Pangkalpinang (ANTARA) - Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Republik Indonesia, Abangda Dzulfikar Ahmad Rawalla bertindak sebagai Khatib Shalat Idul Adha 2026 menyebutkan Hari Raya Idul Adha merupakan simbol permusuhan abadi antara manusia dan iblis.

"Hari Raya Kurban ini adalah simbol permusuhan abadi antara iblis dengan manusia," kata Abangda Dzulfikar Ahmad Rawalla di Masjid Muhajirin Kota Pangkalpinang, Rabu.

Ia mengatakan simbol pemusuhan abadi antara manusa dan iblis dijadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji di tanah suci Makkah yaitu melempar jumrah, karena kesombongan iblis yang ingkar terhadap perintah Allah SWT.

"Dulu iblis ini dikenal al hadits dan menjaga pintu surga, karena dia malaikat agung dan saking agungnya dia menjadi sombong dan ingkar perintah Allah sehingga dalam peradaban manusia iblis abadi dengan sebutan iblis laknatullah," katanya.

Ia menyatakan awal kesombongan iblis ini, karena merasa lebih baik dan mulia dibandingkan makhluk lainnya. Peringatan pertama dalam momen Hari Raya Idul Adha ini adalah menjauhkan diri dari sifat merasa lebih baik dan mulia.

"Setiap perbedaan harus kita sikapi sebagai sebuah rahmat untuk menguatkan ukhuwah kita antar sesama bangsa," ujarnya.

Ia menyatakan Hari Raya Idul Adha ini juga sebagai momen mengingatkan kembali kisah Nabi Ibrahim pada 4.000 tahun silam, namun kisahnya tetap abadi hingga hari ini.

"Kita lestarikan kisah Nabi Ibrahim di Bangka Belitung di mana pulau yang berjarak 10.000 kilo meter dari Hebron Palestina yang melintasi samudera yang luas dan titian Waktu berabad-abad lamanya sebagai tempat ibadah kurban yang pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim," ungkapnya.



Pewarta: Aprionis
Editor : Feny Aprianti

COPYRIGHT © ANTARA 2026