Berdasarkan pantauan satelit cuaca, pada Minggu (11/10) potensi hujan hanya terjadi di satu dari tujuh kabupaten/kota di daratan Babel."Pangkalpinang (Antara Babel) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang memprediksi bahwa dalam beberapa hari ke depan potensi hujan untuk wilayah Bangka Belitung (Babel) masih tergolong rendah.
"Berdasarkan pantauan satelit cuaca, pada Minggu (11/10) potensi hujan hanya terjadi di satu dari tujuh kabupaten/kota di daratan Babel," ujar Staf Koordinator Unit Analisa pada Kantor BMKG Pangkalpinang Deas Achmad Rivai di Pangkalpinang, Sabtu.
Ia mengatakan, potensi hujan ini diprediksi hanya terjadi di Kabupaten Belitung Timur dengan suhu udara mencapai 33 derajat celsius.
"Sedangkan enam kabupaten lainnya yakni Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Selatan, Bangka Tengah, Belitung dan Kota Pangkalpinang cuaca diprakirakan hanya berawan namun tidak berpotensi turunnya hujan.
Sementara itu, berdasarkan pantauan dari satelit Terra dan Aqua, titik panas di Babel menurun dibanding sebelumnya karena berkurangnya aktivitas yang dapat menimbulkan titik api sebagai indikasi awal kebakaran.
"Hari ini titik panas di Babel hanya terpantau satu titik saja, dimana hari sebelumnya satelit mendeteksi adanya 40 titik panas yang tersebar hampir di seluruh kabupaten di daerah ini," katanya.
Ia mengatakan, titik panas tersebut terdeteksi di Kabupaten Bangka Selatan yaitu di Kecamatan Air Gegas," katanya.
Menurutnya, titik panas itu dapat berubah sewaktu-waktu tergantung suhu udara dan aktivitas pembakaran lahan pada saat kemarau.
Ia mengatakan, meskipun jumlah titik panas mengalami penurunan diharapkan warga tetap mewaspadai kabut asap dan memakai masker sebagai persiapan karena kabut asap tidak hanya datang dari provinsi ini namun juga bisa datang dari provinsi lain.
"Tetap waspada dan jaga kesehatan. Dampak akibat kabut asap cukup buruk karena mengganggu jarak pandang, mengakibatkan mata perih dan juga berpotensi menimbulkan penyakit ISPA," katanya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan hutan, untuk mengurangi polusi udara yang akan merugikan kesehatan masyarakat lainnya.
"Kami berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, karena api akan sulit ditangani seiring kecepatan angin selama musim kemarau ini cukup kencang," katanya.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.