"Kredit atau bantuan dana yang disediakan 'taoke' memang tampak seperti membantu, tapi sesungguhnya itu malah akan menjerat nelayan sendiri," kata Kabid Perikanan Tangkap DKP Babel, Hidayat di Pangkalpinang, Jumat.
Hidayat mengatakan, praktek peminjaman modal oleh tengkulak di kalangan nelayan saat ini sudah cukup mengkhawatirkan.
"Kami memang belum memiliki data hingga berapa persen ketergantungan nelayan kita pada tengkulak, tapi menurut laporan penyuluh kami di lapangan, praktek peminjaman pada "taoke" sudah sangat menjamur di kita," ujar dia.
Selama ini, banyak nelayan yang meminjam modal dari tengkulak dengan beban bunga yang sangat tinggi.
"Karena kebanyakan nelayan tidak memiliki akses pada lembaga keuangan konvensional, maka mereka lari pada pilihan yang paling dekat dan mudah, yakni tengkulak," kata dia.
Sayangnya, kata Hidayat, tengkulak membebankan bunga yang cukup besar dibanding yang seharusnya sehingga banyak nelayan yang tidak bisa membayar dan terpaksa meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Oleh sebab itu, DKP berusaha mengatasi hal tersebut dengan mendorong perkembangan koperasi nelayan melalui program pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP).
PUMP membantu setiap kelompok nelayan senilai Rp100 juta yang langsung diserahkan melalui rekening bank kelompok nelayan.
"PUMP merupakan embrio dari koperasi, oleh sebab itu kami ingin mendorong pendirian PUMP ini dengan melakukan sosialisasi intensif," katanya.
Dengan adanya PUMP, diharapkan masyarakat nelayan di Babel dapat lebih mandiri dalam mengelola keuangan untuk pemberdayaan kelompok mereka.
Editor : Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.