Keputusan Pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong terciptanya peluang bagi upaya mengoptimalkan sektor yang belum tergarap optimal, salah satunya industri karet alam yang diusahakan rakyat.

Di dunia industri, secara garis besar terdapat dua jenis bahan baku karet yaitu karet sintetis dan karet alam. Pada praktiknya keduanya kerap digunakan berbarengan dengan proporsi tertentu atau kadang saling menyubstitusi.

Pergerakan harga minyak mentah dunia biasanya berpengaruh pada industri karet karena karet sintetis berasal dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam.

Ketika harga minyak mentah dan energi meningkat melampaui tingkat keekonomisan, maka industri karet akan menggunakan karet alam dengan proporsi yang lebih besar. Di saat itulah permintaan terhadap karet akan meningkat yang juga dapat mengerek harga jual di tingkat petani.

Dari sini, pemerintah idealnya segera merevitalisasi kebun karet rakyat agar keluarga petani karet dapat mengambil peran dari naiknya harga minyak mentah dunia dan dapat mengambil benefit dari meningkatnya permintaan karet alam.

Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2019-2021 mencatat di Indonesia terdapat lebih dari 2 juta kepala keluarga petani pekebun karet dengan luas tanam sekitar 3,6-juta hektare.

Sampai sejauh ini karet masih menjadi komoditas perkebunan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara. Indonesia bahkan menjadi produsen karet kedua terbesar di dunia setelah Thailand.

Indonesia selalu menempatkan karet sebagai komoditas ekspor unggulan perkebunan yang diperdagangkan secara luas. Selain itu, karet juga menjadi sumber penciptaan lapangan kerja, pembangun wilayah, pendorong kinerja agribisnis dan agroindustri, pendukung konservasi lingkungan, serta sebagai penghasil devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit.


Perlu Riset

Isu terkait karet tak selamanya mulus. Karet sering diterpa isu gejolak anjloknya harga yang membuat petani menjerit, namun tentunya berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani karet.

Saat ini banyak petani yang mengelola kebun alakadarnya imbas rendahnya harga karet di tingkat petani beberapa tahun terakhir, utamanya pada saat pandemi dan diperparah kenaikan harga dan kelangkaan pupuk.

Persoalan yang juga mendesak di tingkat hulu adalah ditemukannya serangan jamur akar putih (JAP) dan gugur daun yang menyerang hampir berbarengan di sentra-sentra seperti di Sumatra Selatan.

Penilaian secara cepat (rapid assessment) dengan menggunakan pesawat nir awak alias Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang diterbangkan tim peneliti dari Yayasan Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) didampingi peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di beberapa lokasi di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, secara acak mengungkap tingkat serangan jamur akar putih dan gugur daun mencapai 40 persen.

Pesawat nir awak terbang lalu memotret area kebun karet. Gambar yang diperoleh kemudian diklasifikasi menggunakan pendekatan machine learning yaitu algoritma random forest. Dari klasifikasi tersebut dapat terlihat tanaman yang sakit atau mati terkena jamur akar putih dan yang mengalami gugur daun nyaris tersebar di setiap area kebun karet.

Temuan itu memperkuat laporan yang sebetulnya pernah dipublikasi pada 2020 di Jurnal Penelitian Karet oleh dua peneliti yaitu Tri Rapani Febbiyanti dari Pusat Penelitian Karet, Sembawa, Sumatra Selatan, dan Zaida Fairuza dari Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Deli Serdang, Sumatra Utara.

Kedua peneliti tersebut mengungkap bahwa akhir-akhir ini telah terjadi ledakan penyakit gugur daun yang menyerang pertanaman karet Indonesia.

Pengamatan keduanya sepanjang Mei-Juni 2018 menunjukkan gejala penyakit membuat tanaman karet mengalami gugur daun secara terus menerus hingga menghilangkan 75-90 persen.

Dampaknya kanopi menjadi tipis dan produksi turun hingga 25 45 persen. Ternyata temuan kedua peneliti tersebut masih terjadi hingga saat ini meskipun pengamatan keduanya telah berlalu 4 tahun silam.

Penyakit tersebut menyerang semua klon dan semua fase tanaman sejak pembibitan, kebun entres, tanaman belum menghasilkan, hingga tanaman menghasilkan.

Keduanya mengungkap gugur daun disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis sp. Serangan gugur daun menyebabkan kebun-kebun di Sumatera Utara, Sumatra Selatan, dan Lampung meranggas hingga 50 persen.

Sementara, jamur akar putih, menurut Widi Amaria, kandidat doktor dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) disebabkan oleh Rigidoporus microporus yang memang merupakan penyakit utama karet sejak lama.

Pengamatan Syamsul Asinar Radjam, dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), di lapangan kedua penyakit itu menyerang secara berbarengan. Di area kebun yang sama pangkal-pangkal pohon-pohon karet terserang jamur akar putih, sementara di bagian atas terserang gugur daun.

Pada pengamatan lapangan juga terlihat tanaman yang tumbuh di atas tanah dengan kandungan bahan organik tinggi relatif lebih sehat dibanding dengan tanaman yang tumbuh di atas tanah yang bahan organiknya telah terkupas.

Tentu penilaian cepat (rapid assessment) tersebut belum mencukupi untuk mengambil kesimpulan sehingga kajian mendalam harus terus dilakukan agar upaya pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan.

Di sisi lain pemerintah dapat memobilisasi para ahli penyakit tanaman dari segenap institusi seperti universitas dan swasta untuk turun tangan membantu melakukan revitalisasi kebun karet rakyat.

Hanya dengan cara itu dampak ikutan dari kenaikan harga minyak mentah dunia dapat dirasakan petani Indonesia. Sebagaimana harapan banyak pihak bahwa Indonesia akan selalu mampu mengoptimalkan industri substitusi saat mengalami kendala atas kebutuhan tertentu, termasuk saat BBM naik.


*Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc dan Budi Raharjo STP., M.SI*
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional

Pewarta: Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc dan Budi Raharjo S

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2022