"Melalui rakor ini kita menyatukan persepsi dan konsolidasi terkait apa yang sudah kita lakukan selama 6 bulan lalu agar dilakukan evaluasi," kata Kepala BKKBN Babel, Fazar Supriadi Sentosa di Pangkalpinang, selasa.
Fazar mengatakan melalui rakor ini dan program gule kabung yang dicanangkan Pj Gubernur Babel dapat mengurangi stunting didaerah dan TPPS lebih bergerak lagi sehingga target 14 persen di 2024 itu bisa tercapai karena ditahun angka prevalensi stunting Babel masih 18,5 persen," ujarnya.
Di rakor ini Pj Gubernur Babel Suganda Pandapotan Pasaribu juga memaparkan hasil evaluasi percepatan penurunan stunting tahun 2022, dimana BPKP Perwakilan Provinsi Kepulauan Babel memberi beberapa rekomendasi agar Pemprov Babel melaksanakan rekomendasi tersebut.
Beberapa rekomendasi tersebut yakni, pertama menyusun kebijakan tentang Percepatan penurunan stunting sebagai bentuk komitmen dan visi kepemimpinan, menginstruksikan TPPS untuk melakukan koordinasi melalui wadah-wadah pertemuan semacam rekonsiliasi dan desiminasi atas hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan percepatan penurunan stunting di daerah.
Kedua, melalui Bappeda dapat menginvetarisir kelemahan-kelemahan program yg nantinya disampaikan saat rakornas sekaligus memberi masukan kepada pemerintah pusat. Ketiga, OPD dapat menyusun laporan kinerja dan laporan keuangan penyelenggaraan percepatan stunting secara berkala.
Dan keempat membahas penguatan dan penganggaran serta pemahaman yg lebih komprehensif pada OPD teknis dan instansi terkait yang dilanjutkan dengan peningkatan pemahaman masing2 TPPS di daerah
"Harapan saya rekomendasi yang diberikan ini sudah ditindaklanjuti dengan melibatkan lintas sektor terkait serta menjadi masukan bagi perbaikan pelaksanaan percepatan penurunan stunting di Babel," ujarnya.
Berdasarkan hasil studi status gizi Indonesia (SSGI), angka prevalensi stunting di Indonesia Tahun 2022 adalah 21,6 persen. Sedangkan di Babel berdasarkan SSGI tahun 2021 18,6 persen dan tahun 2022 menjadi 18,5 persen.
"Melihat tren penurunan angka prevalensi stunting yang dianggap belum meyakinkan untuk mencapai target angka prevalensi 14 persen pada 2024 mendatang," ujarnya.
Pemerintah menganggap perlu untuk mempercepat pencapaian yang ada dengan menerbitkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan penurunan stunting dan ditindaklanjuti oleh Kepala BKKBN dengan menerbitkan Peraturan BKKBN Nomor 12 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia Tahun 2021-2024 (RAN-PASTI).
"Usaha untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Babel butuh effort extra karena target prevalensi stunting yang sudah kita tetapkan adalah sebesar 14 persen. Ini tidak mudah, oleh karena itu kesungguhan dan komitmen seluruh stake holder terkait sangat menentukan khususnya tim percepatan penurunan stunting (TPPS)," ujarnya.
Strategi intervensi dari hulu melalui kegiatan prioritas mencegah lahirnya anak stunting, mengoptimalkan peran tenaga lapangan untuk memberi pendampingan kepada keluarga risiko stunting sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia Emas, yakni membentuk keluarga muda yang sehat produktif dan berkeyakinan keluarga secara utuh dalam berbagai aspek kehidupan.
Pewarta: Elza ElviaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.