Anggota Dewan (Komisi I) utamanya menanyakan soal kunjungan Presiden (Joko Widodo) ke Rusia, Laut China Selatan, sementara soal anggaran dibahas bersama Sekjen Kementerian Luar Negeri.
Jakarta (Antara Babel) - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR untuk membahas isu-isu internasional, khususnya Laut China Selatan, dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2016.

"Anggota Dewan (Komisi I) utamanya menanyakan soal kunjungan Presiden (Joko Widodo) ke Rusia, Laut China Selatan, sementara soal anggaran dibahas bersama Sekjen Kementerian Luar Negeri," kata Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin.

Selain itu, anggota Komisi I DPR juga menanyakan masalah perlindungan WNI di luar negeri, khususnya yang berada di Taiwan dan kaitannya dengan "one China Policy" (kebijakan satu China) yang dianut pemerintah Indonesia.

Dalam rapat yang dimulai sekitar pukul 13.30 WIB hingga Senin petang tersebut, anggota Komisi I meminta pendalaman terkait isu Laut China Selatan. Bahkan anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya meminta diadakan agenda khusus untuk Laut China Selatan.

Secara khusus, Komisi I DPR menanyakan insiden penangkapan satu kapal dan tujuh ABK Tiongkok di perairan Natuna,Kepulauan Riau  pada Jumat (17/6) lalu.

Di hadapan sidang Komisi I DPR, Menlu Retno menjelaskan kronologi kejadian bahwa pada Jumat (17/6), pukul 04.24 WIB, kapal TNI AL memergoki 10-12 kapal ikan asing di perairan Natuna yang merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, dan beberapa kapal terlihat sedang melempar jaring sehingga diduga melakukan penangkapan ikan ilegal.

Melihat kapal TNI AL, kapal-kapal asing tersebut mencoba melarikan diri sehingga TNI AL melakukan pengejaran secara terpisah sembari memintanya agar mereka berhenti dan mematikan kapal, baik melalui panggilan radio maupun pengeras suara.

Namun, permintaan tersebut diabaikan sehingga TNI Al memberikan tembakan peringatan yang diarahkan ke udara dan laut. Lagi-lagi peringatan tersebut diabaikan dan mereka mencoba melarikan diri.

Pada akhirnya, TNI AL berhasil menangkap satu kapal asing yang di dalamnya terdapat tujuh ABK, terdiri atas enam laki-laki dan satu perempuan.

Menlu menegaskan bahwa ketujuh ABK tersebut dalam keadaan baik dan tanpa luka apa pun saat ditangkap dan dibawa ke Sabang Mawang, Natuna, untuk investigasi lebih lanjut dan diketahui bahwa kapal dan ABK tersebut berasal dari Tiongkok.

Akibat penangkapan kapal dan ABK Tiongkok tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan protes secara lisan yang dimuat dalam media-media Tiongkok maupun internasional.

Namun, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, hingga saat ini tidak ada nota resmi dari pemerintah Tiongkok kepada Indonesia.

Pewarta: Azizah Fitriyanti
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026