"Kami kurang tahu pasti apakah ada praktik korupsi dana reklamasi atau permainan pejabat dengan perusahaan tambang untuk mengambil keuntungan pridadi dari dana reklamasi tersebut,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta menelusuri dana reklamasi lahan bekas tambang timah di Provinsi Bangka Belitung (Babel) karena minimnya realisasi reklamasi di daerah itu.
"Kami kurang tahu pasti apakah ada praktik korupsi dana reklamasi atau permainan pejabat dengan perusahaan tambang untuk mengambil keuntungan pridadi dari dana reklamasi tersebut," kata calon anggota DPD RI dari daerah pemilihan Provinsi Bangka Belitung, Zubaidah di Pangkalpinang, Rabu.
Menurut dia, selama ini perusahaan tambang timah telah menganggarkan miliaran rupiah untuk mereklamasi lahan bekas tambang mereka, namun kenyataannya reklamasi di lahan bekas tambang masih minim dan tidak sebanding dengan anggaran tersebut.
"Kami berharap KPK dan aparat penegak hukum lainnya turun ke lapangan untuk menulusuri dana reklamasi lahan ini karena lahan bekas tambang timah yang tidak direklamasi berdampak buruk terhadap lingkungan, iklim dan sosial masyarakat," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam Undang-Undang Minerba perusahaan tambang diwajibkan mereklamasi lahan bekas tambangnya dengan menganggarkan sejumlah dana.
"Jika perusahaan tambang telah menganggarkan dana reklamasi, tentu tidak ada lagi lahan bekas tambang yang rusak dan bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi nyatanya tidak begitu," ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini kerusakan lingkungan di lahan bekas tambang telah menimbulkan dampak yang buruk terhadap kesehatan warga seiring merebaknya penyakit demam berdarah, malaria dan penyakit akibat gigitan nyamuk lainnya.
"Lubang bekas penggalian tambang timah ini telah menjadi sarang nyamuk, sehingga Babel menjadi daerah epidemik DBD, malaria dan lainnya," ujarnya.
Selain itu, kerusakan lingkungan juga berdampak terhadap perubahan iklim yang cukup ekstrem dan bencana alam lainnya.
"Saat ini cuaca panas pada musim kemarau sangat menyengat karena kurangnya perpohonan untuk menfilter cahaya matahari," ujarnya.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.