Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah seiring penurunan cukup besar pada harga minyak.

“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Anadolu, patokan internasional minyak mentah Brent sempat diperdagangkan 87,6 dolar AS per barel, dan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di kisaran 84,2 dolar AS per barel. Angka ini menurun setelah sempat melonjak di atas 119 dolar AS per barel pada Senin (9/3) terkait kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz yang terkait dengan perang Iran dengan AS-Israel.

Menurut Lukman, penurunan tersebut disebabkan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan perang dengan Iran diperkirakan akan "segera berakhir", tetapi membantah berakhir pada pekan ini.

“Ada harapan dari pernyataan Trump yang akan mengamankan Selat Hormuz, dan pernyataannya bahwa perang akan berakhir tidak lama lagi, walau belum tentu hal ini terjadi, namun memberikan sentimen yang positif,” ungkap dia.

Di sisi lain, dia juga menyampaikan bahwa perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS.



Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026