Jakarta (Antaranews Babel) - Konvoi mobil Presiden Joko Widodo melaju cepat tanpa melambat setelah mendarat di bandara Juanda pada Minggu (13/5) pukul 14.30 WIB. Meski berjalan tanpa sirene dan tak ada keriuhan warga, tapi warga Surabaya mahfum bahwa orang nomor satu di Indonesia itu sedang bergegas mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta itu.

Presiden Joko Widodo seharusnya menghadiri dua agenda di Jakarta pada Minggu siang, rombongan wartawan pun sudah berangkat ke lokasi acara pertama, namun di gerbang depan lokasi, rencana berubah, mobil yang mengantarkan wartawan berubah arah.

Awalnya tidak ada yang tahu mobil menuju ke mana, hingga akhirnya terkuaklah tujuannya menunju Pangkalan Udara Militer TNI AU Halim Perdanakusuma, pesawat Kepresidenan Indonesia-1 sudah bersiap di sana, membawa Presiden ke Surabaya.

Sejumlah wartawan secara mendadak ditunjuk maupun mengajukan diri untuk ikut rombongan Presiden. Bersama Presiden ada Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Sekretaris Negara.

Berbeda dari kunjungan kerja Presiden yang sudah terjadwal seperti biasa, para menteri maupun ajudan tidak tampak membawa tas barang, semua tampak hanya bergegas masuk ke pesawat. Wiranto pun hanya menyematkan tas kecil berwarna cokelat di lengan kirinya sementara Pratikno hanya mengenakan topi pet hitam.

Padahal Presiden baru saja meninggalkan bandara Juanda pada Sabtu (12/5) sekitar pukul 19.30 WIB setelah melakukan kunjungan kerja Presiden ke Pasuruan, Jawa Timur. Tak disangka 18 jam kemudian, Presiden kembali mendarat di tempat yang sama.

Tidak ada barisan warga di tepi jalan yang menyambut, tidak ada kerumunan pelajar sambil memegang bendera merah putih kecil yang menunggu di depan sekolahnya, tidak ada buku-buku, kain, atapun kaus yang dibagi-baikan dari mobil berpelat "Indonesia 1" sepanjang perjalanan dadakan itu.

Kunjungi TKP

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro. Di lokasi itu, sudah ada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Presiden ditemani Menteri Koordinator Politk dan Keamanan Wiranto, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan.

Presiden yang sudah membuka jas birunya sehingga ia hanya mengenakan kemeja putih itu tiba pukul 15.30 WIB. Awalnya ia tampak ragu memasuki GKI karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) masih "segar".

Masih ada nomor-nomor barang bukti dan bahkan ada sosok yang ditutupi kain putih. Potongan badan yang diduga kaki tampak sedikit terkuak dari kain putih tersebut. Presiden hanya sekitar 10 menit berada di bangunan GKI tersebut.

Lokasi kedua adalah Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna Surabaya.

Saat tiba di sana, bangunan depan gereja kelihatan terbakar seluruhnya, pohon-pohon di depan gereja pun menghitam, barisan sepeda motor yang parkir juga kosong, dan bau material maupun tubuh yang terbakar masih tersisa, plang gereja hangus tak tersisa.

Presiden tidak masuk ke bangunan GPPS itu. Ia hanya mengamati dari seberang jalan dan berbincang bersama dengan Wiranto, Tito, Hadi serta Budi Gunawan. Presiden tampak mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Tito Karnavian. Sesekali Presiden mengusap hidungnya. Entah apa yang diceritakan Tito Karnavian mengenai bangunan yang belakangan diketahui terkena ledakan bom paling besar dibanding dua gereja lainnya itu.

Setelah sekitar 15 menit berbincang dengan empat orang anak buahnya, Presiden lalu mengobrol sebentar dengan Risma, lantas melanjutkan perjalanan.

Kali ini RS Bhayangkara menjadi tujuannya. Presiden membesuk seorang korban ledakan bom di ruang perawatan intensif yang dirawat di sana.

"Semoga cepat sembuh ya," kata Presiden kepada korban yang ditunggui oleh seorang perempuan di sampingnya. Simpati dan semangat bisa jadi hal yang paling dibutuhkan korban dan keluarganya saat ini.

Lawan Terorisme

Dalam pernyataan resminya di dekat kantin RS Bhayangkara, Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu melawan terorisme.

"Kita harus bersatu melawan terorisme. Saya mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan nilai-nilai kebhinekaan," kata Presiden.

Presiden pun mengecam pelaku ledakan yang menggunakan dua anak di bawah umum menjadi pelaku bom bunuh diri.

"Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan yang menimbulkan korban anggota masyarakat anggota kepolisian dan juga anak-anak yang tidak berdosa, termasuk pelaku yang menggunakan dua anak berumur kurang lebih 10 tahun yang digunakan juga untuk pelaku bom bunuh diri," tegas Presiden.

Menurut Presiden, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun semua ajaran agama menolak terorisme dengan apapun alasannya.

"Tadi pagi saya sudah memerintahkan kepada Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan saya perintahkan untuk membongkar jaringan itu sampai ke akar-akarnya. Seluruh aparat negara tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini," tambah Presiden.

Ia mengimbau untuk seluruh rakyat di pelosok Tanah Air agar semuanya tetap tenang menjaga persatuan dan waspada. "Hanya dengan upaya bersama seluruh bangsa terorisme dapat kita berantas. Kita harus bersatu melawan terorisme dan terakhir marilah kita berdoa untuk para korban yang meninggal dunia. Semoga mereka mendapatkan yang terbaik di sisi Allah SWT dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan," ungkap Presiden.

Tidak lupa Presiden memberikan jaminan kepada para korban yang luka-luka agar diberi kesembuhan dan negara dan pemerintah menjamin semua biaya pengobatan dan perawatan para korban.

Menurut penjelasan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pelaku serangan bom ke tiga gereja di Surabaya adalah berasal dari satu keluarga dengan kepala keluarga adalah Dita Sopriyanto yang merupakan Ketua JAD (Jamaah Anshar Daulah) Surabaya.

Dita Sopriyanto (ayah) menggunakan mobil Avanza berisi bom berkekuatan besar dan meledakkan bom itu di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna. Dita pun tewas dalam aksinya.

Sedangkan istrinya, Puji Kuswati dan dua orang anak perempuan Fadilah Sari (12) dan Pamela Rizkita menggunakan bom pinggang yang diledakkan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro.

Sementara dua anak laki-laki pasangan Dita dan Puji yaitu Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16) menyerang gereja Katolik Santa Maria Tak Tercela dengan menggunakan bom yang dibawa di motor.

"Di Jatim ini sel yang bergerak yaitu JAD Surabaya yaitu melalui satu keluarga yang diduga Dita ini. Kami sudah lapor ke Presiden bahwa Polri, TNI, BIN, bergerak dan kami akan merapatkan barisan," tegas Tito.

Ada dua kelompok teroris yang disebut Tito yaitu Jamaah Anshar Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang keduanya merupakan pendukung utama ISIS. Di Indonesia, JAD ini didirikan oleh Aman Abdurahman yang sekarang ditahan di lapas Nusa Kambangan.

"Aksi ini kita duga motifnya, pertama adalah di tingkat internasional ISIS ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan baik dari Barat yaitu Amerika, Rusia dan lainnya sehingga keadaan mereka terpojok. ISIS lalu memerintahkan semua jaringannya di luar termasuk yang sudah kembali ke Indonesia untuk melakukan serangan," tambah Tito.

Alasan kedua, adalah mereka yang kembali dari Suriah atau yang tertangkap otoritas di Turki atau Yordania lalu kembali ke Indonesia. Jumlah yang sudah berangkat ke sana ada 1.100 orang lebih, dan 500 di antaranya dideportasi kembali ke Indonesia.

Alasan lain adalah pimpinan mereka sudah ditangkap karena terkait kasus pelatihan di Cianjur dan Aceh, juga terkait dengan peristiwa bom Thamrin sebagai dalang kasus Thamrin Jakarta 2016. Setelah yang diproses, digantikan sosok lain ditunjuk ketua JAD jatim Zainal Ansyori dan ditangkap lagi.

Karena pimpinannya ini ditangkap maka kelompok-kelompok ini mulai bereaksi untuk melakukan pembalasan, salah satunya membuat kerusuhan di Mako Brimob yang bukan hanya karena makanan tapi sudah ada kemarahan.

Lantas apa yang harus dilakukan? Salah satu yang diusulkan Tito adalah dengan adanya Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) UU No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Bila perlu kalau terlalu lama direvisi kami mohon ke bapak Presiden untuk mengajukan Perppu (UU Terorisme)," kata Tito.

Menurut Kapolri, revisi UU No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang memakan waktu pembahasan revisi lebih dari 1 tahun sudah terlalu lama.

"Karena kita tahu sel-selnya mereka tapi tidak bisa tindak mereka kalau mereka tidak melakukan aksi, UU 15/2003 ini sangat responsif sekali jadi kita bisa bertindak kalau seandainya mereka melakukan aksi atau jelas ada barang buktinya," ungkap Tito.

Padahal menurut Kapolri, para penegak hukum ingin lebih dari itu.

"Salah satunya kita bisa, negara atau institusi pemerintah atau insitusi hukum misalnya pengadilan menetapkan JAD dan JAT (Jamaah Anshar Daulah dan Jamaah Ansharut Tauhid) sebagai organisasi teroris lalu ada pasal yang menyebut kalau bergabung dengan organisasi teroris ini bisa diproses pidana, itu akan lebih mudah bagi kita," jelas Tito.

Ia memohon dukungan anggota DPR agar revisi UU Terorisme tidak berlarut-larut karena korban sudah berjatuhan.

"Negara membutuhkan dukungan lebih, terutama masalah pasal-pasal seperti mereka yang kembali dari Suriah ada 500 orang termasuk keluarga (pelaku bom Surabaya) ini, diduga. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak melakukan pidana, kalau mereka gunakan paspor palsu kita bisa proses hukum, tapi kalau mereka tidak melakukan apa-apa ya tidak bisa," tambah Tito.

Jadi apakah masih mau diam saja dan terkaget-kaget melhat aksi teroris? Saatnya melawan, melawan bersama-sama! 

Pewarta: Desca Lidya Natalia

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2018