurang lebih 65.301 km2 atau 79,90 persen dari total wilayah daerah ini. Potensi sumber daya perikanan tangkap mencapai 499.500 ton per tahun dengan nilai ekonomis Rp2.497.500.000.000.

Jenis ikan dominan, yaitu tengiri, tongkol, kembung, layang, selar, tembang, kakap, kerapu, bawal hitam, bawal putih, kerisi, ekor kuning, udang windu, dan udang putih.

Sementara itu, panjang pantai 1.200 km dan 251 buah pulau-pulau kecil juga berpotensi untuk usaha budidaya laut seperti ikan kerapu, teripang, rumput laut dan kerang-kerangan. Luas areal untuk budidaya laut adalah seluas 120.000 Ha dengan potensi produksi 1.200.000 ton.

Sementara potensi investasi pertambangan juga cukup besar karena memiliki cadangan yang cukup besar untuk dikelola seperti cadangan pasir kwarsa mencapai 252.500.000 ton, cadangan pasir bangunan 321.900.000 ton, kaolin 224.300.000 ton, granit 210.200.000 meter kubik dan cadangan diabas 89.000.000 meter kubik.

"Mudah-mudahan pendataan ulang potensi investasi selesai pada akhir April tahun ini, dan hasil pendataan diharapkan akan menimbulkan efek positif terhadap minat calon investor berinvestasi di daerah ini," ujarnya.

Pewarta: Aprionis
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026