"Kalah atau menang nanti tergantung Demokrat, kalau Demokrat abstain ya kalah (Pilkada secara langsung, red.)," katanya dalam diskusi "Polemik RUU Pilkada: DPR Pilih Mana, Suara Rakyat atau Suara Partai?"
Jakarta (Antara Babel) -  Partai Demokrat menjadi aktor utama yang memegang kendali putusan rancangan undang-undang tentang pilkada pada sidang paripurna DPR, Kamis (25/9), kata pengamat politik dari pemerhati pemilu dari Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti.

"Kalah atau menang nanti tergantung Demokrat, kalau Demokrat abstain ya kalah (Pilkada secara langsung, red.)," katanya dalam diskusi "Polemik RUU Pilkada: DPR Pilih Mana, Suara Rakyat atau Suara Partai?" di Jakarta, Rabu.

Demokrat berubah sikap mendukung pilkada secara langsung dengan mengusung 10 syarat yang diminta untuk diakomodasikan dalam RUU Pilkada.

Sebelumnya, Demokrat (148 kursi) bersama partai dari Koalisi Merah Putih lainnya, seperti Partai Golkar (106), PPP (38), PAN (46), PKS (57), dan Partai Gerindra (26) mendukung dikembalikannya pilkada oleh DPRD.

Partai politik yang mendukung pilkada secara langsung, antara lain PDI Perjuangan (94), PKB (28), dan Partai Hanura (17) dan dengan ditambah suara Demokrat mencapai 287 suara pendukung, sedangkan partai politik pendukung pilkada oleh DPRD sebanyak 273 kursi.

Namun, Demokrat bisa menarik dukungan dengan alasan karena 10 poin syarat tersebut tidak disetujui.

Menurut Ray, strategi Demokrat tersebut merupakan permainan politik cuci tangan.

"Saya khawatir pilkada oleh DPRD akan menang kalau Demokat abstain karena 10 poin yang mereka usung itu tidak diakomodir. Kalau itu terjadi, itu hanya akal-akalan Demokrat karena mereka lebih senang pilkada oleh DPRD hanya agar tidak kehilangan muka di masyarakat maka dia naikkan tawaran," katanya.

Ia mengemukakan Demokrat sebagai aktor utama terkait dengan keputusan dewan atas RUU tersebut.

"Demokrat jadi aktor utama. Mereka cari muka ke publik bahwa mereka dukung pilkada langsung. Tapi mereka abstain kalau semua syaratnya tidak dipenuhi seolah-olah RUU pilkada yang lebih baik, lebih dari sekadar secara langsung dengan ada perbaikan itu tidak tercapai," katanya.

Ia mengemukakan tentang pentingnya strategi politik agar jangan sampai Demokrat memainkan politik cuci tangan tersebut.

"Dia naikkan isunya lalu kalau tidak dipenuhi semuanya dia abstain tapi masyarakat melihat bahwa Demokrat tidak salah. Jangan sampai Demokrat memainkan ini. Kalau ada beberapa poin ditolak, maka Demokrat harus akomodir. Namanya juga politik kan negoisasi," kata Ray.

Pewarta: Oleh Monalisa
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026