Jakarta (Antara Babel) - Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat, baru pada Pemilu 9 Juli 2014 hanya mengikutsertakan dua pasangan nama calon, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo- Jusuf Kalla.

Menengok ke belakang, Pemilu Presiden dan Wapres pertama pada 5 Juli 2004 terdapat enam pasang bakal calon yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang diusung Partai Demokrat, PBB, dan PKPI; Abdurrahman Wahid-Marwah Daud Ibrahim yang dicalonkan oleh PKB; Wiranto-Salahuddin Wahid yang didukung Partai Golkar, Megawati Soekarnoputeri-Hasyim Muzadi yang dimunculkan oleh PDIP; Amien Rais-Siswono Yudohusodo yang ditopang PAN, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar yang disokong PPP.

Dari enam pasangan yang mendaftar ke KPU itu, pasangan Abdurrahman Wahid-Marwah Daud gagal melenggang menjadi calon resmi karena terjegal masalah kesehatan sehingga Pemilu 5 Juli 2004 diikuti oleh lima pasangan.

Suasana politik saat itu terasa panas lantaran terjadi ketegangan hubungan antara Megawati yang saat itu Presiden RI dan Susilo Bambang Yudhoyono yang mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Jusuf Kalla juga mengundurkan diri dari jabatan Menko Kesra.

Wiranto memenangkan konvensi Partai Golkar, yang merupakan konvensi pertama yang diselenggarakan partai politik di Indonesia, tetapi tidak didukung secara bulat dalam pencalonannya sebagai presiden yang dibuktikan dengan Jusuf Kalla yang juga tokoh Golkar tetapi berpasangan dengan yang lain, begitu juga dengan Siswono Yudohusodo
    
Pemilu 2004 itu harus berjalan dalam dua tahap karena tidak ada pasangan yang mendapatkan suara lebih dari 50 persen dari jumlah suara dengan sedikitnya 20 persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari 50 persen jumlah provinsi di Indonesia.

Wakil Presiden Hamzah Haz juga maju sebagai calon presiden yang berpasangan dengan Agum Gumelar yang saat itu menjabat Menteri Perhubungan. Suara warga ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) juga coba dipecah dengan munculnya nama Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan adik kandung Abdurrahman Wahid yakni Salahuddin Wahid.

Ketika itu, pasangan dengan nomor urut peserta 1 yakni Wiranto-Salahuddin Wahid mendapat 26.286.788 suara (22,15 persen), nomor urut peserta 2 Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi meraih 31.569.104 suara (26,61 persen), nomor urut peserta 3 Amien Rais-Siswono Yudohusodo menggaet 17.392.931 suara (14,66 persen), nomor urut peserta 4 Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla merebut 39.838.184 suara (33,57 persen), dan Hamzah Haz-Agum Gumelar hanya menggaet 3.569.861 suara (3,01 persen).

Saat itu dari 153.320.544 orang pemilih terdaftar terdapat sebanyak 122.293.844 orang (79,76 persen) yang menggunakan hak pilihnya. Dari mereka yang memberikan suara itu, KPU menetapkan suara sah sebanyak 119.656.868 suara (97,84 persen).

Dua pasangan yang mendapatkan suara terbanyak yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Megawati-Hasyim Muzadi bersaing kembali ke putaran kedua yang diselenggarakan pada 20 September 2004. Pemilu putaran kedua itu terdapat 150.644.184 orang pemilih terdaftar dan sebanyak 116.662.705 orang (77,44 persen) yang menggunakan hak pilihnya.

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla berhasil memenangkan pemilu setelah meraih 69.266.350 suara (60,62 persen) sedangkan Megawati gagal melanggengkan kekuasaannya setelah bersama pasangannya, Hasyim Muzadi, mengantongi 44.990.704 suara (39,38 persen). KPU menetapkan jumlah suara sah sebanyak 114.257.054 suara (97,94 persen).

Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 8 Juli 2009 diikuti oleh tiga pasangan. Calon petahana Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Gubernur Bank Indonesia Boediono. Pesaing lamanya, Megawati Soekarnoputeri berpasangan dengan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Jusuf Kalla mencoba peruntungan, melawan Yudhoyono, berpasangan dengan Wiranto.

Pasangan Yudhoyono-Boediono memenangkan pemilu dengan satu putaran setelah meraih 73.874.562 suara (60,80 persen), Megawati-Prabowo meraih 32.548.105 suara (26,79 persen), dan Jusuf Kalla-Wiranto hanya mendapatkan 15.081.814 suara (12,41 persen).

                                                                                              Sejarah baru
Sepuluh tahun pemerintahan Yudhoyono berakhir pada tahun ini, partainya pun tak kuasa untuk memiliki calon sendiri lantaran pada  Pemilu Legislatif 9 April lalu hanya mengantongi 10 persen suara dan 61 kursi DPR (10,89 persen) dari 560 kursi DPR RI. Hingga tulisan ini dibuat pada Senin (19/5) pukul 18.00 WIB, Partai Demokrat belum memutuskan untuk berkoalisi ke mana dan mendukung calon siapa.

Posisi tragis pun dialami oleh Partai Golkar yang meskipun berada pada posisi kedua dalam meraih suara terbesar dari rakyat pemilih yakni sekitar 14 persen atau 91 kursi (16,25 persen) dari 560 kursi DPR RI tetapi gagal mengajak partai lain untuk berkoalisi dengannya, terlebih turut mengusung Aburizal Bakri, bakal calon presiden Partai Golkar yang telah ditetapkan pada 2012 melalui Rapimnas partai berlambang beringin itu.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri pun enggan mencoba peruntungan setelah dua kali dikalahkan oleh Yudhoyono. Ia memberi mandat kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi bakal calon presiden dari partai pemenang Pemilu 9 April lalu. Figur Joko Widodo yang menurut Megawati meskipun kerempeng tetapi memiliki kekuatan seperti banteng, lambang partai itu.

Seperti telah diduga sebelumnya, Joko Widodo ternyata memang dipasangkan dengan Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden yang dicalonkan kembali sebagai Wakil Presiden. Pasangan itu diusung oleh PDIP, Partai NasDem, PKB, dan Partai Hanura.

Jusuf Kalla selepas kalah dalam pertarungan pada Pemilu 2009 berniat "pulang kampung" dan menjalankan tugas-tugas sosial. Ia pun kini masih menjalankan tugas sosial sebagai Ketua Pengurus Besar Palang Merah Indonesia dan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia. Soal pernyataan pulang kampung tersebut telah diklarifikasi setelah menjadi bakal cawapres, untuk berpasangan dengan Joko Widodo, bahwa selepas jadi Wakil Presiden kampungnya adalah Indonesia bukan hanya Makassar.

Sementara Prabowo Subianto yang gagal setelah berpasangan dengan Megawati pada Pemilu 2009, menjadi magnet bagi pencalonannya sebagai presiden pada pemilu tahun ini. Ia didukung oleh Partai Gerindra, PPP, PAN, PKS, dan Partai Golkar, bahkan oleh PBB yang tidak mendapat kursi di DPR RI.

Pengamat politik dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Syamsuddin Haris telah memprediksi hanya ada dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu Presiden 2014.

Dengan demikian bahwa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014 akan berlangsung satu putaran dan salah satu dari dua pasangan calon yang bersaing itu bakal mendapat lebih dari 50 persen suara sah.

Masing-masing pasangan boleh saja mengklaim sebagai pasangan yang paling mampu meraih suara terbanyak dari rakyat dan bisa membawa bangsa Indonesia pada perubahan yang lebih baik yang menyejahterakan rakyat.

Kemampuan mereka dalam mengemas program kerja dan komitmen untuk menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien yang terbebas dari berbagai skandal korupsi yang bakal menumbuhkan keyakinan rakyat secara besar.

Namun, rakyat harus benar-benar bisa memilih salah satu dari dua pasang secara cerdas dan cermat.

Jumlah pilihan memang tidak sebanyak dari dua pemilu sebelumnya tetapi dari dua pilihan itu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bangsa Indonesia kini menghadapi sejarah baru untuk memilih salah satu dari dua pasangan calon yang akan memimpin lebih dari 240 juta rakyat Indonesia untuk periode 2014-2019.

Pewarta: Oleh Budi Setiawanto

Editor : Aprionis


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2014