Pangkalpinang, (ANTARA Babel) - Nilai ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada Oktober 2012 hanya 198,0 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau turun 14,6 persen dibandingkan September 2012 yang mencapai 231,7 juta dolar AS.

"Penurunan nilai ekspor tersebut disebabkan menurunnya kedua komoditas ekspor utama yaitu timah dan nontimah," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Babel, Teguh Pramono di Pangkalpinang, Senin.

Ia menjelaskan ekspor timah turun 27,3 persen dari 1.805,8juta dolar AS menjadi 1.312,5 juta dolar AS, sedangkan ekspor nontimah sebesar 11,6 persen dari 625,2 juta dolar AS menjadi 552,9 juta dolar AS.      

Menurut dia, total ekspor selama Januari hingga Oktober 2012 mengalami penurunan sebesar 23,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2011 dari 2.430,9 juta dolar AS menjadi 1.865,4 juta dolar AS.

Ia menjelaskan, timah merupakan ekspor terbesar yaitu berperan 70,4 persen dari total ekspor Babel periode Januari hingga Oktober 012.

Tujuan utama ekspor timah adalah Singapura yang mencapai 918,9 juta dolar AS atau 70,0 persen dari keseluruhan ekspor timah, diikuti Malaysia 100,7 juta dolar AS atau sebesar 7,7 persen, Belanda 75,6 juta Dolar AS atau 5,8 persen, Jepang 44,2 juta dolar AS atau 3,4 persen dan China 35,9 juta dolar AS atau 2,7 persen.

Menurut dia, kontribusi kelima negara tersebut mencapai 89,5 persen dari total ekspor timah Babel.

Sementara itu, pada Oktober 2012 terjadi peningkatan ekspor timah ke lima negara tersebut sebesar 12,5 persen yaitu dari 133,1 juta dolar AS menjadi 149,8 juta dolar AS, dengan peningkatan terbesar adalah Jepang sebesar 65,1 persen yaitu dari 5,3 juta dolar AS hingga menjadi 8,8 juta Dolar AS.

Diikuti oleh Malaysia sebesar 25,0 persen kemudian China yaitu sebesar 18,8 persen dan Singapura yang meningkat 17,7 persen dibandingkan dengan September 2012.

Sedangkan Belanda mengalami penurunan jumlah ekspor timah, yang mencapai 61,3 persen yaitu dari 13,1 juta dolar AS menjadi hanya 5,1 juta dolar AS.


Editor : Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026