Aktivitas kuli angkut membantu nelayan menurunkan hasil tangkapan bisa ditemukan setiap hari di lokasi itu, namun tidak setiap saat karena jumlah kapal yang merapat setiap harinya bisa dihitung dengan jari tangan.
Usai membantu bongkar muatan kapal nelayan, para kuli angkut banyak menghabiskan waktu di warung makan dan kedai kopi yang berada di sekitar pelabuhan tersebut.
Aktivitas pelabuhan legendaris di pusat Kota Muntok yang pada masa Belanda disebut "Vlucht Haven" saat ini jauh dari kesan ramai lalu lalang kapal maupun aktivitas para kuli angkut dan berbagai jenis transportasi angkutan barang.
Hanya sesekali truk pembawa kotak penyimpan ikan masuk ke pelabuhan untuk mengambil hasil tangkapan nelayan dan kemudian dibawa ke gudang yang berlokasi tidak jauh dari tempat sandar kapal atau langsung dibawa ke luar Muntok.
Pemandangan tersebut berbanding terbalik dengan sejarah kebesaran "vlucht haven" yang konon menjadi pusat ekspor lada putih Bangka, timah dan pusat bongkar muat barang dari kapal-kapal yang singgah di Pulau Bangka selama pendudukan Belanda di pulau itu.
Sebagai penegas kebesaran Pelabuhan Muntok pada zaman dahulu dibuktikan dengan terdaftarnya Muntok di "London Metal Exchange" (LME) sebagai salah satu brand logam timah yang dipasarkan di pasar logam dunia, selain "Muntok White Pepper" sebagai merk dagang lada putih Bangka di pasar internasional.
Kejayaan Muntok sebagai kota pelabuhan terbesar pada zamannya juga bisa dibuktikan dengan berdirinya sejumlah bangunan tua peninggalan Belanda yang masih tersisa di kawasan tersebut.
Beberapa bangunan tua masih berdiri kokoh meskipun minim perawatan, mengilustrasi kebesaran dan kesibukan aktivitas pelabuhan tersebut di masa jayanya.
Pelabuhan Muntok, pada masa itu sudah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, antara lain kantor dagang, gudang, dan fasilitas pendukung lainnya.
Selain bangunan tersebut, "vlucht haven" juga sudah difasilitasi bangunan berupa "brug" menjorok ke tengah laut dengan panjang mencapai ratusan meter yang berfungsi untuk memudahkan kapal-kapal merapat dan menaik-turunkan barang angkutan dan penumpang.
Di kompleks tersebut terdapat bangunan bekas kantor syahbandar Belanda atau "habur master", sebuah bangunan menghadap langsung ke laut berjarak delapan meter dari tanggul penahan gelombang.
Bangunan permanen dengan corak Eropa berbentuk persegi panjang beratapkan genteng, pada bagian serambi terdapat empat buah tiang berbentuk bulat dilengkapi empat buah pintu besar dan sembilan jendela berdaun ganda berbahan kayu dan kaca berdiri cukup kokoh.
Di sisi lain terdapat bangunan yang dahulu disebut Gudang Mayor China, sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan berbagai jenis barang dagangan milik Mayor, berukuran cukup besar terdiri dari tiga bangunan saling berhubungan. Dibangun Mayor dari negeri China bernama Thjung A Thiam pada masa pemerintahan Belanda.
Satu gudang berukuran jauh lebih besar dari Gudang Mayor China berada di sisi lain dengan panjang sekitar 100 meter, namun kondisi saat ini cukup memprihatinkan karena minimnya perawatan.
Bangunan permanen yang biasa disebut dengan Gudang Inggris, dahulu difungsikan sebagai istal kuda pasukan Inggris yang dibangun pada 1813 oleh Mayor Meares pada saat Inggris menguasai Kota Muntok, namun karena minim perawatan, saat ini bangunan tersebut difungsikan oleh warga untuk mendirikan warung-warung kecil menjual makanan dan kedai kopi.
Sejumlah puing bangunan yang ada di kawasan "vlucht haven" memberikan gambaran kebesaran dan peran penting Pelabuhan Muntok pada masa pendudukan Belanda.
Kebesaran peran "vlucht haven" Muntok setidaknya bisa dikembalikan dengan menyelaraskan program daerah dengan Pemerintah Pusat, khususnya dalam bidang perdagangan dan kemaritiman.
Muntok memiliki jumlah penduduk paling banyak dibandingkan lima kecamatan lain di daerah itu dengan mata pencaharian cukup beragam, mulai dari pegawai negeri, BUMN, swasta, petani, nelayan, buruh harian, jasa dan lainnya.
Semakin sempitnya lahan pertanian dan perkebunan yang tersedia di ibu kota kabupaten sebaiknya mulai menjadi pemikiran pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.
Kejayaan "vlucht haven" sekitar 200 tahun lalu bisa menjadi salah satu modal awal yang bisa digunakan untuk membangun perekonomian baru sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai langkah awal, pemindahan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berada di kawasan Pasar Muntok bisa dipindahkan ke kawasan pelabuhan lama.
Menurut Kepala Bidang Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Barat, Yopie Mardianta lokasi TPI Muntok yang menempati tanah sempit di samping pasar ikan kurang layak untuk dikembangkan menjadi pusat pelelangan ikan.
"Kami berharap ke depan seluruh bongkar muat ikan dan kebutuhan nelayan bisa dilakukan di lokasi terpadu, semua jadi satu sehingga mudah dikontrol dan akan meningkatkan pendapatan daerah," kata dia.
Dengan menempati lokasi yang ada saat ini pihaknya kesulitan untuk pengembangan karena keterbatasan lahan yang ada, misalnya untuk pembangunan almari pendingin untuk penyimpanan ikan, pabrik es, penyediaan ari bersih, tempat lelang, dan fasilitas pendukung lainnya.
"Pemkab tidak memiliki kewenangan untuk mengelola Pelabuhan Lama karena terbentur kepemilikan lokasi itu," katanya.
Menurut dia, akan lebih ideal jika Pusat Pelelangan Ikan berlokasi di "vlucht haven" dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang sudah ada di kawasan tersebut sehingga sektor pengelolaan hasil laut di daerah bisa terkontrol dan terpadu.
Keseriusan Presiden RI Joko Widodo dalam membangun kemaritiman di seluruh wilayah Indonesia bisa dimanfaatkan daerah sebagai titik balik sebuah gelombang pembangunan, khususnya dalam bidang kemaritiman.
Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan selalu mengingatkan warga Indonesia untuk tidak lagi memunggungi laut, namun menghadap laut dengan berbagai akselerasi pembangunan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Untuk menyelaraskan keinginan Pemerintah Pusat dengan rencana pembangunan yang dilakukan di daerah, pemerintah daerah perlu merespons untuk mengembalikan kejayaan "vlucht haven" dua abad lalu.
Pelabuhan Muntok berada di Selat Bangka, jalur pelayaran internasional potensial untuk dibangun kembali menjadi sebuah pelabuhan modern, harus ada keberanian memulai untuk meraih mimpi. Mimpi mengembalikan kejayaan Muntok sebagai kota pelabuhan terbesar di wilayah barat Nusantara.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.