"Besar kecilnya jumlah penduduk miskin ini sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin ini merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung (Babel), menyatakan tingkat garis kemiskinan pada September 2013 mencapai Rp427.081 per kapita atau naik 6,68 persen dibanding Maret 2013 sebesar Rp400.324 per kapita.


"Besar kecilnya jumlah penduduk miskin ini sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin ini merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan," kata Kepala BPS Babel, Herum Fajarwati di Pangkalpinang, Senin.


Ia menjelaskan, dalam kurun waktu Maret hingga September 2013, garis kemiskinan daerah perkotaan mengalami kenaikkan dari Rp390.488 per kapita pada Maret 2013 menjadi Rp416.935 per kapita pada September 2013 atau naik 6,77 persen.


Demikian juga, garis kemiskinan daerah perdesaan juga mengalami kenaikkan dari R409.901 per kapita pada Maret 2013 menjadi Rp436.899 per kapita pada September 2013 atau naik 6,59 persen.


"Kenaikkan garis kemiskinan ini karena harga hasil tambang dan perkebunan masyarakat menurun, sementara harga berbagai kebutuhan pokok dan lainnya mengalami kenaikkan yang cukup tinggi," ujarnya.


Ia mengatakan, komponen garis kemiskinan ini terdiri dari garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan bukan makanan.


Peranan garis kemiskinan makanan dalam menentukan besaran garis kemiskinan lebih besar dibanding peranan garis kemiskinan bukan makanan, misalnya, perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.


"Pada September 2013 kontribusi garis kemiskinan makanan di kota sebesar 70,94 persen atau Rp295.754 per kapita dan daerah desa  sebesar 75,95 persen atau Rp331.804 per kapita per bulan," ujarnya.


Menurut dia, perekonomian penduduk Bangka Belitung masih tergantung dengan hasil dan harga tambang timah, apabila harga bijih timah anjlok atau meningkatnya operasi penertiban tambang timah maka perekonomian dan daya beli masyarakat akan anjlok.


"Pada bulan lalu, harga bijih timah dunia anjlok yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat yang menurun drastis," ujarnya.

Pewarta: Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026