Selasa, 17 Oktober 2017

MUI Maluku: Paham ISIS Tidak Sesuai Islam

id MUI
MUI Maluku: Paham ISIS Tidak Sesuai Islam
Logo resmi Majelis Ulama Indonesia. (www.antaranews.com)
Masohi (Antara Babel) - Wakil Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Abdullah Latuapo dalam ceramah yang diadakan Komando Daerah Militer (Kodam) XVI/Pattimura, Minggu (28/5), menegaskan bahwa paham yang disebarkan kelompok ISIS tidak sesuai dengan Islam yang rahmatan lil alaminkarena mengajarkan tentang kekerasan antar-sesama manusia.

"Kelompok radikal ISIS ingin mempengaruhi kita di Maluku, yang saat ini sudah aman dan tentram, kembali terjadi kerusuhan seperti tahun 1999. Ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam," ujarnya dalam acara bertema "Menentang Paham Radikal ISIS dan Teroris di Maluku dan Indonesia" di Masohi, Ibu Kota Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Ia menimpali, "Kita tinggalkan dulu yang namanya politik. Mari tingkatkanukhuwah dengan tidak terlepas dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Peristiwa kerusuhan beberapa tahun silam sudah cukup membuat kita menderita."

Dalam ajaran agama Islam, menurut dia, bukan kemenangan yang dicari, tetapi kebenaran dan sesungguhnya pencarian tersebut harus menggunakan cara-cara yang baik sebagaiamana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Abdullah mencontohkan, kisah 47 pasal Piagam Madinah yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW sebagai perjanjian formal antara beliau dengan suku-suku penting di Yathrib atau Kota Madinah guna menghindari pertentangan sengit antara Bani Aus dan Khazraj.

Dokumen itu menetapkan dan menjamin sejumlah hak dan kewajiban bagi kaum Muslim, Yahudi dan komunitas-komunitas pagan di Yathrib, yang kemudian disebut juga sebagai Kota Madinah, ujarnya menambahkan.

Senada dengan Abdullah Latuapo, Ustadz Jumu Tuani yang mantan panglima jihad saat konflik di Ambon pada 1999 menyatakan bahwa ISIS bukan mujahid, tetapi perusak agama karena mereka datang ke masjid bukan untuk beribadah, melainkan merampok yang mereka anggap sebagai fai atau harta rampasan.

ISIS, dikemukakannya, juga menganggap Indonesia sebagai negara kafir karena tidak menjalankan ajaran Islam secara kaffah atau menyeluruh.

Kelompok radikal tersebut, dinilainya, mencoba berorientasi mengembangkan pahamnya ke Maluku dan Maluku Utara karena mengetahui tingginya sifat militansi masyarakatnya, serta menginginkan Maluku kembali rusuh agar mereka bebas menenteng senjata ke mana-mana.

"ISIS banyak menggunakan beberapa ayat Alquran untuk membodohi para preman di Jakarta, Poso dan di daerah lain dengan mencuplik dan menafsirkaan ayat Allah SWT sesuka hatinya," ujarnya.

Ia menilai, selain gerakan radikal ISIS ada juga gerakan terorisme non-ISIS yang menghalalkan darah seorang Muslim untuk dikorbankan, dan juga menganggap Indonesia sebagai negara kafir.

"Mungkin mereka menggunakan kaca mata kuda sehingga mereka menganggap polisi, tentara, camat, lurah dan lain-lain kafir. Di sini saya mengajak suadara-saudara semua yang dulu terlibat dan merasakan konflik tahun 1999, agar tidak terjerumus ke jalan yang salah," katanya.

Oleh karena itu, Jumu Tuani dalam kesempatan itu memimpin pernyataan sikap masyarakat Maluku untuk menjaga keutuhan dan kedamaian dari gangguan kelompok radikal ISIS dan sejenisnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Informasi dan Pengolahan Data Kodam XVI/Pattimura Letkol Inf. Umar dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan keanekaragaman adat istiadat dan budaya, tapi bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Kebanggaan sebagai warga negara Indonesia (WNI), dikatakannya, harus dijunjung tinggi agar tidak mengalami nasib seperti beberapa negara di Timur Tengah, seperti Libya dan Syria yang hancur berantakan karena ulah kelompok radikal.

"Di bulan suci Ramadan ini mari kita tingkatkan ibadah kepada Allah SWT, sehingga kita mendapatkan pahala berlipat ganda dan surganya dengan orang-orang yang beriman," ucapnya menambahkan.

Kegiatan menyambut bulan Ramadhan itu juga dihadiri oleh 75 mantan anggota mujahidin dari berbagai kawasan di Maluku dan para janda akibat konflik di Maluku pada 1999.

Editor: Riza Mulyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga