"Pergerakan rupiah masih terlihat rapuh, meskipun pergerakan dolar AS kembali melemah seiring dengan sikap pelaku pasar yang mengesampingkan sentimen perang dagang dan imbas kenaikan euro," kata Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Kamis.
Rupiah sendiri, lanjut dia, diharapkan dapat memanfaatkan pelemahan dolar AS untuk kembali menguat, meski sentimen dari dalam negeri masih kurang kuat mengangkat mata uang Republik Indonesia itu.
Sebelumnya, laju rupiah kembali melemah tipis setelah sehari sebelumnya bergerak positif.
Masih adanya kekhawatiran akan dampak terjadinya perang dagang antara AS dan Tiongkok yang dinilai dapat menganggu ekspor Indonesia membuat laju rupiah kembali terdepresiasi.
Apalagi sebelumnya juga di rilis neraca perdagangan yang masih kembali mengalami defisit.
Di sisi lain, adanya penilaian bahwa tahun 2019 ekonomi Indonesia akan tumbuh tipis di kisaran 5,1-5,2 persen menambah sentimen negatif pada rupiah, yang kontras dengan asumsi yang disepakati Banggar DPR di angka 5,3 persen dengan kurs rupiah Rp14.500 per dolar AS.
Pewarta: Citro AtmokoUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.