Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Sejumlah pelaku seni di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bergotong royong menyukseskan seluruh rangkaian Mentok Arts Festival 2025 yang digelar di Rumah Peradaban Mentok.
Ketua Panitia Mentok Arts Festival (MAF) 2025 Silo Sandro di Mentok, Rabu, mengatakan kesuksesan penyelenggaraan MAF ini bukti kekuatan komunitas yang efektif menggalang energi dalam kebersamaan.
"Kesuksesan kegiatan ini seperti kita mengenali kembali satu warisan budaya besar orang Indonesia, gotong royong," katanya.
Mentok Arts Festival 2025 yang digelar selama tiga hari menyuguhkan beberapa rangkaian acara, antara lain peluncuran dan diskusi video "Melabuhkan Harapan", sebuah video yang diproduksi bersama anak-anak Mentok, bercerita tentang kecintaan dan harapan atas kota Mentok dari sudut pandang anak muda.
Selain itu, penganugerahan bagi pemenang kompetisi film pendek, sebuah ajang yang diramaikan 17 karya film pendek sineas muda dari Kabupaten Bangka Barat dengan beragam tema yang menarik.
Selain film, kata dia, sesi Pojok Musik Mentok menghadirkan musisi kelahiran Kota Mentok, seperti Tirdza dan Joko HP&Friends yang membawakan karya mereka dan cukup mendapatkan antusiasme penonton.
Mentok Arts Festival 2025 sebagai wahana ekspresi berkesenian yang diinisiasi oleh Daon Sempor ini, berhasil menghadirkan wahana yang berbeda dengan kegiatan serupa pada tahun sebelumnya, karena tahun ini menghadirkan pojok pusaka dan agenda Mentok, pojok musik, peluncuran buku, diskusi, dan malam sastra, "culinary perform", kompetisi film pendek dan mural bertema "Mentok kota 1000 kue".
Berbagai kegiatan itu mampu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Mentok untuk dapat dan menikmati MAF 2025. Keterlibatan pelaku seni budaya, generasi muda, bahkan pelajar terasa membangun suasana yang egaliter dan responsif dalam perhelatan ini.
"Pada kegiatan mural gotong royong bertema 'Mentok kota 1000 kue', kita libatkan puluhan pelajar SMP, SMA/sederajat, dalam waktu tiga hari mereka mampu menyelesaikan mural sepanjang 34 meter," ujarnya.
Silo mengatakan sekitar 90 persen anggaran yang digunakan untuk pelaksanaan rangkaian MAF 2025 merupakan gotong royong para pelaku seni dan komunitas seni di Mentok. sedangkan 10 persen lainnya sumbangan dari beberapa pihak yang ingin membantu kesuksesan kegiatan tersebut.
Pemilik Rumah Peradaban Mentok Ridwan Djamaluddin mengajak semua pihak untuk peduli dan mendukung acara seperti ini karena dengan berkesenian menjadi cara menjaga kewarasan.
"Di tengah hiruk pikuk dinamika dunia saat ini yang terasa tidak menentu, setidaknya di Kota Mentok ini masih ada upaya dan wahana bagi kita semua untuk menjaga kewarasan, kearifan, adab, dan budaya," katanya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Barat Muhammad Soleh menyampaikan apresiasi kepada Perkumpulan Daon Sempor dan para penggiat budaya yang telah bersama-sama melaksanakan kegiatan MAF 2025.
"Ini sebuah bukti bagi Bangka Barat untuk percaya dan optimis dengan kekuatan komunitas, bersama-sama pemerintah membangun negeri," katanya.
Sebagai perhelatan yang juga menjadi bagian peringatan Hari Jadi Ke-291 Kota Mentok, MAF 2025 mencoba menggaungkan ajakan kepada masyarakat untuk selalu berbuat baik bagi kota yang ditinggali agar semakin nyaman, lestari, mampu menampung aspirasi, ekspresi, dan kreatifitas warganya.
Melalui kegiatan itu diharapkan kebaikan yang telah dilakukan akan kembali dengan caranya yang indah.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026