"Penderita DBD yang mengakibatkan kematian pada semester satu atau Januari - Juni 2014 sebanyak empat orang terdiri dua anak-anak dan dua orang dewasa,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto mengatakan, kasus kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di daerah itu mengalami penurunan yang cukup signifikan.
"Penderita DBD yang mengakibatkan kematian pada semester satu atau Januari - Juni 2014 sebanyak empat orang terdiri dua anak-anak dan dua orang dewasa," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Mulyono Susanto di Pangkalpinang, Rabu.
Ia menjelaskan, pada semester satu tahun lalu ada 14 kasus dan semester dua ada sebanyak 12 kasus kematian akibat DBD.
"DBD tidak hanya mengenai anak-anak saja sebab dari jumlah kasusnya, sebagian penderitanya adalah orang dewasa," ujarnya.
Mulyono mengatakan, untuk kasus penderita DBD pada tahun ini mengalami penurunan sebanyak 423 orang.
"Pada tahun ini sebanyak 129 orang dan pada 2013 semester satu sebanyak 552 orang yang mengidap penyakit DBD," ujarnya.
Ia mengimbau, meskipun kasus kematian DBD mengalami penurunan tetapi masyarakat harus tetap waspada terhadap virus DBD yang dapat mengakibatkan kefatalan bagi nyawa seseorang.
"Meskipun angka penderita DBD menurun namun pemerintah harus tetap bersiaga dan terus berupaya untuk menjadikan Babel sebagai provinsi eliminasi atau bebas DBD," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, selain memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait DBD, pihaknya juga sudah menurunkan tim untuk membunuh jentik DBD ke rumah-rumah warga.
"Upaya pengendalian yang efektif dan efisien terhadap penyakit DBD melalui terbebasnya setiap penampungan air di setiap rumah atau bangunan dari jentik nyamuk aedes agepty," ujarnya.
Mulyono menjelaskan, dari 308.404 rumah dan bangunan yang ada di Babel, sebanyak 69.104 atau 22,41 persen yang berhasil diperiksa, sementara yang bebas jentik DBD 57.721.
"Masyarakat juga diimbau untuk memelihara kesebersihan lingkungan dengan indikator nasional minimal 95 persen dari semua rumah dan bangunan bebas dari jentik nyamuk atau angka bebas jentik yang terpelihara secara terus menerus dan merata ke semua wilayah," ujarnya.
Menurutnya, kasus kematian pasien DBD pada umumnya terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat tentang warning sigh pada fase kritis penderita.
"Ketika demam tinggi mulai hilang setelah hari ke tiga, namun kondisinya memburuk seperti lemah, lesu, dan tangan serta kakinya terasa dingin, masyarakat harus mewaspadai kondisi ini karena penderita bisa mengalami syok," ujarnya.
Ia menambahkan, bila mengalami tanda-tanda tersebut pasien DBD harus segera mendapatkan pertolongan medis.
"Bila syok tidak diatasi secara dini, pasien DBD bisa mengalami kebocoran plasma dan pendarahan pada saluran cerna yang bisa mengakibatkan kematian," ujarnya.
Pewarta: Oleh Septi ArtianaEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.