Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti menjadi pembicara pada kegiatan Sidang Pleno ke XVI Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI).

"Saya suka dengan tema pada Pleno AFEBI ke-16 ini, dimana wisata bahari dan perikanan itu harus berkelanjutan karena ini penting untuk kedaulatan laut kita," kata Susi Pudjiastuti saat menyampaikan paparan dalam Pleno ke-16 AFEBI, di Pangkalpinang, Kamis.

Ia mengatakan, tujuh puluh satu persen wilayah Indonesia adalah laut dan produksi ikan terbesar ada di Indonesia. Produktifitas ini harus kita jaga dan bisnis yang dibangun harus beretika.

Integritas anak bangsa sangat dibutuhkan untuk menjaganya, karena ekonomi perikanan harus menjadi potensi masa depan yang harus terus di garap, meski pengelolaan perikanan tangkap sudah lebih baik.

"Seluruh alumni AFEBI memiliki kedudukan dan mari kita bangun mentalitas dan paradigma karena sekarang kita punya situasi yang berbeda, dimana banyak wilayah bekas tambang ditinggalkan dan menjadi kota mati, dan Bangka salah satunya," ujarnya.

Susi menambahkan, meski negara lain sudah mengadopsi revolusi 5.0, sedangkan di Indonesia baru revolusi 4.0, namun pola investasi dan industri harus betul-betul dilihat dan harus dikembangkan pengelolaannya dan konektivitasnya.

"Kita punya sistem konektivitas dari barat ke timur, timur ke barat. Saya melihat itu tidak rasional dan ini harus dirubah. Sudah saatnya kita merubah hal yang tidak efektif dan efisien," ujarnya.

Wakil Gubernur Babel, Abdul Fatah mengatakan, hadirnya Menteri Susi Pudjiastuti diharapkan dapat melahirkan strategi untuk mengembangkan sumber daya alam dan meningkatkan ekonomi melalui ekowisata bahari.
 
"Ekowisata bahari merupakan satu strategi yang gigih untuk meningkatkan ekonomi. Menteri Susi mampu menjaga laut Indonesia sampai saat ini. Hadirnya beliau akan menambah konsisten kita menegakkan hukum jika terjadi pelanggaran di laut Indonesia, akan di kejar, tangkap dan tenggelamkan oleh Beliau," ujarnya.

Pewarta: Elza Elvia

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2019