Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Bupati Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyatakan perayaan Cap Go Meh merupakan simbol toleransi budaya dan terbukti mampu memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat di daerah itu.
"Bangka Barat memiliki masyarakat dengan latar belakang multikultural. Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk menjadikan perayaan Cap Go Meh atau juga sembahyang bulan sebagai wujud toleransi dan mendorong agar terus dilestarikan dan dikembangkan ke depannya," kata Bupati Bangka Barat Markus dalam keterangan diterima di Bangka Barat, Rabu.
Menurut dia, perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan di Parittiga selalu ramai dikunjungi warga, baik warga sekitar maupun dari luar daerah, hal ini cukup positif dan potensial untuk terus dikembangkan menjadi salah satu agenda wisata daerah, sehingga mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Pada Selasa (3/3) malam, warga peranakan Tionghoa di Kecamatan Parittiga dan Jebus merayakan Cap Go Meh di Kelenteng Kimjung Puput, perayaan sembahyang bulan pada hari ke 15 dalam tradisi budaya keturunan Tionghoa adalah sebagai penanda berakhirnya semua rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
Markus mengatakan Pemkab Bangka Barat menyambut baik tradisi Cap Go Meh karena mengandung nilai-nilai tradisi budaya luhur, sebagai wadah pemersatu dan silaturahim antarwarga, serta bentuk keharmonisan dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai etnis yang ada di daerah itu.
Ia mendorong para pemuda di daerah itu agar ke depan acara ini bisa terus dilestarikan dan dikembangkan dengan cara yang lebih kreatif dan positif sesuai zaman, namun tanpa mengurangi nilai-nilainya yang sekiranya mampu dinikmati oleh seluruh masyarakat.
"Tidak hanya untuk masyarakat Parittiga dan sekitarnya, namun juga harus bisa dinikmati warga di luar Bangka Barat, sehingga kegiatan tahunan ini memberikan dampak positif dalam sektor pariwisata dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat," katanya.
Rangkaian Cap Go Meh diawali dengan pawai seni yang melewati sejumlah jalan utama di Parittiga, pada pawai ini juga ditampilkan atraksi puluhan grup barongsai, ratusan warga ikut serta dalam pawai keliling tersebut sebelum mereka menikmati sajian musik, tari kolosal dan berbagai seni pertunjukan lain di panggung utama.
Sepanjang jalan dipasang ratusan lampion dengan nyala lampu indah penghias suasana malam hari penuh warna sebagai simbol semangat dan harapan baru bagi warga di daerah itu.
Berdasarkan catatan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten bangka Barat, Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi yang sudah masuk dalam objek pemajuan kebudayaan daerah.
Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi sebagai penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang masih dijaga dan dilestarikan warga keturunan Tionghoa di Bangka Barat.
Secara sederhana, Cap Go Meh berarti malam ke-15 setelah Imlek, istilah ini berasal dari dialek Hokkien, Cap artinya sepuluh, Go lima, dan Meh malam. Jadi, tepat di hari ke-15 kalender Imlek, saat bulan sedang bulat utuh, umat Konghucu melaksanakan sembahyang penutupan tahun baru yang dikenal sebagai Sembahyang Gwan Siau atau Yuan Xiao Jie.
Dibalik kemeriahan perayaan ini memiliki makna kebersamaan dan harapan yang kuat, karena perayaan itu menjadi momentum bagi keluarga untuk kembali berkumpul, berbagi bersama dan menguatkan tali persaudaraan.
Cap Go Meh menjadi penutup seluruh rangkaian Imlek untuk kemudian kembali pada rutinitas, bukan berarti semangat ikut selesai, namun justru dari perayaan ini muncul dorongan untuk memulai tahun dengan langkah nyata, dengan lebih banyak bersyukur, berbagi, mempererat persaudaraan, menguatkan hubungan baik dan memperbarui semangat untuk masa depan yang lebih baik.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026