Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE menjelaskan efek dari abu vulkanik ketika menempel pada kulit dapat menyebabkan kulit menjadi kering, rasa perih atau terbakar, gatal, dan kemerahan atau dermatitis iritan.
Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat, kata Arini saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) itu mengatakan orang yang sudah memiliki kulit sensitif, dermatitis atopik atau eksim, rosacea, atau skin barrier yang sedang terganggu, misalnya setelah tindakan laser atau peeling, perlu lebih berhati-hati karena kulit mereka lebih mudah mengalami iritasi.
Partikel abu juga dapat bersifat abrasif. Karena itu, yang perlu dihindari adalah menggosok atau mengusap abu yang masih kering di permukaan kulit karena gesekan tersebut justru dapat meningkatkan iritasi, ujar dokter lulusan Universitas Harvard itu.
Menurutnya membersihkan kulit sangat penting untuk dilakukan secepat mungkin setelah terpapar abu, namun perlu dipastikan untuk tidak langsung menggosok abu dalam keadaan kering.
Jika memungkinkan, lepaskan terlebih dahulu pakaian yang banyak terkena abu. Bilas kulit dengan air bersih yang mengalir agar partikel terangkat tanpa banyak gesekan.
Ia juga menyarankan untuk mandi menggunakan air sejuk atau suam-suam kuku dan pembersih yang lembut. Jangan menggunakan scrub, spons kasar, atau menggosok kulit terlalu kuat.
Setelah itu keringkan kulit dengan cara ditepuk perlahan dan gunakan pelembap.
Jika wajah mengalami iritasi, untuk sementara sebaiknya mengurangi bahan aktif yang berpotensi membuat kulit semakin sensitif seperti retinoid, AHA/BHA, peeling atau scrub sampai kondisi kulit kembali tenang.
Lebih lanjut Arini menyebut dalam melakukan pencegahan, proteksi fisik lebih penting daripada obat. Dalam hal ini, masyarakat bisa menggunakan pelembap yang sederhana, tanpa pewangi, dan mendukung skin barrier, misalnya yang mengandung ceramide, glycerin atau bahan humektan dan emolien lainnya.
Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter, katanya.
Hal lain yang Arini sampaikan yakni erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda dan penyebaran abu vulkaniknya perlu diwaspadai. Masyarakat diimbau untuk tidak panik meski dari sisi kesehatan kulit, abu vulkanik berbeda dengan debu sehari-hari.
Arini menjelaskan abu vulkanik terdiri atas partikel batuan dan mineral yang sangat halus, sebagian memiliki permukaan yang abrasif, dan abu yang masih segar juga dapat membawa komponen yang bersifat asam.
Karena itu prinsip terpenting adalah mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi. Dampak terhadap saluran napas dan mata umumnya menjadi perhatian utama, tetapi kulit juga dapat mengalami iritasi, tambahnya.
Pewarta: Hreeloita Dharma ShantiUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.