Jakarta (ANTARA) - John Herdman membuka era baru timnas Indonesia dengan sangat manis. Kontrol penuh atas Saint Kitts dan Nevis, yang ditutup dengan kemenangan besar dan clean sheet, menjadi awal yang sangat menjanjikan dari pelatih berkebangsaan Inggris tersebut.
Namun, cerita serupa tak akan mudah terulang pada laga final FIFA Series 2026 malam nanti. Di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pukul 20.00 WIB nanti, Indonesia bisa dipastikan akan menjalani 90 menit yang lebih menantang dan lebih panjang.
Bulgaria menjadi ujian sesungguhnya untuk Herdman. Negara Eropa asuhan Aleksander Dimtrov itu akan menjadi tolak ukur awal sebenarnya, soal sudah sejauh mana level timnas Indonesia di era baru ini.
Sebagai gambaran, Bulgaria adalah tim Eropa yang kini menempati peringkat 86 dunia berdasarkan live ranking yang tertera di laman resmi FIFA, per Senin pukul 15.00 WIB.
Mereka menjadi negara yang pernah mencicipi atmosfer pertandingan Piala Dunia dalam tujuh edisi, dengan prestasi terbaik menjadi peringkat keempat pada 1994 di Amerika Serikat bersama generasi yang dipimpin oleh Hristo Stoichkov.
Meski tak pernah berpartisipasi di Piala Dunia lagi sejak terakhir kali 1998, Bulgaria tetap menjadi perhatian besar. Kualitas permainan Bulgaria juga patut diwaspadai oleh Herdman, karena mereka terus ditempa pertandingan internasional melawan negara-negara seperti Turki, Spanyol, dan Georgia di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tak hanya tiga negara itu, Bulgaria juga tercatat rutin melawan tim-tim top lainnya di benua Eropa, baik di laga persahabatan atau pun laga kompetitif. Ada Serbia dan Hungaria yang mereka hadapi di Kualifikasi Piala Eropa 2024, lalu Prancis di laga persahabatan, hingga Italia, Irlandia Utara, dan Swiss di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
Saat ditanya mengenai kekuatan lawan, Herdman menjawab itu terletak pada permainan sayap mereka yang berbahaya, yang juga kerap membuat kombinasi permainan segitiga untuk merusak struktur bertahan lawan.
Jay Idzes dan kawan-kawan harus segera merusak momentum apabila Bulgaria mulai melancarkan taktiknya ini. Pasalnya, tambah Herdman, apabila dibiarkan dan mereka kemudian mendapatkan ritme, itu akan sangat membahayakan. Sebagai buktinya, permainan Bulgaria ini membuat Kepulauan Solomon menyerah 2-10 pada laga pertama FIFA Series 2026, Jumat lalu.
Membandingkan dengan Saint Kitts dan Nevis, Herdman menegaskan bahwa “Bulgaria berbeda”. Tim berjuluk Lavovete (Singa) itu memiliki fisik yang lebih besar dan kuat, serta tampil lebih terorganisir, baik saat menyerang maupun bertahan.
"Kami harus menemukan cara untuk menang," kata Herdman, pelatih yang memimpin timnas Kanada di Piala Dunia 2022 tersebut.
Salah satu cara untuk memenangkan pertandingan final ini adalah membawa laga sampai adu penalti. Tak ada hasil imbang di turnamen ini, sehingga apabila sebuah laga berakhir seri dalam 90 menit, maka tak ada tambahan waktu dan pemenang akan ditentukan langsung melalui penalti.
Herdman sudah menyiapkan semua kemungkinan. Di sesi latihan tim di Stadion Madya kemarin sore, pelatih berusia 50 tahun itu mendatangi awak media sebelum melakukan wawancara dengan meminta maaf, bahwa latihan di sore itu sedikit lebih lama karena timnya juga menyisipkan sesi khusus latihan penalti.
Garuda yang baru
Sebuah era baru, mendatangkan harapan baru. Bersama Herdman, pencinta sepak bola Indonesia bisa bernapas lega setelah juru taktik kelahiran Consett itu memulai debutnya dengan mengesankan.
Skor 4-0 menjadi penilaian awal yang kembali mengundang senyum masyarakat Indonesia. Meski kemenangan besar melawan Saint Kitt dan Nevis, tim peringkat 154 dunia FIFA, tak bisa menjadi patokan, kemenangan ini tetap menjadi angin segar bagi perjalanan timnas ke depan.
Setidaknya, Herdman sudah memberikan sedikit gambaran bagaimana "Garuda yang baru" di eranya. Dapat dilihat dari bagaimana Indonesia bermain. Herdman membuat pemainnya nyaman menjalankan sistemnya. Dengan formasi 4-4-2 hybrid yang ia turunkan pada laga itu, permainan Garuda tampak sangat cair dan fleksibel.
Sistem 4-4-2 ini bekerja saat tanpa bola (out of possession), sementara di situasi sebaliknya, saat Indonesia memegang bola, bentuk formasinya akan berubah menjadi 3-2-5, bahkan bisa bertransisi menjadi 3-4-3, tergantung situasi di lapangan.
Elkan Baggott, Jay Idzes, dan Rizky Ridho membentuk formasi sejajar di belakang saat menyerang. Ketiga pemain ini dibantu oleh dua gelandang, Calvin Verdonk dan Jordi Amat, untuk mengalirkan bola ke depan.
Dony Tri Pamungkas dan juga Kevin Diks ditugaskan untuk lebih naik, demi menjaga area lebar permainan. Ramadhan Sananta sebagai ujung tombak, sementara Beckham Putra dan Ole Romeny menjalankan peran sebagai pemain kreatif nomor 10, yang kerap turun menjemput bola, membuka ruang, dan juga memberikan umpan-umpan kunci.
Saat bertahan, sistem Herdman yang sangat dinamis ini, menjalankan struktur 4-4-2, dengan Sananta dan Ole menjadi lini pertama dalam pressing. Beckham dan Kevin turun untuk menempati gelandang sayap kiri dan gelandang sayap kanan, sementara Verdonk dan Jordi tetap di area tengah.
Di barisan pertahanan, Ridho sedikit melebar menjadi bek sayap kanan, Elkan dan Jay menjadi bek tengah, sedangkan Dony kembali menjadi bek sayap kiri.
Sistem yang sangat dinamis ini dijalankan dengan baik oleh Jay dan kawan-kawan di lapangan. Ketika Ole turun, pemain lainnya akan mengeksploitasi ruang kosong di pertahanan Saint Kitts dan Nevis.
Beberapa kombinasi di area sisi kanan dan kiri kerap terlihat, dengan Indonesia melakukan umpan kaki ke kaki untuk menarik pemain lawan, kemudian memanfaatkan ruang kosong yang ditinggal pemain yang bersangkutan. Dari pola ini, dua gol Beckham lahir, yang semuanya dari assist Ole.
Herdman menyebut di sistemnya, peran seorang striker tak melulu soal mencetak gol. Di sepak bola modern, striker nomor 9 harus bisa bergerak aktif. Tujuannya adalah untuk pemantul bola, membuka ruang untuk pemain lain, dan juga pressing untuk membantu pertahanan.
Semua ini dilakukan oleh Sananta. Meski ia tak mencetak gol dari beberapa situasi yang ia dapatkan, Herdman mengatakan peran Sananta sangatlah vital di dalam tim. Ia menyebut, peran striker DPMM FC itu seperti Olivier Giroud di Piala Dunia 2018, yang menjadi pemain penting Prancis saat menjadi juara, meski tak mencetak gol.
"Perannya adalah membuka ruang, menjadi lini pertama dalam pressing. Jika Anda lihat Olivier Giroud, dia pernah tidak mencetak gol di Piala Dunia, tapi tidak dikritik karena kontribusinya untuk tim. Sananta adalah pemain seperti itu," tutur Herdman menanggapi kritikan yang diterima Sananta di laga kontra Saint Kitts dan Nevis.
Bagi Kevin Diks, sistem baru di timnas Indonesia ini juga dijalankannya dengan mudah. Tak ada masalah adaptasi dari semua pemain menurut pengakuannya.
"Kami menjadi lebih solid karena dia menempatkan setiap pemain sesuai kekuatannya (masing-masing). Itu hal yang penting," kata bek Borussia Moenchengladbach tersebut, yang juga pernah bermain untuk Garuda di dua era sebelumnya bersama Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert.
Apa yang harus dilakukan Indonesia malam nanti?
Herdman mengingatkan timnya untuk tak mengulangi kesalahan yang sama melawan Bulgaria seperti menghadapi Saint Kitts dan Nevis. Dalam laga debutnya itu, anak-anak asuhnya telat panas di awal pertandingan.
Jika hal yang sama terulang melawan Bulgaria nanti malam, Indonesia akan dalam bahaya. Dengan kualitas yang dimiliki Bulgaria, sedikit kesalahan saja akan membuat mereka menghukum lawan-lawannya dengan gol.
Inilah yang tak terjadi pada laga kontra Saint Kitts dan Nevis. Karena perbedaan kualitas pemain yang mereka miliki, sedikit kesalahan dari Indonesia dalam laga itu tak terlalu berdampak signifikan.
Untuk itu, permainan Indonesia harus langsung "hidup" sejak peluit pertama dibunyikan. Tak ada lagi start pelan, apalagi membuat kesalahan yang tak perlu. Jika semuanya sesuai rencana, peluang untuk menutup FIFA Series 2026 dengan sempurna akan terbuka lebar.
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026