"Suatu saat kandungan bijih timah di Pulau Bangka akan habis, kalau tidak mulai sekarang disiapkan alternatif ekonomi lain tentu akan membahayakan ekonomi masyarakat,"Muntok (Antara Babel) - Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung Hendra Kurniady meminta warga mulai menekuni sektor non-timah untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah itu pasca penambangan timah.
"Suatu saat kandungan bijih timah di Pulau Bangka akan habis, kalau tidak mulai sekarang disiapkan alternatif ekonomi lain tentu akan membahayakan ekonomi masyarakat," ujar Hendra di Muntok, Minggu.
Ia mengatakan, perekonomian masyarakat Bangka Barat saat ini masih didominasi sektor timah, ini jelas terlihat pada saat harga timah tinggi berdampak pada jual beli di pasar dan toko-toko yang ramai,
demikian sebaliknya, pada saat harga timah turun, dagangan di pasar tersisa banyak, bahkan tidak jarang stok toko-toko pakaian semakin menumpuk karena tidak laku.
"Ini merupakan bukti bahwa saat ini perekonomian masyarakat sangat bergantung pada pertambangan timah, kami harap pemkab setempat mulai merencanakan dan menata alternatif ekonomi masyarakat dari sektor lain," kata dia.
Menurut dia, daerah itu memiliki berbagai potensi di sejumlah sektor yang belum dimanfaatkan secara maksimal seperti pariwisata, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan jasa.
Ia mengatakan, dari sektor pariwisata, Bangka Barat memiliki potensi wisata sejarah dari peristiwa pemboman kapal Sekutu oleh Jepang pada masa PD II dan tempat pengasingan Bung Karno dan pejuang kemerdekaan RI yang saat ini baru mulai digarap.
Dari sektor pertanian, kata dia, daerah itu masih mengandalkan pasokan pangan dari luar daerah, padahal memiliki lahan luas yang potensial untuk dijadikan areal penanaman tanaman pangan.
"Dari sektor perikanan darat dan laut sebenarnya potensi cukup melimpah, namun sampai saat ini baru sedikit pelaku yang mengembangkan usaha perikanan, kebanyakan warga masih menjadi nelayan musiman dengan hasil kurang maksimal," katanya.
Dari sektor perkebunan, katanya, daerah itu sejak dahulu terkenal sebagai penghasil getah karet, kelapa sawit dan lada serta berbagai tanaman buah seperti manggan, duku, manggis, nanas dan durian.
"Bangka Barat terkenal sebagai penghasil lada putih muntok atau yang lebih dikenal dengan "Muntok white pepper" namun saat ini seperti tenggelam karena banyak petani beralih ke pertambangan yang dinilai lebih menguntungkan dan cepat menghasilkan uang melimpah," kata dia.
Untuk sektor jasa, kata dia, posisi ibukota Kabupaten yang berlokasi di Kota Muntok memiliki letak strategis karena sebagai pintu gerbang utama Babel bagian barat yang menghubungkan langsung dengan Pulau Sumatera.
Menurut dia, potensi besar yang belum tergarap maksimal tersebut harus segera diperhatikan untuk terus ditingkatkan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Kami berharap pemkab setempat mulai meletakkan pondasi pembangunan non-timah dengan mengoptimalkan sektor potensial lain dengan memberikan berbagai bantuan keterampilan, pengolahan hasil, pengemasan dan membantu pemasaranya," katanya.
Melalui kebersamaan seluruh masyarakat, ia yakin potensi sumber daya alam yang dimiliki Bangka Barat akan mampu meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pewarta: pewarta: Donatus Dasapurna Putranta: Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.