"Kami belum memiliki dokter khusus untuk menangani napi yang sakit. Saat ini kami bekerja sama dengan Puskesmas Tua Tunu, dimana biaya pengobatannya masih ditanggung oleh lapas sendiri,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tua Tunu Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, Hudi Ismo mengatakan hingga kini lapas itu belum memiliki dokter khusus untuk menangani napi yang sakit.

"Kami belum memiliki dokter khusus untuk menangani napi yang sakit. Saat ini kami bekerja sama dengan Puskesmas Tua Tunu, dimana biaya pengobatannya masih ditanggung oleh lapas sendiri," ujarnya di Pangkalpinang, Kamis.

Ia menyebutkan, untuk mengecek kesehatan napi para dokter dari Puskesmas akan datang setiap Rabu. Biaya pengobatannya dikeluarkan pihak lapas tanpa memungut dari para napi.

Selain itu, dalam penanganan kesehatan saat ini pihaknya masih mengalami kendala karena belum terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan, sehingga pihaknya harus mengeluarkan biaya khusus untuk pengobatan napi yang sakit.

"Saat ini semua napi di sini belum terdaftar dalam program BPJS, sehingga menjadi kendala dalam penanganan kesehatan mereka. Berbeda dengan tahun kemarin, jika ada narapidana yang sakit parah maka akan langsung kami rawat inap ke rumah sakit dengan biaya dari Jamkesmas," jelasnya.

Dikatakanya, dari seluruh penghuni yang ada di lapas itu, sebanyak tujuh orang mengidap HIV/AIDS. Selain itu, di lapas tersebut juga banyak napi yang mengidap penyakit lain seperti TBC, gangguan jantung, kolestrol dan berbagai penyakit lainnya.  
"Untuk napi yang mengidap penyakit parah seperti HIV dan TBC kami telah menyediakan ruangan khusus. Namun bagi napi yang sakit ringan seperti flu tetap ditempatkan di ruang biasa," ujarnya.

Selain tidak memiliki dokter khusus, pihaknya juga kekurangan petugas sipir untuk mengawasi napi yang jumlahnya mencapai 586 orang. Jumlah keseluruhan pegawai lapas hanya 78 orang.

"Idelanya satu petugas sipir mengawasi 10 orang, namun saat ini satu sipir harus mengawasi hingga 25 orang. Walaupun kami kekurangan orang, sejauh ini baik pembinaan maupun pengamanan cukup berjalan lancar tanpa hambatan," ujarnya.

Pewarta: Pewarta: Try Mustika Hardi
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026