Pemilihan Presidan 9 Juli 2014, ujar Bejoe, merupakan hajat besar NKRI untuk menentukan pemimpin negeri ini lima tahun ke depan, dan pada Pilpres 2014 ini calon presiden hanya dua, yaitu Joko Widodo atau Jokowi yang diusung oleh PDI Perjuangan dan koalisinya, dan Prabowo Subianto yang diusung Partai Gerindra bersama koalisinya.
"Berdasarkan visi dan misi yang telah disampaikan untuk mencari simpati dari para konstituen Pilpres pada 9 Juli 2014 sangatlah beragam," katanya pula.
Guna memastikan kedua kandidat memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, Walhi melakukan survei, dengan hasil capres nomor 1 mencapai 13,5 persen peduli terhadap lingkungan. Sedangkan capres nomor 2 mencapai 43,5 persen dinilai peduli terhadap lingkungan.
Menurut Bejoe, survei ini dilakukan dengan melibatkan 1.920 responden (384 responden setiap kota) dengan sampling error 2,2 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen menggunakan metode multistage random sampling.
Riset ini dilakukan untuk memastikan upaya Walhi mendorong isu-isu lingkungan hidup menjadi isu publik, serta menjadi pembanding untuk status lingkungan hidup di Indonesia khususnya di daerah-daerah.
"Diharapkan dari kedua capres bisa melihat kondisi terkini lingkungan yang ada di negeri ini, baik itu soal pangan, air, tanah, sumberdaya alam dan lingkungan yang telah mengalami krisis akibat investasi yang rakus ruang," katanya lagi.
Selain itu, program yang digadang-gadang oleh pemerintah saat ini sebagai percepatan ekonomi yaitu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) justru dinilai Walhi makin mempercepat laju perusakan lingkungan hidup.
Karena itu, Bejoe mengajak pada debat capres 5 Juli 2014 dengan tema pangan, air dan lingkungan bisa dicermati bersama mana capres yang lebih pro atau peduli pada lingkungan, mengingat hampir semua daerah khususnya Provinsi Lampung persoalan pangan, air dan lingkungan telah mengalami krisis.
Kritis itu terjadi pada saat musim kemarau kota-kota di Lampung kekurangan air, dan areal pangan yang telah hilang akibat investasi berbasis rakus ruang, demikian Bejoe Dewangga.
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.