"Harga berbagai kebutuhan masyarakat cukup stabil, tidak ada peningkatan serius dan ketersediaan barang di tingkat distributor dan pedagang juga memadai," ujar anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bangka Barat Ivan Wahyudi di sela-sela kunjungan di Pasar Muntok, Rabu.
Peninjauan di Pasar Muntok dilakukan empat legislator yaitu Ketua DPRD Kabupaten Bangka Barat Ariyanto, Ahmad A, Sardi dan Ivan Wahyudi. Mereka didampingi Kepala Dinas Perindagkop setempat Rukiman dan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Suhadi bersama staf UPT Pasar Muntok.
Ia menambahkan, dari hasil pantauan tidak ada harga sembako yang melambung. Harga berbagai kebutuhan masih normal dan stabil dalam beberapa hari terakhir.
"Kami harapkan kestabilan harga seperti ini bisa terjaga seiring melemahnya tingkat ekonomi masyarakat seiring tidak stabilnya harga timah dan berbagai hasil perkebunan akhir-akhir ini," kata dia.
Ia mengharapkan pedagang dan pemerintah setempat mampu menjaga kestabilan harga berbagai kebutuhan di pasar hingga usai Lebaran nanti, sehingga seluruh lapisan masyarakat masih dapat menjangkaunya.
Dalam pemantauan itu para legislator juga menyarankan agar ada pembatasan pasokan ayam afkir yang biasanya menyerbu beberapa hari jelang hari raya.
"Berdasarkan aspirasi dari sejumlah pedagang daging ayam kami harapkan pemkab bisa membatasi pasokan itu karena dikhawatirkan akan menggangu harga dan pendapatan pedagang pasar," katanya.
Dari hasil pantauan harga di Pasar Muntok, harga berbagai kebutuhan masih stabil seperti cabai merah kecil stabil Rp90.000 per kilogram, cabai merah besar Rp52.000 hingga Rp58.000 per kilogram, bawang merah Rp68.000 per kilogram, bawang putih Rp20.000 per kilogram.
Harga daging ayam berkisar di Rp32.000 per kilogram dan harga daging sapi Rp100.000 per kilogram. Namun khusus untuk harga daging sapi kemungkinan pada saat mendekati Hari raya Idul Fitri nanti bisa mencapai Rp120.000 per kilogram.
Menanggapi kemungkinan tingginya harga daging sapi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan mengatakan pemkab belum bisa mengontrol harga daging sapi karena sebagian besar kebutuhan pasar masih didatangkan dari luar daerah, sementara pemkab tidak memiliki stok sapi di sejumlah kelompok peternak binaan.
"Seluruh ternak yang ada kami proyeksikan untuk pengembangbiakan, bukan untuk diperjualbelikan di pasar, sementara sapi jantan yang ada adalah sapi pejantan yang tidak memungkinkan untuk dijadikan sapi konsumsi," kata dia.
Pewarta: pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.