Depok (Antara Babel) - Ada dua pendapat berbeda tentang seberapa besar pengaruh debat calon presiden/wakil presiden dalam mendongkrak elektabilitas kedua pasang capres/cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.  
     
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa debat antar-kandidat calon presiden/wakil presiden (capres/cawapres) RI tak banyak memengaruhi elektabilitas kedua pasangan, khususnya bagi para pemilih yang belum menentukan pilihannya.

"Debat itu seperti khotbah di depan orang banyak. Tidak terlalu signifikan di kalangan swing voters (pemilih mengambang). Belum punya pengaruh banyak," kata Burhan sambil menunjuk contoh debat putaran keempat yang bertema pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan serta teknologi (Iptek).

Menurut Burhan, kedua cawapres telah memiliki pengalaman terkait tema debat yang cukup menarik melihat besarnya anggaran di sektor pendidikan. "Seharusnya perdebatan diarahkan pada sejauh mana pasangan-pasangan itu memiliki strategi guna meningkatkan alokasi SDM untuk daya saing, termasuk pembangunan karakter," katanya.

Namun, Juru Bicara Tim Pemenangan Koalisi Merah Putih, Tantowi Yahya berpendapat, pasca-debat capres elektabilitas Prabowo-Hatta terus meningkat. "Dampak debat Capres signifikan, rakyat menjadi tahu kualitas pemimpin yang sesungguhnya. Terbukti elektabilitas Prabowo-Hatta terus naik," katanya.

Politisi Golkar itu juga menambahkan jadi salah apabila ada yang mengatakan debat capres itu tidak mempengaruhi elektabilitas masing-masing pasangan capres dan cawapres. "Terbukti  debat putaran ketiga dengan tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional memberikan dampak yang sangat signifikan kepada Prabowo-Hatta," katanya.

Dia menambahkan, dari survei internal yang dilakukan pasca-debat, elektabilitas Prabowo-Hatta unggul di hampir seluruh provinsi. "Di seluruh provinsi naik, kenaikannya ada yang kecil dan besar. Kita unggul diantaranya di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera dan sebagian Sulawesi," ujarnya.

Sementara itu anggota tim sukses Prabowo-Hatta, Viva Yoga Mauladi menolak anggapan bahwa Hatta Rajasa kurang memberi dampak untuk menaikkan elektabilitas Prabowo.

Menurut dia, posisi cawapres, dalam hal ini Hatta, sangat strategis dalam meningkatkan elektabilitas Prabowo sebagai capres.

"Itulah mengapa dulu waktu memilih cawapres di kedua kubu cukup sulit," kata Viva yang juga menjabat Ketua DPP Partai Amanat Nasional itu sambil menyatakan bahwa dia tidak setuju atas hasil survei dari berbagai lembaga survei yang mengatakan cawapres tidak berhasil menaikkan posisi capres secara elektoral.

"Kan cawapres ini orang partai, apalagi Hatta Rajasa adalah ketua umum partai yang jelas mempunyai basis konstituen," ujar Viva.

Tentang jumlah suara sendiri, Viva yakin masyarakat yang menyukai sosok Hatta Rajasa baik 7,5 juta suara dari dalam PAN maupun dari luar partai, bakal memberikan suara signifikan guna memenangi Pilpres 9 Juli mendatang.

Debat capres-cawapres juga dinilai menentukan peningkatan elektabilitas pasangan capres-cawapres. Pasalnya pilihan akhir sebagian pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters) ditentukan sesuai hasil debat capres-cawapres.

Menurut Direktur Riset Cirus Surveyors Group, Kadek Dwita Apriani, tingkat golongan putih (golput) sesuai dengan surveinya pada akhir Mei lalu mencapai 30 persen. Angka tersebut didominasi oleh kalangan menengah ke atas di perkotaan.

"Mereka masih menunggu sejauh mana pemahaman dan pemaparan visi-misi capres-cawapres. Jadi debat capres-caswapres sangat menentukan elektabilitas pasangancapres-cawapres," katanya sambil menambahkan bahwa mayoritas swing voters berasal dari kalangan pemilih rasional yang umumnya berpendidikan tinggi.

"Kami juga melihat selisih elektabilitas kedua pasangan mulai menipis, sehingga debat capres bakal menentukan ke arah mana 30 persen swing voters menentukan pilihan," ujarnya.

Dia menyebutkan, pemilih di Indonesia dikategorikan dalam dua kelompok - pemilih rasional dan pemilih tradisional. Jika pemilih rasional masih menunggu hasil debat capres-cawapres, sebaliknya pemilih tradisional tak begitu terpengaruh dengan debat capres-cawapres. Mayoritas pemilih tradisional berasal dari kalangan menengah ke bawah. Pendidikan SMA ke bawah.

    
              Selisih makin menipis  
Popularitas dan elektabilitas pasangan capres/cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa kembali menggungguli pasangan nomor urut 2, Jokowi-JK. Hasil sigi Institut Survei Indonesia (ISI) menunjukkan, elektabilitas dan popularitas Prabowo-Hatta unggul 0,3 persen dari Jokowi-JK. ¿Prabowo sedikit unggul dibandingkan pasangan Jokowi-JK," kata  Direktur ISI, Haris Baginda.

Menurut dia, persentase tingkat popularitas di mata publik, Prabowo-Hatta memiliki angka 93,85 persen dan Jokowi-Jusuf Kalla 93,55 persen. "Untuk tingkat elektabilitas atau tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan Prabowo-Hatta 40,15 persen dan Jokowi-Jusuf Kalla sebesar 35,05 persen. Sementara warga Indonesia yang belum menentukan pilihan sebesar 24,80 persen," katanya.

Hasil survei ini, katanya, dapat dijadikan alat bukti yang sangat kuat bagi para kandidat bahwa masyarakat mendukungnya. "Hasil survei ini dapat digunakan untuk menentukan pasangan yang paling tepat secara taktis dan strategis untuk dijadikan acuan.
      
Pengamat politik dari UIN Pangi Syarwi menilai naiknya elektabilitas Prabowo disebabkan calon presiden nomor urut 1 itu saat melakukan debat capres jarang menyerang lawan politik apalagi meremehkan.

"Selain itu, iklan Prabowo menancapkan kembali citra tertentu ke dalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kontestan yang memiliki posisi khas. Akibatnya terbentuk  makna politik dalam pikiran para pemilih, sehingga menetapkan memilih Prabowo-Hatta," kata Pangi.

Dia menilai Prabowo-Hatta bisa meyakinkan rakyat menengah ke bawah untuk memilihnya. Pasangan ini juga mampu membentuk opini publik lewat iklan terutama TV, karena TV dianggap lebih cepat menggiring pemilih swing voter sehingga mereka ini beramai ramai memilih pazangan nomor urut satu ini.

"TV adalah instrumen paling efektif untuk membentuk opini publik. Contoh, awalnya publik takut pada Prabowo karena dianggap otoriter dan tempremental atau emosional. Namun seiring berjalannya waktu ternyata sosok Prabowo dicitrakan humoris dan cair, tidak seperti yang disangkakan dari awal," katanya.

Faktor lainnya, ujarnya, pasangan Prabowo-Hatta suaranya naik karena tim suksesnya mampu memunculkan isu-isu yang dinggap penting dan dapat diterima, menarik dan mudah diserap oleh pemilih rakyat awam sekalipun seperti bocor, macan Asia, negara berdiri di atas kaki sendiri, negara disegani dan bermartabat.

"Prabowo-Hatta juga mampu menguatkan tokoh sentral vote getter seperti artis, yang  berhasil mempengaruhi pilihan publik. Vote getter seperti  Rhoma Irama, Anang Hermansyah dan Ahmad Dhani punya pengaruh. Apalagi nanti kalau SBY effect jelas besar pengaruhnya terhadap trend kenaikan elektibilitas Prabowo-Hatta," katanya.

Yang tidak kalah pentingnya menurut Panginadalah, Prabowo dianggap belum pernah berjanji.  "Kasus HAM yang diolah jadi komoditas politik justru menghancurkan elektabilitas Jokowi sendiri," katanya.

Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar Bakry menilai elektabilitas Prabowo-Hatta yang semakin mendekati pilpres semakin naik merupakan hal yang wajar. Selain publik menyukai capres dengan kombinasi latarbelakang militer-sipil ada beberapa hal yang membuat faktor Prabowo-Hatta bisa saja mengalahkan Jokowi pada 9 Juli mendatang.

"Mesin politik partai koalisi bekerja dengan sangat baik. Itu salah satu faktor penting yang membuat elektabilitas Prabowo-Hatta mengalahkan Jokowi-JK," kata Umar sambil menambahkan mesin politik Jokowi-JK mengalami penurunan performa yang akhirnya dimanfaatkan kubu lawan.

Selain itu, katanya, masyarakat sudah tak tertipu dengan citra yang merakyat ala Jokowi-JK. "Masyarakat bisa melihat Jokowi-JK selalu menggunakan kendaraan yang mahal untuk transportasi sehari-hari, sedangkan menggunakan Bajaj dan becak hanya jika diliput media," ujarnya.

Memilih Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK merupakan hak pilih dan kebebasan publik. Seperti yang selalu didengungkan orang-orang bijak,  pasangan capres/cawapres manapun yang akan dipilih, pilihlah dengan cerdas dan sesuai hati nurani.

Pewarta: Oleh Illa Kartila
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026