Mataram (ANTARA) - Langit Maret di kawasan timur Indonesia menghadirkan suasana yang tidak biasa. Dalam hitungan hari, dua perayaan besar umat beragama datang silih berganti.

Di Bali, umat Hindu bersiap memasuki kesunyian Hari Raya Nyepi, sementara di banyak daerah lain, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB), umat Islam bersiap menyambut gema takbir Idul Fitri.

Tahun 2026 mempertemukan dua momen spiritual itu dalam jarak waktu yang sangat dekat. Nyepi jatuh pada 19 Maret, sementara Idul Fitri diperkirakan pada 21 Maret.

Di antara dua tanggal itu, malam takbiran berpotensi berdekatan dengan suasana penyepian. Situasi ini menghadirkan tantangan, sekaligus peluang, yakni bagaimana menjaga harmoni di tengah perbedaan cara merayakan iman.

Indonesia bukan negara yang asing dengan keragaman. Setiap momentum yang mempertemukan dua tradisi besar dalam waktu yang hampir bersamaan, selalu menguji kedewasaan sosial. Di sinilah toleransi tidak lagi sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari yang nyata.


Pertemuan dua tradisi

Nyepi dan Idul Fitri membawa pesan spiritual yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Nyepi mengajarkan sunyi, perenungan, dan pengendalian diri melalui Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang. Idul Fitri sebaliknya menghadirkan kegembiraan, setelah umat Islam, sebulan penuh menahan diri, kemudian mengumandangkan takbir, silaturahmi, dan perayaan kemenangan spiritual.

Pertemuan dua tradisi ini terlihat jelas di Bali dan Mataram, NTB. Menjelang Nyepi, masyarakat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh sebagai simbol pembersihan alam dari energi negatif. Di sisi lain, umat Islam mulai mempersiapkan malam takbiran yang biasanya diramaikan dengan kegiatan di masjid dan mushala.

Karena itu, berbagai pihak berupaya mencari titik temu agar dua perayaan tersebut tetap berjalan khidmat, tanpa saling mengganggu. Pemerintah, tokoh agama, dan aparat keamanan merumuskan sejumlah penyesuaian. Salah satu di antaranya adalah pelaksanaan takbiran yang tetap diperbolehkan, namun dengan pembatasan tertentu.

Di Bali, misalnya, takbiran dapat dilakukan di masjid atau mushala terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara serta dibatasi waktunya pada malam hari. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat tetap dijalankan, tanpa menghilangkan penghormatan terhadap keyakinan orang lain.

Pengalaman masa lalu juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mampu melewati situasi serupa. Pada 2004, Nyepi pernah bertepatan dengan Idul Fitri, dan kedua perayaan berjalan relatif aman. Hal itu menjadi bukti bahwa toleransi bukan hanya wacana, tetapi telah menjadi praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Momentum tahun ini, bahkan dapat menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana keberagaman dirawat secara nyata.


Toleransi yang diuji

Jika Bali sering menjadi simbol toleransi berbasis kearifan lokal, maka daerah lain, seperti Mataram di NTB, menunjukkan wajah kerukunan yang berbeda, namun sama kuatnya. Kota ini dihuni berbagai komunitas agama dengan tradisi yang beragam.

Di Mataram, masyarakat tidak hanya menghadapi kemungkinan berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri, tetapi juga dinamika sosial, seperti pawai ogoh-ogoh dan kegiatan takbiran. Kedua kegiatan itu sama-sama melibatkan mobilitas massa dan potensi keramaian.

Karena itu, imbauan agar takbiran lebih banyak dilakukan di masjid menjadi langkah penting. Selain menjaga kekhusyukan ibadah, kebijakan ini juga membantu meminimalkan potensi gesekan di ruang publik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa toleransi sering kali lahir dari kesediaan untuk menahan diri.

Toleransi bukan berarti mengurangi makna ibadah, melainkan menempatkan ibadah dalam konteks hidup bersama. Dalam masyarakat majemuk, ruang publik harus dikelola dengan kebijaksanaan agar semua kelompok merasa dihargai.

Tantangan terbesar tidak selalu datang dari perbedaan agama, melainkan dari kesalahpahaman, provokasi, atau informasi yang tidak utuh di media sosial. Dalam era digital, satu narasi yang keliru dapat memicu persepsi yang salah di tempat lain.

Karena itu, literasi sosial dan komunikasi antarkomunitas menjadi faktor penting. Tokoh agama, pemuda, dan pemerintah daerah memiliki peran besar untuk memastikan masyarakat memahami bahwa penyesuaian tertentu bukanlah bentuk pembatasan ibadah, melainkan cara menjaga keharmonisan bersama.

Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga hasil dari sistem sosial yang bekerja dengan baik.


Peran negara dan aparat

Ketika dua momentum keagamaan besar bertemu, negara memiliki peran strategis dalam memastikan situasi tetap aman dan kondusif. Aparat keamanan tidak hanya bertugas menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi penopang stabilitas sosial.

Di Bali, ribuan personel kepolisian diterjunkan dalam operasi pengamanan menjelang Nyepi dan Idul Fitri. Pengamanan tidak hanya difokuskan pada tempat ibadah, tetapi juga pada objek vital, jalur transportasi, dan lokasi keramaian.

Langkah ini penting karena rangkaian kegiatan Nyepi sendiri melibatkan berbagai aktivitas publik, seperti Tawur Kesanga dan parade ogoh-ogoh. Sementara menjelang Lebaran, mobilitas masyarakat meningkat seiring arus mudik dan kegiatan ibadah.

Pengamanan yang baik bukan sekadar soal jumlah personel, tetapi juga pendekatan yang humanis. Di Bali, aparat keamanan bekerja bersama pecalang, yaitu penjaga adat yang memiliki otoritas sosial di tingkat desa dan kampung. Kolaborasi antara aparat negara dan lembaga adat menjadi contoh bagaimana sistem keamanan berbasis komunitas dapat berjalan efektif.

Model seperti ini sebenarnya dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Keamanan bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang membangun rasa saling percaya antara masyarakat dan aparat.

Dalam konteks toleransi, kehadiran negara berfungsi sebagai penjamin bahwa setiap warga dapat menjalankan ibadahnya dengan aman. Prinsip ini sejalan dengan nilai dasar negara yang menempatkan kebebasan beragama sebagai hak fundamental.

Hanya saja, keamanan tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Masyarakat sendiri harus menjadi penjaga pertama harmoni sosial.

Ketika warga saling memahami tradisi satu sama lain, potensi konflik akan berkurang secara alami. Sebaliknya, ketika rasa saling curiga berkembang, bahkan perbedaan kecil dapat memicu ketegangan.

Di sinilah pentingnya menjadikan momen Nyepi dan Idul Fitri sebagai ruang pembelajaran bersama. Dua hari raya ini sebenarnya memiliki pesan yang serupa, yakni pengendalian diri, introspeksi, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Sunyi Nyepi mengajak manusia menenangkan diri dan merenung. Takbir Idul Fitri mengajak manusia bersyukur dan saling memaafkan. Jika dua nilai ini dipadukan, masyarakat justru memiliki peluang besar untuk memperkuat persaudaraan.

Momentum Maret 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang dua perayaan yang berdekatan. Ia adalah cermin kedewasaan bangsa dalam merawat perbedaan.

Indonesia dibangun di atas keberagaman yang luas, dari bahasa hingga keyakinan. Harmoni tidak tercipta secara otomatis, tetapi melalui kesediaan untuk saling memahami dan menjaga ruang hidup bersama.

Ketika sunyi Nyepi dan gema takbir Idul Fitri dapat berjalan berdampingan dengan damai, di situlah makna Bhinneka Tunggal Ika menemukan wujudnya yang paling nyata.



Pewarta: Abdul Hakim
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026