"Ada sekitar 2.000 masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan di daerah ini dan mayoritas masih menggunakan alat tangkap tradisional sehingga produksinya belum sebanding dengan biaya operasional,"Koba, (Antara Babel) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Dedi Muchdiyat, menyatakan mayoritas nelayan di daerah itu masih menggunakan alat tangkap tradisional sehingga berpengaruh terhadap hasil tangkapan.
"Ada sekitar 2.000 masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan di daerah ini dan mayoritas masih menggunakan alat tangkap tradisional sehingga produksinya belum sebanding dengan biaya operasional," ujarnya di Koba, Senin.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah sudah berupaya memberdayakan masyarakat nelayan dengan menyalurkan bantuan, penyuluhan dan pembinaan, namun belum begitu optimal karena keterbatasan anggaran.
"Sekarang ini yang menjadi fokus adalah nelayan yang tergabung ke dalam kelompok nelayan, namun jumlahnya belum begitu banyak dibanding jumlah nelayan secara keseluruhan," ujarnya.
Namun demikian, kata dia, target produksi ikan masih tetap tercapai, yaitu 17.120 ton pada 2013 dan realiasinya mencapai 17.547,10 ton atau melebih target yang ditetapkan.
"Produksi sebesar itu memang belum sebanding dengan potensi yang ada, namun kendalanya adalah alat tangkap dan cara tangkap ikan nelayan masih pola tradisional," ujarnya.
Menurut dia, nelayan tradisional hanya memiliki daya jelajah terbatas karena masih menggunakan kapal kecil sehingga produksi ikan lebih sedikit dibanding dengan nelayan yang menggunakan kapal besar.
"Nelayan tradisional paling lama melaut hanya dua hari dan tergantung dengan kondisi cuaca, kalau cuaca ekstrem mereka tidak melaut sehingga mempengaruhi produksi dan ekonomi mereka," ujarnya.
Berbeda dengan nelayan yang menggunakan peralatan tangkap lebih canggih yang bisa melaut hingga satu minggu, tentu, kata dia, hasil tangkapannya lebih banyak.
"Kemudian sebagian kalangan nelayan juga "terjerat" utang untuk biaya operasional, sehingga hidup seperti "gali lubang tutup lubang". Makanya mereka diminta tergabung ke dalam kelompok nelayan yang bisa dibina dan diberi bantuan," katanya.
Pewarta: Oleh AhmadiEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026