Pangkalpinang (Antaranews Babel) - Pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berencana menyiapkan "Kawasan Pusaka Bersejarah" untuk mengingatkan masyarakat mengenai perjalanan sejarah di daerah itu.

Sejarawan Babel Akhmad Elvian di Pangkalpinang, Sabtu, mengatakan Kawasan Pusaka Bersejarah itu diwujudkan dengan menyiapkan monumen di berbagai lokasi yang memiliki nilai sejarah.

Dalam monumen tersebut, akan dicantumkan berbagai informasi yang berkaitan dengan perjalanan sejarah di daerah itu.

Ia mencontohkan pembangunan monumen “Kampung Opas” dengan membuat monumen mengenai peristiwa yang pernah berlangsung di Kampung Opas, bangunan bersejarah, atau saksi sejarah yang masih ada.

“Monumen itu juga akan dibangun di kampung yang lain, supaya generasi muda Bangka Belitung mengetahui apa saja yang ada dan pernah terjadi disana,” kata Akhmad Elvian.

Dengan penyiapan berbagai monumen tersebut, diharapkan peristiwa dan peninggalan sejarah akan selalu dikethaui dan dikenang masyarakat Bangka Belitung.

Monumen yang menceritakan kaitan Pulau Bangka dengan sejarah dan tokoh perjuangan bangsa ada di Wilhelmina Park atau lebih dikenal dengan Taman Sari.

Monumen tentang berbagai sejarah di Pulau Bangka tersebut disiapkan Balai Tata Lahan dan Bangunan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat RI pada tahun 2017.

Penyiapan monumen tersebut dimaksudkan sebagai ajang pembelajaran dan pengenalan bagi masyarakat dan generasi muda mengenai sejarah bangsa yang beralngsung di Pulau Bangka.

Kegiatan tersebut merupakan bagian program Revolusi Mental agar sejarah perjuangan bangsa yang berlangsung di Pulau Bangka dikenal masyarakat.

"Supaya mereka tahu, ada juga tokoh-tokoh nasional yang pernah diasingkan di Bangka," katanya.

Wilhelmina Park juga menjadi salah satu lokasi kunjungan tim penilai syarat pahlawan nasional untuk mengetahui peranan Depati Amir sebelum ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2018.

Pihaknya merasa bangga dengan keberadaan monumen itu yang sering dilihat masyarakat, termasuk kepedulian masyarakat untuk menjaga monumen tersebut.

"Banyak yang datang, berfoto, tapi tidak ada yang dirusak, dicoret pun tak ada," ujar Akhmad Elvian.

Pewarta: Aprionis
Uploader : Adhitya SM

COPYRIGHT © ANTARA 2026