Kuala Lumpur (ANTARA) - Organisasi kepemudaan Malaysia berbasis Islam, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) mengecam serangan yang terjadi ke markas pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) yang menggugurkan satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Angkatan Belia Islam Malaysia mengecam sekeras-kerasnya serangan yang telah menewaskan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia, Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon, serta melukai beberapa anggota lainnya ketika bertugas di bawah misi penjaga perdamaian UNIFIL," kata Presiden ABIM Ahmad Fahmi bin Mohd Samsudin.

Fahmi dalam keterangan kepada ANTARA di Kuala Lumpur, Senin, menyampaikan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian bukan sekadar tragedi, tetapi merupakan sinyal yang jelas bahwa norma dasar keamanan internasional sedang terkikis.

ABIM menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban serta menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat dan pemerintah Indonesia atas kehilangan ini.

Menurut Fahmi, insiden ini merupakan kehilangan besar bukan saja bagi Indonesia, tetapi juga bagi seluruh komunitas internasional yang berkomitmen terhadap upaya perdamaian global.

Baca juga: Personel RI di UNIFIL gugur di tengah konflik Hizbullah dan Israel

"Peristiwa ini tidak dapat dipandang sebagai insiden yang terpisah. Hal ini mencerminkan kemerosotan serius terhadap perlindungan pasukan penjaga perdamaian internasional. Ketika pasukan penjaga perdamaian yang beroperasi di bawah mandat internasional turut menjadi sasaran, dunia kini menghadapi krisis kepercayaan yang semakin dalam terhadap kemampuan sistem keamanan kolektif," ujar Fahmi.

Dalam konteks ini, ABIM menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian bukan lagi sekadar isu operasional, tetapi telah menjadi persoalan strategis yang menuntut tindakan segera dan terkoordinasi di tingkat internasional.

Setiap keterlambatan dalam bertindak hanya akan meningkatkan risiko eskalasi serta semakin mengikis kredibilitas institusi internasional.

Pada saat yang sama, ABIM mencermati kehadiran anggota Batalion Malaysia (MALBATT) yang saat ini bertugas di Lebanon di bawah misi UNIFIL.

ABIM mendorong agar pihak berwenang Malaysia memberikan informasi yang jelas dan terkini mengenai status keamanan prajurit Malaysia, sekaligus memastikan langkah perlindungan ditingkatkan secara menyeluruh sesuai dengan tingkat risiko saat ini di kawasan operasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, ABIM mengemukakan sejumlah hal yakni pertama, Malaysia perlu segera melakukan penilaian menyeluruh terhadap tingkat keamanan anggota MALBATT, termasuk kesiapsiagaan operasional, aturan pelibatan, serta kebutuhan penguatan perlindungan di lapangan. Keselamatan anggota harus menjadi prioritas mutlak dalam setiap pertimbangan strategis.

Kedua, Malaysia bersama Indonesia dan negara-negara ASEAN perlu menyelaraskan posisi bersama untuk mendesak jaminan keamanan yang lebih tegas di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk memastikan akuntabilitas terhadap pihak mana pun yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian.

Ketiga, ASEAN tidak boleh tetap menjadi pengamat pasif dalam isu ini. Sebaliknya, kawasan ini perlu tampil sebagai blok regional yang lebih proaktif, termasuk mempertimbangkan pernyataan bersama serta mekanisme konsultasi cepat di antara negara-negara kontributor, guna mempertahankan prinsip perlindungan pasukan penjaga perdamaian dan norma keamanan internasional.

Keempat, Malaysia sebagai negara yang berpandangan moderat dan berprinsip harus memperkuat perannya sebagai suara yang konsisten dalam mempertahankan hukum internasional, termasuk mengangkat isu ini di berbagai platform multilateral seperti Gerakan Non-Blok (NAM), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta forum Global South.

Fahmi menilai kegagalan untuk bertindak tegas terhadap insiden seperti ini berisiko menciptakan preseden berbahaya, di mana pasukan penjaga perdamaian tidak lagi dihormati sebagai entitas netral.

Jika kondisi ini terus berlanjut, kata dia, keseluruhan kerangka keamanan internasional akan rentan terhadap keruntuhan yang lebih luas.

ABIM pun menyerukan pendekatan diplomasi yang lebih tegas, koordinasi regional yang lebih kuat, serta komitmen internasional yang lebih jelas dalam memastikan keselamatan seluruh personel penjaga perdamaian tetap terjaga.

"Keselamatan pasukan penjaga perdamaian adalah garis merah yang tidak boleh dikompromikan dalam kondisi konflik apa pun," tegas Fahmi.

Dia menekankan Malaysia bersama mitra regional dan komunitas internasional harus berperan aktif dalam mempertahankan perdamaian, kedaulatan hukum internasional, serta keamanan manusia secara global.



Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026