Kamis, 19 Oktober 2017

Mengenal Istana Presiden: Istana Negara, Istana Perjamuan

id Istana Presiden, Istana Negara
Mengenal Istana Presiden: Istana Negara, Istana Perjamuan
Istana Merdeka. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Oh kalau kaca yang retak itu sudah kita ganti zaman Reformasi, pada masa Pak Harto memang kacanya masih bolong,
Bangunan bergaya arsitek asal Venesia, Andrea Palladio, tampak menonjol menghadap Jalan Rijswijk yang sekarang disebut Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Itulah Istana Negara yang berada dalam satu kompleks dengan "saudara mudanya" Istana Merdeka dan Bina Graha dalam kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Desain bangunan tersebut dilengkapi dengan 14 pilar bundar berwana putih mengga, tiga pintu masuk besar ditambah dua jendela raksasa anti-peluru di serambi depan.

Serambi dicapai dari dua anak tangga di sisi kanan dan kiri, serta bagian depannya ditutup dengan pagar balustrada. Bentuk bangunan yang akan mengingatkan orang Belanda kepada kanal-kanal di Amsterdam awalnya memang diperuntukkan untuk hotel dan sekretariat umum.

Sebelumnya gedung itu merupakan kediaman pribadi seorang warga negara Belanda yang bernama J.A. van Braam yang dibangun 1796.

Pada 1816 bangunan itu diambil alih oleh pemerintah Hindia-Belanda, dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jenderal Belanda sehingga istana tersebut dijuluki "Hotel Gubernur Jenderal".

Pada awalnya, bangunan Istana Negara merupakan bangunan bertingkat dua. Namun pada 1848, tingkat atasnya diruntuhkan dan bagian depannya dibuat lebih lebar untuk menampilkan wajah yang lebih resmi sesuai dengan martabat pembesar yang menghuninya. Di kiri-kanan gedung utama dibangun tempat penginapan untuk para kusir dan ajudan Gubernur Jenderal.

Di samping untuk penginapan Gubernur Jenderal, gedung itu juga berfungsi sebagai kantor sekretariat umum pemerintahan. Dalam perjalanan waktu, gedung itu kemudian tidak mampu menampung semua kegiatan yang semakin meningkat sehingga pada 1869, Gubernur Jenderal Pieter Mijer mengajukan permohonan untuk membangun "hotel" baru di belakang yang pada saat ini dikenal dengan nama "Istana Merdeka". Sementara bangunan lama yang menghadap ke Jalan Rijswijk akhirnya diperluas.

Istana Negara pada dasarnya terdiri dari dua balairung besar, yaitu ruang upacara dan ruang jamuan. Ruang upacara adalah tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi kenegaraan. Di masa Hindia Belanda, ruang upacara dipakai sebagai "ballroom" untuk pesta-pesta yang disemarakkan dengan acara dansa.

Pada masa Presiden Soeharto, saat peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus, Istana Negara juga dipakai untuk acara jamuan makan Presiden dan para veteran maupun bila kedatangan tamu negara. Istana Negara dipakai untuk jamuan makan malam kenegaraan dan tempat acara malam kesenian dengan menampilkan pertunjukan kesenian tradisional Indonesia.

Tidak heran saat Presiden Soeharto memerintah, ruang upacara tersedia dua perangkat gamelan: Jawa dan Bali, masing-masing ditempatkan di timur dan di barat dari podium yang berada di sisi selatan Ruang Upacara.

Jika upacara mengharuskan diperdengarkannya lagu kebangsaan dengan korps musik dari Pasukan Pengaman Presiden maka ditempatkan di serambi belakang yang hanya dipisahkan oleh dinding belakang podium Ruang Upacara. Tapi saat masa Presiden Joko Widodo, gamelan itu belum pernah dimainkan lagi.

Menurut Kepala Biro Pengelolaan Istana MF. Darmastuti, gamelannya disimpan di Istana Yogyakarta bersama dengan satu set wayangnya.

Sesuai dengan arahan Presiden Jokowi untuk menampilkan istana sebagai "The Ultimate Show Case of Indonesia" karena Indonesia tidak hanya Jawa atau Bali, jadi pengelola Istana mencoba memadu-padankan semua ornamen-ornamen dari seluruh Indonesia dalam ruangan Istana.

Ruang upacara yang saat ini sering menjadi tempat upacara pelantikan para pejabat dalam negeri tersebut dapat menampung sekitar 350 orang hadirin duduk, terbaru adalah pelantikan Sultan Hamengku Buwono X dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY pada 10 Oktober 2017. Ada peta Indonesia dari beludru warna hitam --tadinya warna hijau-- yang juga menghiasi upacara.

Penandatangan persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947 pukul 17.30 dilakukan ruang seluas 1.300 meter per segi tersebut.

Jauh sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda juga mengambil keputusan penting melalui sidang-sidang Gubernur Jenderal Baron Van Der Capellen mendengar Jenderal De Kock mengurai rencana penindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dengan memutuskan pemberlakuan tanam paksa (culturslesel).

Sesungguhnya ruangan itu juga pernah difungsikan sebagai tempat menonton film. Film diputar dari ruang operator di lantai dua tapi tangga menuju lantai 2 hanya bisa dicapai dengan tangga dari luar istana. Proyektornya pun masih ada, tapi belum tentu layak pakai saat ini.

Tanpa sekat dengan ruang upacara, ada ruang jamuan yang dipakai untuk jamuan kenegaraan atau sebagai ruang tempat para tamu beramah-tamah setelah upacara selesai. Ruangan ini dapat menampung 150 orang. Ruang ini kemudian "dibagi dua".

Penyekatnya adalah penyekat ukiran Jepara sepanjang delapan meter dengan gambar wayang mengisahkan "Sumantri Ngenger" dari epos Arjuno Sosro Bahu menceritakan tentang perjuangan rakyat jelata yang kemudian menjadi pahlawan yang sudah ada sejak zaman Presiden Soeharto.

Bagian pertama tetap menjadi ruang jamuan, sedangkan bagian kedua dipakai untuk menaruh meja panjang berukuran sekitar 8 meter yang bisa menjadi meja makan tapi juga bisa berfungsi sebagai meja kerja.

Makanan yang disajikan adalah makanan Nusantara yang dinilai menyuguhkan cita rasa Indonesia. Istana tidak punya koki khusus untuk menyiapkan makanan, tapi bekerja sama dengan pihak luar.

Meja oval panjang itu sesuai dengan selera Presiden Joko Widodo yang memang menyukai "furniture" dari bahan kayu jati. Ada juga dua cermin besar yang diletakkan di sisi kiri dan kanan ruangan sehingga total ada empat cermin.

Menurut Kepala Subbagian Utilisasi Bangunan Yusuf Setyo Purwono, cermin tersebut adalah cermin peninggalan era kolonial yang ukurannya sekitar 80 x 200 cm, memang besar sejak awal.

Bingkai cermin tidak diganti hanya bila kacanya sudah tampak suram pun diganti pengelola. Tidak hanya di Istana Negara, Istana Merdeka pun punya cermin sejenis, salah satunya cermin yang retak dan berlubang pada ujung kiri bagian bawah karena peluru dan pesawat terbang MIG 17 yang diterbangkan oleh Letnan Daniel Maukar saat percobaan pembunuhan atas Presiden Sokearno pada 1960.

"Oh kalau kaca yang retak itu sudah kita ganti zaman Reformasi, pada masa Pak Harto memang kacanya masih bolong," kata Yusuf.

Tidak ketinggalan dua dapur mengapit ruang jamuan, satu dapur untuk makanan panas dan satu dapur untuk makanan dingin.

Dari ruang jamuan yang separuhnya bisa menjadi ruang kerja itu ada koridor yang menghubungkan ke serambi depan. Di kedua sisi koridor itu terdapat beberapa ruang khusus. Di sisi barat terdapat kamar untuk Wakil Presiden dan ruang tunggu tamu Presiden.

Ruang tamu Presiden ini dulunya merupakan Ruang Pusaka untuk menyimpan berbagai benda pusaka. Di ruang ini Presiden menemui tamu-tamunya. Ruang kerja Presiden berada di sisi timur koridor ini, diapit dengan sebuah meja kerja besar, sebuah kursi kerja untuk Presiden, dua kursi hadap, dan sebuah lemari panjang untuk menyimpan berbagai benda seni. Presiden Megawati Soekarnoputri saat menjabat pada 2001-2004 menggunakan ruang tersebut.

Ruang kerja itu memang baru digunakan saat masa Presiden SBY, sementara Presiden Soeharto, BJ Habibie dan Gus Dur menggunakan Bina Graha sebagai tempat kerja.

Di belakang ruang kerja terdapat ruang istirahat bagi Presiden yang dilengkapi tempat tidur antik dari Magelang dan toilet. Total ada tiga kamar tidur di Istana Negara yang saat ini difungsikan bila Presiden dan Wakil Presiden ingin beristirahat di Istana di sela-sela padatnya kegiatan.

Serambi depan Istana Negara terbuka, menghadap ke Jalan Veteran dan dapat dicapai dengan anak-anak tangga di kedua sisinya. Ruang depan ini dulu dipergunakan sebagai tempat untuk tukar-menukar cenderamata antara dua kepala negara sebelum memasuki Ruang Jamuan.

Namun saat ini Presiden Joko Widodo lebih sering menerima kunjungan tamu negara di Istana Merdeka atau bahkan di Istana Bogor.

Di ruang depan itu juga terdapat tiga lampu kandelabra besar dan sepasang cermin antik yang tingginya hampir mencapai tiga meter. Total ada 22 lampu kandelabra di Istana Negara.

Ruang depan itu pada peringatan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H jatuh pada 25 Juni 2017 lalu digunakan Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla untuk mengadakan open house, menerima pejabat pemerintah, duta besar hingga masyarakat umum untuk bersilaturahmi merayakan Lebaran.

Terkait dengan pilihan gorden yang menjadi unsur yang menambah keindahan Istana, menurut Darmastuti, disesuaikan dengan selera Presiden yang memerintah karena setiap Presiden punya gaya yang berbeda.

Contohnya saat ini, gorden Istana Negara dan Istana Merdeka (juga karpetnya) berwarna merah sementara pada masa Presiden Soeharto gorden berwarna hijau. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri gorden Istana Negara berganti menjadi warna biru sedangkan pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun berubah menjadi merah.

Untuk lukisan-lukisan yang terpajang di Istana Negara juga kebanyakan merupakan peninggalan dari Presiden Soekarno, meski ada sedikit perubahan letak, lagi-lagi menyesuaikan dengan keinginan masing-masing Presiden.

"Kami dapat informasi kalau Presiden Joko Widodo menyukai karya para pelukis maestro dengan tema kegiatan sosial masyarakat, sementara Pak SBY suka dengan lukisan bernuansa alam," kata Darmastuti.

Lukisan yang menonjol di Istana Negara sesungguhnya adalah enam lukisan besar di Ruang Upacara yang menempel di masing-masing pilar. Lukisan-lukisan itu adalah lukisan karya pelukis yang juga staf Sekretariat Negara Warso Susilo yang diminta Presiden SBY untuk membuat lukisan potret para Presiden RI dalam ukuran yang besar.

Mulai dari Bung Karno hingga SBY sendiri yang ditempatkan enam pilar yang mengelilingi Ruang Upacara. Dalam buku 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan, Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang ditulis Mikke Susanto dan Agus Dermawan T (2016), disebutkan lukisan-lukisan potret para Presiden itu ditempatkan di Istana Negara dan Istana Bogor.

Sedangkan perabot yang ada di Istana Negara pun masih ada yang merupakan peninggalan zaman Presiden Soekarno, yaitu barang-barang seperti sideboard (buffet) dan guci berciri kaki kijang serta ukiran Jepara dari masa Presiden Soeharto.

"Kalau Presiden Jokowi suka kayu jati berkualitas, beliau menganggap bahwa bila meja menggunakan kayu akan lebih kelihatan indah dari pada bila ditutup kain," ungkap Darmastuti.

Untuk perawatan Istana, secara rutin pengelola membersihkan lampu kristal, mengecat, membersihkan debu, membongkar plafon, hingga perbaikan drainase, seperti yang dikerjakan di lingkungan Istana Presiden di Jakarta saat ini.

Meski tidak ada Presiden yang tinggal di Istana Negara maupun Merdeka saat ini, tapi tetap ada orang-orang yang piket dan berkeliling untuk menjaga kebersihan sekaligus keamanan Istana selama 24 jam setiap harinya.

Selain itu penambahan Closed-circuit television (CCTV) di sejumlah titik Istana Negara meski tetap harus diperhatikan sisi estetikanya.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan bahwa Presiden Jokowi sesungguhnya membolehkan komunitas maupun masyarakat yang datang ke Istana untuk mengambil foto Istana, namun memang Istana Merdeka dan Istana Negara belum dibuka untuk umum, seperti Gedung Putih atau Istana Kremlin, Rusia.

"Umumnya semua masyarakat ingin foto di sini, tapi memang harus ada izin karena yang namanya juga minta boleh diizinkan boleh tidak, memang berbeda dengan Gedung Putih atau Istana Kremlin, hanya masyrakat bisa berfoto di Istana Bogor atau Istana lain seperti Cipanas, Yogyakarta atau Tampaksiring karena Istana Negara dan Merdeka dipakai terus selama hari kerja, dan bahkan tidak hanya hari kerja tapi Sabtu Minggu juga ada kegiatan di sini," kata Heru.

Editor: Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga