Pangkalpinang (ANTARA) - Di tengah derasnya arus informasi dan keterbukaan era digital, saat ini banyak orang yang berada dalam persimpangan nilai dan norma. Apa yang dahulu dianggap tidak pantas, kini sering kali dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Salah satu perubahannya adalah perilaku toxic, sebuah perilaku dan tindakan individu yang bersifat merugikan orang lain sama seperti orang yang memiliki karakter beracun yang sudah pasti akan membuat orang lain tidak nyaman. Perilaku toxic ini akan merusak secara emosional, psikologis, atau sosial semakin sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa, bahkan terkadang dirayakan.

Hal ini bukan sekadar perubahan cara komunikasi, melainkan adanya pergeseran standar sosial. Saat ini, tidak sedikit orang yang menganggap toxic behavior sebagai ekspresi jujur, bentuk keaslian diri, atau bahkan kekuatan karakter yang membawa dampak negatif kepada sekitarnya dan dapat menimbulkan banyak konflik yang lebih besar. 

Media sosial telah menjadi ruang utama di mana toxic behavior mendapat tempat, seperti komentar yang mengandung ejekan atau sindiran, konten yang mengolok-olok orang lain, hingga tren mengumbar masalah pribadi demi kepuasan semuanya untuk menjadi tontonan sehari-hari. Perilaku-perilaku seperti ini sering kali mendapat dukungan, likes, dan followers dan itu menjadi popularitas kebenaran bukan lagi etika.

Banyak dari kita mungkin pernah mendengar kalimat seperti, “Dia memang toxic, tapi jujur” atau “Lebih baik kasar tapi nyata daripada manis tapi palsu”. Pendapat seperti ini memberi pembenaran atas perilaku yang seharusnya ditolak. Tanpa sadar, kita mulai menormalisasikan hal-hal yang dapat menyakiti orang lain demi kepuasan pribadi atau realitas di ruang publik.

Dengan membiarkan toxic menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mental dan hubungan sosial masyarakat. Gaya hidup toxic di lingkungan kerja itu dapat menciptakan suasana penuh tekanan dan ketidakpercayaan. Perilaku manipulatif dan merendahkan dianggap bagian dari interaksi yang biasa. Toxic ini menjadi trend di media sosial bagi kalangan remaja, trend ini bisa membentuk pola pikir bahwa kekerasan verbal adalah hal wajar dalam berkomunikasi.

Keadaan ini tidak hanya merusak seseorang secara personal, tetapi juga bisa merusak secara bersama-sama. Saat empati, toleransi, dan komunikasi sehat ditinggalkan, maka kita akan kehilangan kepercayaan sosial yang penting dalam masyarakat. Hal ini bisa terjadi karena salah satu faktor utama adalah perubahan pola komunikasi akibat teknologi.

Interaksi di dunia maya itu lebih cepat berlangsung, maka dari itu orang-orang lebih mudah mengungkapkan pendapat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Identitas dan jarak membuat tanggung jawab moral ikut menghilang dan perilaku toxic pun tumbuh subur tanpa ruang batas. Di tengah tuntutan untuk tampil, sukses, dan eksis, banyak orang yang terjebak dalam persaingan dengan menghalalkan segala cara dan kita lebih sibuk menciptakan citra daripada membangun karakter.

Saatnya kita menyadari bahwa toxic bukanlah identitas, bukan pula bentuk kekuatan. Toxic adalah sinyal adanya luka, ketidakseimbangan, dan krisis dalam diri atau masyarakat. Maka, yang dibutuhkan bukanlah penerimaan, tetapi pemulihan.

Pemulihan dari cara pikir yang merusak, dari budaya yang menghargai perbedaan pendapat, dan dari peraturan yang mengutamakan tanggapan daripada kekayaan. Kita juga perlu menanamkan kembali nilai-nilai dasar dalam interaksi sosial seperti empati, tanggung jawab, dan integritas. Batas antara jujur dan menyakiti, antara kritis dan menghina, harus tetap dijaga.

Pergeseran standar sosial memang tidak bisa dihindari. Namun, arah pergeseran itu bisa kita kendalikan. Apakah kita ingin menjadi masyarakat yang cerdas dan beradab, atau justru membiarkan kekasaran menjadi hal yang wajar? Jawabannya itu ada pada pilihan kita: apakah kita membiarkan toxic menjadi wajar, atau mulai kembali pada nilai-nilai kemanusiaan.

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB)



Editor : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026